BANYAK BPR BANGKRUT GARA-GARA PEMILIK MENIPU NASABAH

MedanBisnis – Jakarta. Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Indonesia banyak yang bermasalah dan ditutup karena kelakuan buruk pemiliknya. Bank Indonesia (BI) memandang perlu sebuah aturan khusus untuk mempertegas komitmen pemiliknya.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution mengemukakannya di acara Launching dan Sosialisasi Buku Generic Model Apex BPR dan Buku Model Bisnis BPR di Gedung BI, Jakarta, Senin (5/12). “Kita memahami faktor BPR tidak maju bahkan bangkrut. Banyak BPR yang sakit kita tutup. Semakin lama kita akan semakin tegas. Karena lalai, BPR menjadi tidak bener dan malah menipu nasabah. Nanti nasabah pada lari,” kata Darmin.

Menurut Darmin, BPR menjadi sakit dan ditutup sangat erat kaitannya dengan kelakukan pemiliknya. Adanya “godaan” untuk melakukan penyelewengan menjadi hal yang kerap terjadi.
“Itu yang paling banyak. Ini godaan paling sulit di masyarakat kita,” tuturnya.

Jika pemiliknya sudah melakukan tindak kecurangan dan terjadi kredit macet maka akan diciptakan kredit-kredit fiktif. “Itu awal bencana dari BPR,” katanya.

Berdasarkan data BI, saat ini terdapat 1.163 BPR dengan 4.122 jaringan kantor. Total aset per Oktober sebesar Rp53,53 triliun, kredit Rp40,26 triliun dan simpanan (dana pihak ketiga) Rp36,46 triliun.

BI meluncurkan dua buku panduan bisnis dalam mendukung perkembangan industri Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Kedua buku tersebut adalah Buku Generic Model Apex dan Model Bisnis BPR.”Buku-buku tersebut diluncurkan sebagai referensi bagi masyarakat dan perbankan di dalam mendirikan dan juga meningkatkan layanan BPR,” tambah Darmin.

Buku Generic Model Apex BPR berisi pedoman umum dalam menginisiasi pembentukan dan pelaksanaan operasional Apex BPR. Sedangkan buku Model Bisnis BPR, berisi pedoman bagi pengelolaan bisnis BPR yang sehat dan berkesinambungan.

Untuk tahap awal, buku Generic Model Apex BPR ditujukan sebagai panduan dalam pembentukan dan pelaksanaan Apex BPR bagi Bank Pembangunan Daerah (BPD) yang bertindak sebagai Apex. Hal tersebut dilakukan sebagai tindak lanjut atas pencanangan program BPD Regional Champion. Selanjutnya, katanya, akan dikaji kemungkinan model Apex BPR di mana bank umum selain BPD bertindak sebagai Apex Bank.”Kehadiran lembaga Apex merupakan bentuk sinergi yang ideal untuk bersama-sama melayani UMKM, sehingga meminimalisasi terjadinya persaingan usaha yang tidak sehat antara bank umum dan BPR,” kata Darmin.

Dia  mengemukakan BI terus mendorong perkembangan  BPR menjadi bank yang fokus pada kegiatan ekonomi di daerah dengan mendorong BPD menjadi bank pengayom (Apex Bank) BPR.

Keberadaan BPD sebagai Apex Bank, lanjut Darmin sangat diperlukan bagi pengembangan BPR yang sangat terbatas kemampuan secara likuiditas dan aset.”Bank Apex diperlukan karena kalau BPR memberikan kredit ke UMKM akan ada mismatch, sehingga perlu bank pengayom,” katanya.

Direktur Kredit, UMKM dan BPR Bank Indonesia Edy Setiadi mengatakan, peran BPR sampai saat ini di kredit mencapai 5% dari total kredit dengan jumlah 8 juta rekening atau 23% dari total rekening kredit, sementara rekening penabung mencapai 3 juta dengan rata-rata tabungan Rp 10 juta.”Dengan kondisi seperti ini, sudah selayaknya BPR dipertahankan, dengan fokus pada usaha masyarakat di daerah,” katanya.

Menurut Edy, sampai saat ini sudah ada tiga BPD menjadi Apex BPR, yaitu Bank Jatim, Bank Nagari dan Bank Kepri dan akan disusul BPD Kalsel yang memiliki 23 BPR binaan.

Ketua Harian Perbarindo Joko Suyanto mengatakan dengan adanya Apex BPR maka BPR merasakan memiliki induk yang menghubungkan dengan industri perbankan nasional sehingga tidak termarginalkan dalam mendorong ekonomi nasional. (dtf/ant)
sumber: http://www.medanbisnisdaily.com

This entry was posted in Berita, Berita Pilihan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *