ALERGI PADA ANAK MENINGKAT 3 KALI LIPAT

Dalam 10 tahun terakhir, penyakit alergi pada anak meningkat tiga kali lipat di negara berkembang. Timbulnya penyakit ini akibat pengaruh faktor genetic (turunan) dan faktor lingkungan sepertiĀ  alergen, infeksi, polutan dan iritan.
Hal ini disampaikan Lily Irsa, Dr, SpA (K), dalam ceramah kesehatan bertajuk “Mengenal Penyakit Alergi pada Anak” yang diadakan RSU Permata Bunda, Klinik Spesialis Bunda bekerjasama dengan Abbott Nutrition, Sabtu pagi (10/12) dihadiri undangan kaum ibu dari sejumlah perusahaan swasta dan BUMN di Medan.

Lily menjelaskan, penyakit alergi yang muncul akibat reaksi yang menyimpang dari normal terhadap rangsangan dari luar tubuh seperti makanan, debu , obat-obatan dan sebagainya hanya mengenai anak yang mempunyai bakat alergi yang disebut atopic. Bakat atopic atau alergi itu diturunkan oleh salah satu atau kedua orangtuanya.

Beberapa jenis penyakit alergi pada anak antara lain Asma Bronkhial atau Bengek, Rinitis Alergika yaitu gejala alergi pada mukosa hidung, Urtikaria yakni kelainan alergi pada kulit hingga berbentuk bentol merah disertai gatal , Dermatitis Atopik atau gejala eksim di pipi, siku dan tepi pinggir anggota gerak bawah hingga selangkangan, konjungtivitis alergika berupa kelainan pada kedua mata dan terjadi beruang ditandai gatal kemerahan, banyak keluar airmata dan penglihatan silau dan terasa ada yang mengganjal di mata. Kemudian alergi makanan yang berdampak pada tumbuh kembang anak.

Lily menambahkan, untuk mengetahui penyakit alergi pada anak, diperlukan identifikasi pencetus alergi tersebut. Bila bersumber dari susu sapi maka sebaiknya harus dihindari protein susu sapi dan produknya. Namun bagi anak yang masih diberi ASI maka si ibu pantang protein susu sapi.

Sebagai gantinya adalah susu formula terhidrolisis ekstensif, formula asam amino dan formula keledai. Sedangkan makanan padat yang dibuat sendiri dengan menghindari susu dan priduknya.
Bila pencetusnya telur maka anak penderita alergi harus dihindarkan dari mengkonsumsi telur dan makanan yang menggunakan telur sebagai salah satu bahannya, misal kue, mie, biscuit dan sebagainya. “HIndari juga makanan siap pakai yang labelnya tercantum Albumin binder, coagulant, egg white, egg yolk or yellow, emulsifier globulin, lecithin, livetin, lysozyme, ovalbumin, ovamuchin, ovamucold, ovovitellin, powdered egg, viotellin whole egg,” saranya.

Menurut Lily, anak dengan alergi makanan tertentu (susu, telur) dapat toleran di kemudian hari. Namun bila alergi terhadap makanan laut atau kacang, alergi ini cenderung akan menetap. Anak dengan 1 jenis makanan dapat mengalami alergi terhadap jenis makanan lain dan anak dengan dermatitis atopic dapat menjadi asma di kemudian hari.

Sementara itu, dalam sambutan pembukaan ceramah, dr. Syaiful Sitompul, Direktur RSU Permata Bunda memaparkan derajat kesehatan sebuah keluarga ditentukan 4 faktor yaitu perilaku (gaya hidup), lingkungan, sarana dan prasarana serta faktor genetika. (diur)
sumber: http://www.medanbisnisdaily.com

This entry was posted in Berita, Informasi Kesehatan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *