GUBSU RESMIKAN PUSAT PELATIHAN PETANI KOPI DI SIMALUNGUN

Medan, (Analisa). Plt Gubsu Gatot Pujo Nugroho meminta PT Indo Cafco dapat meningkatkan SDM petani kopi. Perusahaan modal asing itu juga diharapkan bisa membuka peluang pasar agar kesejahteraan petani kopi meningkat.
“Saya menyambut baik adanya fasilitas pusat pelatihan ini. Tapi tentu saja kita akan sangat kecewa jika tempat ini tidak mampu meningkatkan produktivitas petani dan tidak bisa menyejahterakan para petani kopi,” ungkap Plt Gubsu dalam sambutan tertulis yang dibacakan Kepala Badan Koordinator Penanaman Modal Sumut, H. Salman Ginting pada peresmian Pusat Pelatihan Petani Kopi di Kecamatan Pematang Silima Huta, Simalungun, Selasa (6/12).

Dikatakan, investasi asing menjadi salah satu prioritas bagi kemajuan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. PT Indo Cafco yang sudah beroperasi di Sumut sejak 2003, tiga tahun berikutnya mampu mengembangkan kegiatan ekspor kopi. Kendati demikian, Pemprov Sumut tetap akan memonitor perkembangan pusat pelatihan yang dimotori perusahaan tersebut.

Ekspor Kopi

Di tempat sama, Manajer Arabica PT Indo Cafco Nick Watson menyebutkan, Sumut mampu mengekspor 60 ribu ton kopi per tahun. “Yang lebih utama bukan pada kuantitas, tetapi lebih pada kualitas.”

Terkait peresmian pusat pelatihan itu, Nick menyebut jika pihaknya terpanggil untuk membantu sektor swasta dalam meningkatkan perekonomian masyarakat.

Tiga hal yang difokuskan, yakni untuk meningkatkan produktivitas dan tarap hidup ptenai, kesinambungan tanaman kopi, dan membantu para petani kopi untuk mendapatkan sertifikat produk.

Dengan adanya sertifikat produk, imbuh Nick, maka hasil kerja petani kopi dapat bersaing di pasarNew York. Apalagi komoditas kopi asal Sumut memiliki kekhasan yang tidak bisa digantikan oleh hasil petani negera manapun.

Meski berupaya membantu petani dari tahap pembibitan, pemupukan, hingga pascapanen, namun PMA itu belum berencana membangun pabrik kopi. “Kami tetap menghormati kebijakan pemerintah setempat,” ungkapnya.

Disinggung wartawan soal target produksi yang akan dicapai pada 2013, Nick enggan merincikan. Sama halnya ketika ditanya besaran nilai investasi yang dikhususkan bagi kesejahteraan petani di Indonesia. “Indonesia mendapat porsi terbesar dari pembiayaan IFC,” katanya singkat.

Monopoli Pasar

Saat temu pers, Ketua Kelompok Tani Mekar Sari, Kecamatan P Damanik, Ngatio mengatakan, meskipun sudah setahun Indo Cafco membantu pemberdayaan SDM para petani melalui berbagai pelatihan, namun ia dan para petani lainnya tidak berkewajiban menjual hasil kopinya kepada perusahaan tersebut.

Namun jika para petani sudah benar-benar mampu menghasilkan produksi yang tinggi, lanjut Ngatio, bukan tidak mungkin Indo Cafco akan memonopoli pasar dari kopi para petani. “Sekarang belum, entah nanti.”

Ngatio yang pada hari itu mendapat penghargaan dari Indo Cafco, mengakui sebelum mendapat binaan dari perusahaan itu, produktivitasnya sangat rendah dan menganggap tanaman kopi hanya selingan dibanding hasil pertanian lainnya.

Namun sekarang, setelah merasakan manfaat dan keberhasilan dari komoditas kopi, ia bersama anggota kelompoknya lebih serius dan menempatkan kopi sebagai tanaman utama.

Hal senada diungkapkan Saneria Siregar yang pada saat itu mendapat penghargaan Petani Wanita Teladan. Menurutnya, setelah mendapat pelatihan dan pendampingan, ia bisa merincikan aliran dana keluar dan saldo dari keuntungan bertani kopi.

Kini ia juga merasakan nikmatnya meraup keuntungan dari hasil penjualan kopi berkualitas dengan harga jual tinggi. Selain menanam kopi di lahan 1 hektar miliknya, ia juga mendapat keuntungan dari profesinya sebagai sub agen. (rio)
sumber: http://analisadaily.com

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

1 Response to GUBSU RESMIKAN PUSAT PELATIHAN PETANI KOPI DI SIMALUNGUN

  1. Pingback: Buy Glo Extracts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *