MEMBANDINGKAN BUDAYA BATAK TOBA DAN TIONGHOA

Oleh: Yusrin Lie. Benarkah budaya Patriarchal atau budaya berdasarkan garis keturunan Ayah cenderung menjadikan perempuan sebagai subordinat dari lelaki? Benarkah perempuan selalu didiskriminasi dalam berbagai adat dan budaya yang lebih menguntungkan kaum lelaki dan mereka tidak berdaya?
Dalam Novel Amang Parsinuan karya Lucya Chriz, alih-alih Lucya melukiskan ketertindasan kaum Hawa yang diidentikkan dengan kaum lemah, yang ruang lingkup tidak jauh dari dapur, kasur dan sumur. Dia malah menyodorkan melalui budaya Patriarchal Batak Toba, wanita melakukan sebuah counter attack tanpa kekerasan.

Serangan balik dari perempuan, dalam Novel ini, Roma, adalah serangan khas wanita. Lembut, tanpa kekerasan tapi merupakan pukulan telak. Ibarat ilmu bela diri taichi, dengan kelemahlembutan dan memanfaatkan tenaga musuh untuk mengalahkan musuh. Kekerasan tidak perlu dibalas dengan kekerasan. Kekerasan dapat dipatahkan dengan kelemahlembutan. Kebencian dapat dikalahkan oleh cinta kasih. Roma “memanfaatkan” adat budaya Batak Toba yang mensyaratkan orangtua harus mangadati, yaitu melangsungkan prosesi adat sebagai tanda, mereka telah resmi sebagai pasangan suami isteri.

Sebagai simbolnya pasangan suami isteri itu harus diulosi. Apabila sepasang suami isteri belum manggarar adat, yaitu belum melakukan kewajibannya untuk mangadati, kelak jika anaknya ingin menikah, anak tersebut tidak boleh mangadati. (hal 96-97). Lebih lanjut lagi, karena Lomo (tokoh utama pria) belum bercerai dengan Roma (tokoh utama wanita), sehingga apabila Lomo meninggal dunia maka Pinta, isteri ketiga Roma, tidak berhak untuk mangadopi yaitu mengurusi jenazah Lomo. Lomo dan Pinta menikah secara tidak resmi dan belum diadati. Roma masih merupakan isteri resmi Lomo, meskipun mereka telah berpisah secara tidak resmi dan tidak dinafkahi lahir dan batin oleh Lomo. Menurut adat budaya Batak Toba, orang yang belum diadati tidak akan diparsangapi atau tidak dihormati meskipun harta kekayaan melimpah. (hal 98-99).

Kejelian Lucya Chriz mengangkat tema ini, patut diajukan jempol. Ini bukan sekadar simbol perlawanan perempuan terhadap budaya Patriarchal lelaki. Ini juga bukan gerakan feminisme yang menuntut hak kesetaraan antara pria dan wanita. Hal ini lebih menyangkut martabat, harga diri, marwah dan jati diri yang terusik oleh dominasi pria. Dalam bahasa Hidayat Banjar, dia memperumpamakan “Pertarungan David melawan Goliath”. Secara logika manusia, David atau Daud tidak mungkin mengalahkan Goliath, tapi dengan bantuan Tuhan, dia berhasil mengalahkan ketidakmungkinan dan keterbatasan nalar manusia. Demikian pula dengan Roma, kalau dengan menggunakan kekerasan, harta kekayaan atau bahkan menggunakan hukum, belum tentu Roma dapat mengalahkan Lomo. Dengan menggunakan budaya Patriarchal itu sendiri, Roma berhasil membuat Lomo bertekuk lutut.

Novel ini juga hendak mempertegas, laki-laki bertendensi menggunakan cara-cara kekerasan dalam menyikapi represi atau tindakan sewenang-sewenang yang diterimanya. Serangan balik lelaki cenderung kasar dan vulgar. Gogo, putra bungsu Lomo dengan Roma, yang tidak mendapat kasih sayang dari Ayahnya dan bahkan ditelantarkan oleh Ayahnya yang kaya raya, yang telah menyakiti dan membuat luka darah di hati Ibunya, pantas menerima hukuman setimpal. Hukuman setimpal itu berupa tindakan pencabutan jarum infus yang merupakan “nyawa kedua” Lomo.

Sebenarnya, tanpa dicabut pun jarum infusnya, Lomo sesungguhnya tinggal menunggu waktu. Tindakan Gogo menggambarkan, budaya Patriachal “kekerasan” lelaki harus dilawan dengan kekerasan. Inilah bedanya perempuan dan laki-laki. Kepuasan Lomo dalam membalas dendam membaranya harus ditebus dengan penjara. Dalam bahasa laki-laki, tindakan Gogo sangat ksatria dan elegan karena budaya patriarchal lelaki cenderung membahasakan kekerasan. Lain halnya dengan tindakan Roma, yang menggunakan kekuatan lawan untuk mengalahkan lawan.

Budaya Patriarchal Tionghoa

Orang Tionghoa juga menganut budaya patriarchal. Ada banyak kemiripan budaya Batak Toba dengan Tionghoa. Orang Tionghoa juga memiliki marga seperti orang Batak Toba. Asal usul marga Batak Toba dengan marga Tionghoa juga mirip sekali. Menurut Idris Pasaribu, asal-usul marga Batak Toba berasal dari raja Batak. Raja Batak mempunyai 2 orang putera yaitu guru Tatea Bulan dan Raja Isombaon. Melalui kedua anak tersebut marga Batak Toba diteruskan. Sedangkan marga Tionghoa lebih bervariasi, bisa berupa nama jabatan di pemerintahan, nama profesi, nama anak dan lain-lain. Cara penurunan marga itu dapatlah dikatakan sama yaitu dari orangtua kepada anaknya.

Orang-orang Batak Toba yang memiliki marga yang sama berhimpun di dalam sebuah persatuan marga. Demikian pula dengan orang-orang Tionghoa yang memiliki marga yang sama akan berkumpul membentuk paguyuban marga. Misalnya Persatuan Marga Tok yang berpusat di Lubuk Pakam. Persatuan marga ini setiap tahun mengadakan sembahyang nenek moyang. Pesertanya bahkan berasal dari mancanegara.

Budaya mengulosi atau orangtua harus mangadati yang akan menunjukkan seseorang diparsangapi atau tidak sesungguhnya juga ada pada budaya Tionghoa tetapi dalam bentuk berlainan. Orang Tionghoa tidak mengenal budaya mengulosi tetapi orang Tionghoa harus menikah secara adat agar perkawinan itu mendapat berkah dari nenek moyang. Pernikahan yang dilakukan tanpa melakukan ritual di depan altar nenek moyang ditengarai tidak diberkati. Suami isteri tersebut diyakini tidak akan berhasil dalam usaha atau pekerjaan. Anak cucu juga tidak akan berhasil dan selalu mendapat rintangan berat dalam bisnis.

Budaya mangadopi tidak dikenal dalam budaya Tionghoa. Dalam hal ini, barangkali budaya patriarchal Tionghoa akan lebih mendominasi kaum wanita.

Untuk kasus perempuan yang tidak dapat melahirkan anak lelaki sebagai penerus marga, juga dikenal dalam budaya Tionghoa. Dalam Novel ini, Lomo mengambil isteri kedua yakni Roma. Isteri pertama Lomo adalah Uli, yang tidak dapat memberikan anak lelaki sebagai penerus marga kepada Lomo. Uli akhirnya mengambil jalan harakiri karena membaca gelagat Lomo yang hendak mengambil isteri kedua.

Di sini, kita melihat-sekali lagi-budaya patriarchal cenderung membenarkan lelaki dan menyalahkan perempuan. Persoalan seorang wanita yang tidak dapat melahirkan anak lelaki, bukan semata-mata adalah kesalahan perempuan tetapi pria juga memiliki andil di dalamnya. Kemiripan dalam mengambil isteri kedua agar dapat melahirkan anak lelaki juga ada dalam budaya Tionghoa. Bahkan dahulu juga pernah dipraktikan pinjam “pembuahan” dari lelaki lain agar mendapat anak lelaki.

Praktik ini sudah ditinggalkan sekarang di Indonesia dan Medan khususnya. Praktik yang justru marak dilakukan oleh orang Tionghoa di Medan adalah mengadopsi anak laki-laki sebagai penerus marga. Di samping itu, dalam budaya Tionghoa dikenal juga dengan Cio Sai atau menantu lelaki mendapat marga mertuanya agar marga mertuanya dapat diteruskan.

Dalam hal Cio Sai ini, budaya patriarchal menantunya adalah dalam posisi yang lemah. Apabila praktik ini dilakukan, kedudukan menantu pria akan dipandang rendah dalam masyarakat adat dan budaya Tionghoa. Artinya, lelaki itu yang dipinang bukan dia yang meminang. Dalam budaya patriarchal, lelaki adalah pihak yang meminang perempuan. Seluruh biaya perkawinan pihak pria yang menanggung dan pesta perkawinan di laksanakan oleh pihak laki-laki.

Perselingkuhan budaya Batak Toba dan Tionghoa sering dirayakan dalam sebuah pernikahan campuran. Di samping memiliki adat budaya yang mirip dan nyaris serupa, kedua suku ini juga memiliki irisan agama yang sama. Berapakah persentase irisan itu, belum ada survei yang dilakukan.
sumber: analisadaily

This entry was posted in Adat Istiadat Karo, Berita, Berita Pilihan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *