SWASEMBADA DAGING SAPI DAN KERBAU TEKAN IMPOR 10%

MedanBisnis – Medan. Program swasembada daging sapi dan kerbau (PSDSK) 2014 ditujukan untuk meningkatkan kemampuan produksi lokal dan secara bertahap akan menurunkan impor menjadi maksimal di kisaran 10% pada tahun tersebut.
Berbagai kegiatan yang terfokus dan upaya terobosan telah dilakukan diantaranya sarjana membangun desa (SMD), lembaga mandiri mengakar di masyarakat (LM3), insentif penyelamatan sapi betina produktif dan kegiatan lainnya.

“Untuk meningkatkan kemampuan usaha peternakan diperlukan dukungan baik dari pemerintah, perbankan, swasta maupun masyarakat. Dengan begitu maka PSDSK 2014 akan bisa tercapai,” ujar Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI, Syukur Iwantoro, pada kegiatan Bazaar Intermediasi Peternakan Ruminansia dan Perbankan Propinsi Sumut 2011, di Lapangan Benteng, Medan, Rabu (21/12).

Dari hasil sensus PSDSK 2011, populasi sapi potong secara nasional sebanyak 14,8 juta ekor, sapi perah 597,2 ribu ekor, dan kerbau 1,3 juta ekor. Sementara produksi daging sapi lokal berdasarkan estimasi hasil sensus tersebut sebanyak 292,45 ribu ton. Sedangkan tingkat konsumsi daging sapi masyarakat mencapai 449,31 ribu ton.

Namun diakui Syukur, salah satu persoalan mendasar yang dihadapi petani peternak di Indonesia dalam mengembangkan usaha peternakan adalah keterbatasan akses terhadap sumber permodalan serta terbatasnya agunan yang dimiliki peternak dan adanya prinsip kehati-hatian perbankan dalam penyaluran skim kredit.

Padahal, pemerintah menyediakan bantuan pembiayaan untuk peternakan melalui skim kredit program Kredit Usaha Pembibitan Sapi (KUPS), Kredit  Ketahanan Pangan dan Energi (KKPE) dan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Namun realisasi dari beberapa kredit tersebut masih rendah.
Untuk itu diharapkan semua pihak dapat membantu mengatasi berbagai permasalahan tersebut.

Dukungan pemerintah daerah dalam peningkatan penyaluran skim kredit dapat dilakukan melalui sosialisasi kredit program dinas terkait di daerah, percepatan pertumbuhan Perusahaan Penjamin Kredit Daerah (PPKD), kredit program bersaing dengan dana-dana hibah/BLM pemerintah sehingga perlu dievaluasi dan diawasi pelaksanaannya agar lebih efektif. “Mempercepat kemandirian petani peternak dapat difasilitasi melalui skim kredit bersubsidi,” kata Syukur.

Ia berharap, Bank Indonesia (BI) dapat menerapkan standar penilaian yang berbeda kepada bank yang menyalurkan kreditnya ke sektor pertanian. “Usaha sektor pertanian sangat unik dan menyangkut penyediaan pangan masyarakat Indonesia serta menghasilkan multiplier effect yang luas sehingga perlu mendapat perhatian serius dari bank,” jelasnya.

Syukur berharap, acara bazaar ini dapat meningkatkan komitmen pemerintah dan perbankan terhadap sektor peternakan. Ia juga berharap masyarakat berminat melakukan usaha peternakan yang tinggi sehingga dapat mempercepat pencapaian target pembangunan peternakan.

Sementara Plt Gubsu Gatot Pudjo Nugroho melalui Asisten II Ekbang Dzaili Azwar mengatakan, potensi peternakan sapi di Sumut masih cukup besar dan mampu memenuhi konsumsi daging sapi di Sumut. “Bahkan, kita juga berpotensi untuk mewujudkan swasembada daging sapi dan kerbau 2014 mendatang. Karena itu, bazaar ini harus dimanfaatkan peternak dan pengusaha untuk memecahkan berbagai masalah terutama dalam permodalan,” ujar Dzaili. (elvidaris simamora)
sumber: http://www.medanbisnisdaily.com

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *