IBU HAMIL DAN BAYI DIMINTA WASPADAI MALARIA

MEDAN (Waspada): Ibu hamil dan bayi diminta waspada terhadap nyamuk anopheles. Nyamuk tersebut  membawa kuman malaria yang sangat berbahaya bagi ibu hamil dan bayi yang mendapat gigitan  nyamuk tersebut.

Pasalnya, malaria dapat menimbulkan komplikasi seperti demam tinggi, lahir mati, keguguran  (aborsi spontan), anemia, bayi berat lahir rendah, dan kelahiran prematur.

“Malaria ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk anopheles betina. Penularan terjadi,  jika nyamuk anopheles menggigit orang yang sakit malaria, kemudian menggigit orang sehat. Maka  orang sehat itupun terkena malaria. Biasanya nyamuk ini menggigit sejak matahari tenggelam  hingga matahari terbit,” sebut Kadis Kesehatan Sumut Candra Syafei melalui Kasi Pengendalian  dan Pemberantasan Penyakit Dinkes Sumut Sukarni, Rabu (7/12).

Dia menuturkan, demam tinggi yang ditimbulkan dari penyakit malaria ini, dapat menyebabkan  keguguran atau anak dalam kandungan menjadi cacat dan dapat menyebabkan kematian pada anak  yang belum lahir. “Ibu hamil yang menderita malaria juga dapat menimbulkan kematian pada ibu  hamil, serta kelahiran bayi dengan berat badan rendah yang nantinya berisiko kematian yang  lebih tinggi,” ujarnya.

Banyaknya dampak yang ditimbulkan malaria terhadap ibu hamil dan bayi, lanjutnya, perlu peran  dari masyarakat seperti memastikan semua ibu hamil mendatangi bidan desa untuk mendapatkan  kelambu. “Mendorong ibu hamil dan keluarga agar ibu hamil serta keluarganya atau bayi yang  dilahirkan selalu tidur di kelambu,” katanya.

Selain itu, tokoh masyarakat juga dapat mengajak ibu hamil yang mengalami gejalagejala  malaria untuk segera meminta pengobatan dari petugas kesehatan, agar tidak terjadi malaria  yang lebih berat yang bisa menyebabkan komplikasi. “Mari bersamasama kita lindungi masyarakat  kita dari malaria,” tutur Sukarni.

Berdasarkan data di Dinkes Sumut, jumlah ibu hamil yang ditemukan dengan kasus malaria dari 33  kabupaten/kota sejak Januari sampai September 2011 sebanyak 442 orang. Kasus tertinggi  ditemukan di Nias dengan 256 kasus, Deli Serdang dan Mandailing Natal masingmasing 55 kasus.  Namun, kasusnya tidak ditemukan di Medan. Sedangkan jumlah ibu hamil yang diskrening sebanyak  83.827 dari target 115.543.

Mengantisipasi halhal yang tidak diinginkan, Dinkes Sumut sudah mendistribusikan obat anti  malaria kepada 21 kabupaten/kota endemis yang didalamnya juga termasuk wilayah pemekaran.  (h02)
sumber: http://waspadamedan.com

This entry was posted in Berita, Informasi Kesehatan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *