HORTINDO TARGETKAN BEBAS BENIH HORTIKULTURA IMPOR 2015

MedanBisnis – Jakarta. Asosiasi Perusahaan Benih Hortikultura Indonesia (Hortindo) menargetkan Indonesia akan bebas dari ketergantungan terhadap benih hortikultura impor pada 2015, dengan terus meningkatkan produksi benih secara bertahap sejak 2010.
“Memang sangat berat untuk memenuhi target tersebut, mengingat sampai saat ini Indonesia masih tergantung terhadap benih impor untuk jenis tanaman tertentu seperti jagung manis dan kubis,” kata Ketua Umum Hortindo, Afrizal Gindow di Jakarta, Senin (19/12).

Afrizal mengatakan, produksi benih jagung manis dan kubis selama ini sebenarnya sudah dipasok produsen dalam negeri, akan tetapi belum mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik. Akibatnya, Indonesia masih mengimpor 500 ton benih jagung manis dan 150 ton benih kubis per tahun.

Padahal, kata Afrizal, benih hortikultura yang dikembangkan di luar negeri belum tentu merupakan bibit unggul karena dikembangkan di negara yang iklimnya berbeda. Bahkan, kalaupun bisa tumbuh, kemungkinan besar tanamannya rentan terhadap penyakit.

“Sekarang ini Kementerian Pertanian memiliki prosedur ketat dalam mengatur karantina perdagangan benih tanaman dari luar negeri termasuk di dalam negeri (antar pulau), tujuannya untuk menghindarkan terjadinya penyebaran penyakit,” ujar dia.

Afrizal mengatakan, benih yang didatangkan dari luar negeri biasanya kena biaya administrasi, sehingga lebih mahal Rp5.000 sampai Rp10.000 per lima gram dibanding bibit yang dikembangkan di dalam negeri, namun karena petani kekurangan pasokan benih, mau tak mau menggunakan benih impor.

“Sebagai gambaran produksi benih nasional pada 2011, diperkirakan mencapai 6.000 – 7.000 ton, sedangkan kebutuhan di dalam negeri mencapai 10.000 – 11.000 ton, berarti 4.000 ton masih harus diimpor,” ungkap dia.

Padahal, peluang bisnis benih hortikultura sangat tinggi. Setiap tahunnya, nilai penjualan benih hortikultura terus mengalami kenaikan. Seperti pada 2011 ini, penjualan benih diperkirakan mencapai Rp600 miliar, sedangkan pada 2012 diperkirakan mampu mengalami kenaikan 10 sampai 15 persen.

Hortindo berharap dapat menambah anggotanya dari kalangan produsen benih kecil dan menengah. Sebab, saat ini tercatat baru 14 perusahaan benih berskala besar yang baru bergabung.

“Kalau mereka dapat bergabung kami akan memberikan dukungan teknis tentunya tetap melalui perhitungan bisnis dan komersial, sehingga produksi mereka dapat ditingkatkan,” ujarnya.

Afrizal mengatakan, peluang investasi di sektor benih untuk Indonesia masih sangat besar, mengingat, tingkat konsumsi sayuran penduduk Indonesia sangat besar, ditambah dengan meningkatnya kesadaran kesehatan, serta populasi penduduk yang masih besar.

“Produksi bibit di dalam negeri 80 persen masih berasal dari Pulau Jawa sehingga sangat terbuka luas bagi daerah lain untuk mengembangkannya,” ujar dia.

Dijelaskan, pengembangan benih ke depan tidak bisa lagi dilakukan dengan cara-cara konvensional, akan tetapi juga harus menerapkan teknologi tinggi agar mendapatkan hasil yang optimal.

Menurut dia, menjadi tugas produsen benih untuk mencari benih yang tahan terhadap virus penyakit namun juga memiliki produksi yang lebih baik, kalau kita tergantung impor selain membuat tidak kreatif juga belum tentu benih itu lulus uji. “Untuk menghasilkan benih unggul membutuhkan waktu riset 3,5 – 4 tahun melalui proses persilangan. (ant)
sumber: http://www.medanbisnisdaily.com

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *