ANAK DIBAWAH 15 TAHUN RENTAN TUBERCULOSIS

MEDAN (Berita) : Dinas Kesehatan Sumatera Utara mencatat jumlah penderita Tuberculosis (TB) anak-anak dibawah 15 tahun mencapai 5 sampai 6 persen. Dari 5 persen itu, 63 persennya adalah Balita.

“Contohnya, misalkan ada 100 penderita TB maka 5 persennya itu sebanyak 50 orang. Nah, 50 orang ini sebanyak 63 persennya atau 30 orang adalah balita,” ucap Sukarni yang menjabat Kasie Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Dinkes Sumut, Senin (12/12), di ruangannya.

Semua data itu berasal dari negara berkembang termasuk Indonesia yang juga Sumatera Utara. Anak-anak yang menderita TB bisa saja tertular dari orangtuanya atau keluarga terdekat, termasuk juga lingkungan sekitar. Namun, resikonya lebih besar kalau ada penderita TB di dalam satu rumah dan tidak diobati.

Sukarni menyebutkan, strateginya dalam mencari penderita TB, yaitu bila ada ditemukan satu penderita di rumah, maka dicari penderita yang kontak di rumah tersebut, kemudian ditelusuri sampai ke lingkungan sekitar.

“Sumut merupakan daerah endemis TB, maka itu bisa terjadi penularan TB pada anak. Selain itu pola hidup keluarga, status gizi anak dan penderita di dalam rumah,” ujarnya. Apabila orangtua menderita TB, lanjutnya, maka resiko tertular lebih besar pada anaknya. Bila ada kasus BTA (+) atau kasus TB Positif di dalam satu keluarga, maka balita segera diberi obat pencegah propilaxis untuk mencegah penularan TB.

Sedangkan pencegahan TB pada bayi, katanya, bayi diberikan immunisasi BCG untuk memberi kekebalan terhadap bayi dan balita agar jangan terkena TB. Kalaupun kena TB, tidak menjadi TB berat dengan ciri-ciri seperti kesadaran menurun dan berat badan yang jauh menurun.

Akan tetapi, dalam penanggulangan TB, ungkap Sukarni, masih ada orang yang menganggap kalau batuk berdahak disebabkan oleh guna-guna atau mistik dan membawanya ke orang pintar (dukun).

“Tapi, kumannya ‘kan tidak selesai dan menular, itu bisa mengenai satu keluarga. Ini yang terkadang membuat program penanggulangan penyakit TB ini tidak tuntas,” sebutnya.

Sukarni memaparkan dalam pertemuan yang membahas penyakit menular terutama TB yang dilaksanakan Menkokesra dan dihadiri Dinkes Kab/kota dan Pemda tiap provinsi, beberapa waktu lalu, disepakati bahwa pelayanan kasus TB disediakan oleh pihak kesehatan.

Sedangkan untuk menggerakkan masyarakat, tokoh masyarakat dan lainnnya diharapkan peran pemerintah setempat, terutama kesejahteraan sosial. “Jadi tahun 2012 digiatkan kembali gerakan terpadu TB Nasional (Gerdunas TB) yang dilaksanakan masing-masing pemda setempat,” ujar Sukarni.

Sementara, target penanggulangan TB tahun 2012, katanya, menurunkan minimal 75 persen penderita TB. “Obat TB gratis selama 6 bulan. Kalau ada yang meminta bayaran, beritau dinkes Sumut ataupun kab/kota setempat,” pungkas Sukarni. (don)
sumber: http://beritasore.com

This entry was posted in Berita, Informasi Kesehatan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *