PETANI PROTES JAGUNG IMPOR

MEDAN–MICOM: Petani jagung di Sumatra Utara akan berunjuk rasa memprotes pemerintah yang masih terus membuka kran impor sehingga mengakibatkan harga jagung petani anjlok Rp800/kg atau tinggal Rp1.700 per kg.

“Unjuk rasa dimaksudkan untuk mengingatkan pemerintah tentang nasib petani jagung karena protes dengan cara sopan yakni menyurati pemerintah tidak digubris,” kata Ketua Himpunan Petani Jagung Indonesia (Hipajagin), Sumut, Jemaat, di Medan, Minggu (11/12).

Harga jagung yang tinggal Rp1.700 per kg akhir pekan ini dari sebelumnya Rp2.500 per kg sudah sangat merugikan petani karena harga jual itu di bawah harga produksi. Harga jagung yang ideal dewasa ini adalah di kisarann Rp2.500 per kg.

Penurunan harga jagung di Sumut bertahap sejak satu bulan terakhir menyusul “banjirnya” pasokan jagung impor di daerah itu.

Dia menejelaskan, Hipajagin pada tanggal 1 Desember 2011 sudah menyurati Pelaksana tugas Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho, meminta impor dihentikan tetapi sampai sekarang belum ada jawaban.

Sementara, jagung impor khususnya dari India terus masuk dalam jumlah cukup besar melalui Pelabuhan Belawan.

Dalam surat ke Plt Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho yang ditembuskan ke Kepala Dinas Pertanian, Dinas Perdagangan dan Perindustrian serta Badan Ketahanan Pangan itu, Hipajagin juga meminta Pemprov Sumut dan terkait lainnya termasuk Hipajagin bersama-sama membuat penetapan harga dasar jagung untuk daerah itu.

Referensi harga jagung itu bertujuan untuk bisa menekan aksi spekulasi pedagang yang bisa menekan harga dan sekaligus bisa dijadikan Pemerintah Provinsi Sumut untuk “bersuara” ke Pemerintah Pusat berkaitan perlu tidaknya impor.

“Tapi surat itu belum direspons. Ada kesan pemerintah tidak peduli karena nyatanya jagung impor khususnya dari India semakin banyak masuk Sumut,” katanya.

Harga jagung yang anjlok itu diyakini kuat akan semakin membuat petani enggan bertanam jagung sehingga luas areal dan produksi komoditas itu pada tahun depan bakal terancam turun lagi seperti tahun ini.

Kalau ketergantungan terhadap impor semakin besar, kondisi itu merupakan “bom waktu” yang akhirnya merugikan pemerintah.

“Pemerintah harusnya cepat tanggap, apalagi kemungkinan untuk harga semakin turun cukup besar karena Sumut juga sudah mulai memasuki masa panen,” katanya.

Panen jagung di Sumut akan semakin banyak pada Januari 2012 dan berlangsung hingga April 2012.

“Kalau harga jagung jatuh lagi saat masa panen, maka keenggan petani bertanam komoditas itu dikhawatirkan semakn besar dan itu menyulitkan pemerintah sendiri karena ketergantungan impor semakin besar,” katanya.

Dewasa ini, luas areal tanaman jagung di Sumut berkurang karena sebagian petani meninggalkan tanaman itu dengan alasan harga jualnya yang berfluktuasi dengan tren melemah khususnya saat masa panen.

Kepala Dinas Pertanian Sumut, M.Room.S, mengakui, produksi jagung Sumut tahun ini turun 137.190 ton dari tahun lalu atau tinggal 1,240 juta ton akibat luas areal panen tanaman itu yang menurun.

Meski produktivitas tanaman jagung per hektare naik menjadi 50,89 kwintal per hektare, katanya, tetapi produksi jagung pada angka ramalan (aram) III tahun ini di bawah angka tetap (atap) 2010 karena nyatanya luas tanaman itu menurun.

Luas areal panen jagung di Sumut tahun ini turun 31.052 hektare atau tinggal 243.770 hektare dari atap 2010 yang sudah mencapai 274.822 hektare.

Padahal di tahun 2010, luas areal tanaman mengalami kenaikan dari 2009 yang masih 247.782 hektare dengan produksi yang juga naik menjadi 1.377.718 ton.

Anggota DPD RI utusan Sumut Parlindungan Purba mengatakan, akan mengajak Hipajagin dan petani jagung serta instansi terkait bertemu membahas soal jagung tersebut.

“Harus ada solusi cepat. Unjuk rasa sebaiknya tidak perlu karena itu harus ada pertemuan petani, Hipajagin dan pejabat yang berkompeten menangani kasus tersebut,” katanya.

Kalau bisa duduk bersama, katanya, masalahnya akan menjadi jelas dan DPD RI bisa merekomendasikan sikap termasuk menghentikan impor kepada menteri terkait.

Impor harusnya tidak menimbulkan kerugian petani, ujar Parlindungan yang juga Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumut. (Ant/OL-3)
sumber: http://www.mediaindonesia.com

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *