PER EKOR RP 32.000

Udang eiko demikian warga Perairan Panipahan, Rokan Hilir (Rohil), Riau menyebutnya.  Sementara untuk warga Sei Berombang Kecamatan Panai Hilir, Labuhanbatu, Sumatera Utara (Sumut) menyebutnya dengan udang getak.
Di Panipahan sendiri, para nelayan setiap harinya selalu mendapatkan udang tersebut manakala menarik jala dan jaringnya di laut. Bahkan, ribuan ekor didapat dari hasil melautnya yang kemudian dijual kepada para penampung ikan.  Harga jualnya pun bervariasi sesuai bentuk tubuh udang yang didapat. Misalnya saja, untuk ukuran 8,2 cm atau setara dengan 2,5 ons dihargai sebesar Rp 32.000 per ekornya.


Di sana penjualan dilakukan dengan sistem hitungan jumlah ekor udang. Bukan dengan volume berat. “Ya, kita membeli udang hasil tangkapan para nelayan. Harganya tergantung besar kecilnya ukuran udang per ekornya. Karena udang kita beli dengan harga per ekor bukan kiloan,” ucap Atat, salah seorang penampung udang eiko di kawasan itu kepada MedanBisnis, belum lama ini.
Kata Atat, setiap harinya dermaga miliknya selalu menjadi tempat bersandar perahu para nelayan yang ingin menyetor dan menjual udang hasil tangkapannya.

Atat sendiri sedikitnya menampung 500 hingga 1.000 ekor udang dari para nelayan per harinya. Untuk harga beli, dia mematok sekitar Rp 32.000 per ekor untuk udang dengan panjang tubuh 8,2 cm. “Kalau ukuran itu langsung cong. Harganya rata-rata Rp 32.000,” paparnya.
Sedangkan untuk jenis ekspor, menurutnya terbagi menjadi tiga size, size atau ukuran A sepanjang 32 cm, size B sepanjang 24 cm dan size C sepanjang 18 cm.

Di kawasan itu, Atat lah penampung udang terbesar selain empat penampung lainnya. Jika dia menampung perhari sekira 500-an ekor maka penampung lainnya kemungkinan hanya mendapatkan udang milik para nelayan masing-masing kisaran 200-an ekor dalam sehari.
Atat sendiri, akan menjual kembali udang hasil yang dikumpulkan itu setiap 3 hari sekali. Atau maksimalnya sepekan. “Agar lebih banyak, saya mengumpulnya selama seminggu atau sepuluh hari baru dijual kembali,” paparnya.

Tempat penolakan udang-udang tersebut, kata Atat di antaranya Kota Tanjungbalai dan Medan. Sedangkan untuk ekspor biasanya ke Malaysia. Dalam mengumpul udang tersebut, Atat menempatkannya di beberapa bak/kolam penampungan. Dan dengan tingkat kualitas air dan udara yang baik sesuai kebutuhan udang. Dengan begitu, udang dapat bertahan hidup bahkan hingga dua pekan.

Untuk dapat mempertahankan kehidupan udang itu, Atat memeliharanya di dalam bak-bak penampungan. Sedikitnya 30-an bak telah disediakannya di dermaganya. Ukuran setiap bak tersebut sekitar 2,5 x 7 meter per segi. Dengan ukuran bak seperti itu, dalam menampung sedikitnya 150-an ekor udang eiko.

Menurut dia, memelihara udang-udang itu tak sukar. Cukup memperlakukan udang dengan menjaga ketersediaan udara dan menjaga kebersihan air. Karena itu, dalam setiap bak harus disediakan alat pengatur oksigen. Selain itu, dalam sepekan mesti mengganti air dengan memanfaatkan air laut yang ada di kawasan itu. Dan, untuk pakannya sendiri, Atat memberikan ikan ramin dan beberapa jenis ikan lainnya yang telah diracik kecil-kecil.

Dilihat dari kemampuan udang yang relatif lama itu, sebenarnya memiliki potensi untuk dapat dilakukan pembudidayaannya. Sebab, Atat yang hanya dengan cara memelihara di bak dapat mempertahankan kelangsungan hidup udang hingga dua pekan.

“Untuk udang yang berkualitas dan nilai jual yang tinggi mesti dalam kondisi segar dan hidup. Sehingga, kita melakukan pemeliharaan dengan cara menempatkan di dalam bak-bak.  Dengan pemeliharan itu, kita juga dapat melakukan pembesaran kembali udang yang tidak masuk ukuran standard permintaan. Jadi, daripada dibuang atau digoreng lebih baik kita besarkan lagi,” ujarnya seraya menambahkan udang eiko terdapat di kawasan laut 10 mil dari daratan.

Lantas mengenai laba yang diperoleh, Atat mengaku tiap ekor udang eiko yang dijualnya laba yang diperoleh berkisar Rp 2.000 per ekor atau sesuai ukuran udang. Sebab, semakin besar ukuran udang akan dapat dijual dengan harga yang lebih tinggi. “Sedikitnya keuntungan yang saya peroleh Rp 2.000 per ekor,” jelasnya lagi.

Meski tak sebanyak di Panipahan, udang eiko juga banyak ditemukan di perairan Sungai Berombang, Labuhanbatu. Namun, volume tangkapan nelayan sedikit. “Ya, di perairan Sungai Berombang  juga ada, tapi volumenya sedikit,” ungkap Zaid Harahap, Camat Panai Hilir, Labuhanbatu.

Katanya, nelayan di kawasan itu juga melakukan pemeliharan udang dengan pola pembuatan kolam dan keramba. Tapi, karena kurangnya pengetahuan teknis pemeliharan maka tak jarang hasilnya jauh dari harapan.

Padahal, kata Zaid menduga, jenis udang eiko itu bisa dibudidayakan terlebih dengan pola keramba. Bila itu dilakukan dengan baik, maka sangat membantu perekonomian warga setempat. Sehingga, ketika hasil tangkapan ikan para nelayan tak dapat diharapkan maka hasil tambak udang tersebutlah yang menopang ekonomi keluarga nelayan setempat.

Bahkan, kata dia, untuk lokasi tambak cukup memungkinkan dilakukan di areal-areal para nelayan. Karena, manakala terjadi air pasang cukup memiliki debit air yang memadai untuk memenuhi kebutuhan pasokan air laut.  “Kami berharap Pemerintah khususnya Departemen Perikanan bersedia melakukan penelitian dan menganalisis pengembangan jenis udang eiko tersebut di perairan Sungai Berombang. Kalau memang memungkinkan untuk dibudidayakan masyarakat di sini siap untuk melakukannya,” ucap Zaid.

“Nelayan masih lemah dalam hal teknis. Sehingga, tidak mengetahui secara detail pembudidayaannya. Apakah memang memungkinkan untuk dibudidayakan di Sei Berombang atau tidak. Untuk itu, diharapkan adanya penelitian dan usaha analisis lebih jauh tentang budidayanya,” kata Zaid lagi.

Menyahuti hal itu, Pemkab Labuhanbatu menyambut baik usulan pihak Kecamatan Sei Berombang. Namun, disebabkan hal itu terkait masalah teknis, maka dibutuhkannya kordinasi lintas sektor yang memiliki peranan erat dalam hal melakukan penelitian spesies ikan, khususnya udang. “Itu dibutuhkan penguasaan teknis,” ujar Abdurahman, Kabag Humas Pemkab Labuhanbatu.

Sementara waktu, katanya, Pemkab khususnya Dinas Perikanan dan Kelautan setempat belum memiliki program khusus untuk hal itu. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan menjadikan hal itu sebagai program pengembangan perikanan di daerah itu.
Hanya saja, dia mengimbau masyarakat nelayan untuk mengajukan permohonan pengusulan dilakukannya penelitian dan survei tentang peluang dilakukannya budidaya udang Eiko di kawasan itu. Dengan begitu, Pemkab berusaha untuk mem-followup usulan tersebut kepada Dinas Perikanan Sumatera Utara dan Departemen Perikanan RI di Jakarta.
“Silakan memajukan usulan penelitian agar didukung untuk menjadi usulan ke pihak yang lebih memiliki kemampuan teknis terkait penelitian berbagai jenis ikan. Termasuk ke Dinas Perikanan Sumut dan Departemen Perikanan,” tandasnya. (fajar dame harahap)
sumber: http://www.medanbisnisdaily.com

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *