SUMUT TINGKATKAN EKSPOR BUAH DAN SAYUR

Pemerintah Provinsi Su­mut cq Dinas Pertanian Pro­vinsi Sumut melakukan upaya-upaya dalam memenuhi kebutuhan ekspor sayur dan buah ke luar negeri. Berbagai upaya sedang diupayakan, baik dari segi pemenuhan infrastruktur, pemberian bantuan bibit dan peralatan tani, serta di bidang pemasaran hasil tani dilaku­kan. Hal itu disampaikan oleh Ka­dis Pertanian Sumut, M Roem dalam memfasilitasi ra­pat eksportir dan pelaku usaha tani didampingi oleh dinas pertanian kabupaten kota di kantor Dinas Pertanian Sumut, Rabu (14/12).

Tahun 2014, Indonesia di­targetkan akan memenuhi ke­butuhan sayur dan buah Si­nga­pura 30 persen. Untuk meng­gapai angka itu, menurut Roem langkah yang harus di­ambil adalah mempertahankan produksi secara kontinuitas, stabilitas harga, pengepakan atau kemasan, promosi, dan mengadakan perjanjian kerjasama. “Kelompok tani harus dijamin kelangsungan usaha­nya, namun para eksportir yang telah membantu juga ha­rus diperhatikan,” kata Roem.

Seperti yang sering terjadi di kalangan petani sendiri. Saat tidak adanya hubungan dan ika­tan kerjasama dengan eks­portir, maka petani cenderung menjual hasil tani sesuka hati. “Saat harga di pasar local naik, tidak mau menjual hasil tani ke­pada eksportir. Sedangkan saat jatuh harga di pasar local, malah mencari eksportir,” ka­tanya. Diharapkan kondisi se­perti itu tidak lagi terjadi, se­hingga kuantitas produk eks­por bisa distabilkan dan ber­kesinambungan.

Namun, kondisi yang terjadi di beberapa kelompok tani ju­ga bisa membuat efek jera. Se­perti yang disampaikan oleh perwakilan kelompok tani Lang­kat, Saiman. Beberapa kali kelompok taninya di Langkat harus menuai kecewa.

“Saat ada bantuan benih dan telah dibudidayakan dan menghasilkan, justru tidak ada yang menampung atau harga jauh di bawah. Sedangkan ada lagi lahan yang disuruh disediakan sebanyak 10 ha untuk menanam terong ungu, justru tidak ada bibit,” kata Saiman menyampaikan keluhannya.

Saat ini, beberapa produk yang menjadi unggulan dan diminati oleh Singapura misalnya Pisang Barangan. Komo­di­tas ini mendapat apresiasi dari konsumen di Negara Singa ini. Namun, saat pisang barangan memiliki bintik hitam di kulitnya, akan segera dirijek. Sebab, menurut konsumen dinegara tersebut pisang tersebut tidak hygiene.

“Perlu penanganan yang khu­sus agar pisang barangan dari Sumut sesuai perminta­an,” kata Roem.

Hal itu juga dibenarkan oleh seorang eksportir yang ha­dir dalam pertemuan tersebut, Birin. Ia menyampaikan bah­wa melon dan sawi putih asal Sumut juga masih digemari dan memiliki pasar di Si­ngapura dan Taiwan. “Vietnam masih unggul memenuhi kebutuhan di Taiwan, namun jika Su­mut dan Indonesia lebih se­rius, akan bisa mengimbangi,” kata Birin. Birin juga sepakat de­ngan Roem, agar produk yang dihasilkan disesuaikan dengan kebutuhan pasar yang ada. Sehingga produksi yang dihasilkan juga tidak sia-sia. Namun memberikan profit ba­gi petani, pengusaha dan pe­merintah.
sumber:http:// medan.jurnas.com

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

2 Responses to SUMUT TINGKATKAN EKSPOR BUAH DAN SAYUR

  1. Pingback: 新越谷 ジム

  2. Pingback: high performing tech transformation

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *