DITUNGGU GEBRAKAN 100 HARI PEMIMPIN KPK BARU

JAKARTA – Pemimpin Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang baru harus segera mengaudit penanganan kasus-kasus besar dan sensitif yang selama ini mandek. Paling tidak, selama 100 hari ke depan harus ada gebrakan KPK untuk membongkar kasus-kasus tersebut.

Hal itu dikatakan Koordinator Divisi Investigasi Indonesia Corruption Watch (ICW) Agus Sunaryanto, kepada SH di Jakarta, Sabtu (3/12).

Ia menyatakan beberapa kasus yang harus menjadi prioritas KPK untuk dibuka ialah kasus Century dan kasus korupsi Wisma Atlet SEA Games 2011 di Palembang, Sumatera Selatan. Selain itu juga kasus mafia pajak Gayus Tambunan yang hingga kini tidak jelas penanganannya.

Dia mengungkapkan, beberapa perusahaan yang pernah disebutkan Gayus juga tidak disentuh sama sekali. Selain itu, buron kasus cek pelawat Nunun Nurbaeti juga tidak dapat ditangkap. “PR (pekerjaan rumah) lain ialah bagaimana mencari solusi menangkap Nunun Nurbaeti,” katanya.

Agus menyatakan pertanyaan-pertanyaan publik soal keganjilan-keganjilan penanganan tersebut harus bisa dijawab dalam 100 hari kepemimpinan Abraham Samad. “Harus ada progres dalam 100 hari. Yang masih tahap penyelidikan segera limpahkan ke penyidikan,” ujarnya.

Dia menambahkan, audit kinerja juga sangat penting dilakukan, karena ini terkait kinerja para penyidik. ”Perlu dikhawatirkan selama ini, dalam kasus-kasus besar dan sensitif itu, penyidik tidak memberi laporan semestinya kepada pemimpin sehingga penanganan kasus tidak berkembang,” tambahnya.

Mantan anggota Panitia Seleksi Calon Pemimpin KPK Fadjroel Falakh menyatakan, para pemimpin KPK yang baru terpilih harus memperkuat pengawasan internal lembaga tersebut.

Mandeknya sejumlah kasus, menurut dia, terkait kerja penyidik. Ketidakprofesionalan penyidik dapat terlihat dari keluhan Nazaruddin dan sejumlah tersangka korupsi yang mengatakan ada keterangan-keterangan yang tidak muncul di Berita Acara Pemeriksaan (BAP), terutama keterangan yang menyangkut kekuasaan.

Tak Terkait HMI

Komisi III DPR, Jumat (2/12) sore memilih Abraham sebagai Ketua KPK periode 2011-2015. Keputusan itu diambil secara voting oleh 56 orang dari unsur pemimpin dan anggota Komisi III asal sembilan fraksi.

Abraham hampir mendapat dukungan penuh anggota Komisi III dengan perolehan 43 suara. Dia unggul dibanding Muhammad Busyro Muqoddas yang sebelumnya duduk sebagai Ketua KPK (lima suara) dan Bambang Widjojanto (empat suara) yang difavoritkan publik. Menyusul nama dari kalangan jaksa dan kepolisian, Zulkarnain (tiga suara) dan Adnan Pandu Praja (satu suara).

Abraham adalah pemimpin paling muda dibanding empat pemimpin lain. Saat ini dia berusia 45 tahun. Dia juga satu-satunya calon yang berasal dari daerah. Ia lahir, besar, dan bekerja di Makassar, Sulawesi Selatan.

Muncul sinyalemen terpilihnya Abraham semata-mata untuk mengamankan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum karena kebetulan Abraham berlatar sama, yakni dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Namun, anggapan itu dipatahkan anggota Komisi III dari Fraksi Persatuan Pembangunan Ahmad Yani. “Ndak-lah. Ini jalurnya beda dan ini terkait dengan pemberantasan korupsi. Jangan dipikir sesama HMI bisa aman,” tegasnya.

Hal senada dikemukakan Syarifuddin Suding asal Fraksi Hanura yang menyatakan tidak ada kolerasi pemberantasan korupsi atau penegakan hukum tebang pilih karena berlatar belakang organisasi yang sama.

Pemberantasan korupsi merupakan urusan negara yang harus dipertanggungjawabkan bagi rakyat luas, bukan segelintir kepentingan. “Tidak ada kaitannya. Ini urusan negara. Soal korupsi tidak ada kaitan dengan HMI,” tegasnya.

Memperkuat hal itu, anggota Komisi III DPR dari Fraksi Golkar Nudirman Munir menyatakan Abraham tidak menjadi penguasa penuh di KPK, tetapi ada pemimpin lain. Atas dasar itu, Nudirman pun menjamin latar belakang yang sama tidak akan bisa mengamankan Anas.

“Meskipun Abraham Samad menjadi Ketua KPK tetapi kan masih ada pemimpin KPK lain. Tidak jamin sesama HMI bisa mengamankan Anas. Jangan sampai lokalisasi masalah pada orang tertentu,” imbuhnya.

Anggota Komisi III Fraksi PDI Perjuangan Dedi Gumilar menilai terpilihnya Abraham tidak dalam tujuan itu. Tetapi, lanjutnya, fraksi-fraksi di DPR yang menyatakan opsi C berharap Abraham bisa menuntaskan kasus Bank Century seperti janjinya ketika seleksi yang diperkuat dengan pakta integritas.

“Saya tidak lihat itu. Bahkan, Abraham Samad telah berjanji akan mundur bila dalam satu tahun tidak bisa membongkar kasus Century. Begitu juga dengan kasus-kasus lainnya, termasuk kasus Nazaruddin yang diduga melibatkan Anas,” tambahnya.
sumber: http://www.sinarharapan.co.id

This entry was posted in Berita, Berita Pilihan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *