KASUS HIV DIDOMINASI USIA PRODUKTIF, ANCAMAN DUNIA KERJA

Medan, (Analisa). Tingginya jumlah usia produktif terinfeksi HIV/AIDS, akan berdampak bagi dunia kerja. Banyak masalah akan timbul seperti hilangnya hak pekerja, stigma dan diskriminasi dan tidak mendapatkan dukungan pengobatan dan perawatan terhadap orang dengan HIV/AIDS (Odha).
Demikian Ketua Harian Pelaksana Komisi Perlindungan AIDS (KPA) Sumut Ibnu Saud ,” didampingi Sekretaris Ahmad Ramadhan, Pokja Layanan dr Irwan Rangkuti dan Pokja Harm Reduction dr Sakti Siregar dalam temu pers memperingati Hari AIDS Se-dunia (HAS) 2011, dengan tema “Lindungi Pekerja dan Dunia Usaha dari HIV dan AIDS” dan sub tema “Penanggulangan HIV dan AIDS di Tempat Kerja sebagai Bagian dari Peningkatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja”, di Kantor KPA Jalan Veteran, Rabu (30/11), Medan.

Dia berharap peringatan Hari AIDS tahun ini, diharapkan munculnya kepedulian dan partisipasi dari semua pihak, khususnya dunia usaha untuk memberikan perhatian kepada permasalahan HIV dan AIDS yang kemungkinan dihadapi oleh tenaga kerja.

Jumlah kasus yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumut, meningkatnya jumlah kasus dengan signifikan. Dari 25 kabupaten/kota yang memberikan laporannya, tercatat 3.207 kasus. Dengan rincian 1.241 HIV dan 1.966 lainnya AIDS.

“Peningkatan ini masih di dominasi oleh faktor hubungan seks berisiko dan penyalahgunaan narkoba suntik,” ungkapnya.

Berdasarkan jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS, tercatat usia produktif mulai 10 sampai 39 tahun sebanyak 3.824 penderita. Dengan HIV 1.058 penderita dan AIDS 2.766 penderita. Dengan rincian, usia 10-19 tahun, 58 penderita ; 20-29 tahun, 1.580 penderita dan 30-39 tahun, 1.128 penderita.

Ibnu menjelaskan, dari data tersebut, menunjukkan hampir seluruhnya, memiliki potensi untuk mengembangkan berbagai hal bagi kehidupan dirinya dan juga masyarakat secara luas. Seperti, karier dan profesi, ide-ide dan kreativitas yang dimiliki. “Sehingga, jika kelompok produktif tidak dapat diselamatkan maka kondisi kehilangan generasi yang potensial bagi pembangunan masyarakat (lost generation),” jelasnya.

Diakuinya, perkembangan kasus HIV/AIDS tersebut, bukan saja terkait pada kesehatan semata. Tetapi juga, bidang pendidikan, ekonomi dan kehidupan sosial merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Diharapkan melalui HAS kali ini, dijadikan momentum untuk pengurangan angka penularan HIV/AIDS pada usia produktif.

“Dunia usaha harus dibebaskan, minimal dikurangi dari terjadinya risiko terinfeksi HIV/AIDS sebagai bagian dari peningkjatan keselamatan dan kesehatan kerja,” jelasnya.

Belum terima laporan

Sementara Kepala Bidang (Kabid) Perlindungan Tenaga Kerja Dinas Tenaga Kerja Provinsi Sumut Fransisco Bangun mengatakan, pihaknya belum ada menerima laporan tenaga kerja yang terinfeksi HIV/AIDS. Baik perusahaan swasta mau pun negeri.

Berdasarkan data pihaknya, tercatat 10.678 perusahaan yang ada di Sumut, dengan jumlah tenaga kerja mencapai satu juta lebih.

Ditanya, jika adanya kasus pemecatan tenaga kerja dikarenakan terinfkesi HIV/AIDS, Fransisco menegaskan hal tersebut akan ditindaklanjutinya. “Dalam peraturan itu tidak boleh. Tidak boleh dilakukan pemecatan, hanya karena terinfeksi HIV/AIDS. Itu sudah diatur dalam undang-undang ketenagakerjaan,” tegasnya.

Meski belum ada menerima laporan adanya kasus terinfeksi HIV/AIDS dari perusahaan, pihaknya akan melakukan langkah preventif. “Kita akan mengajak seluruh perusahaan untuk menyediakan klinik VCT di tiap perusahaan,” ujarnya.(nai)
sumber: http://analisadaily.com

This entry was posted in Berita, Informasi Kesehatan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *