BUDAYA, MASIH PERLUKAH KITA?

Diundang oleh seorang teman berambut putih nan panjang bernama Agung Waskito, pada tanggal 30 November 2011 di malam hari seputar jam delapan malam saya menghadiri sebuah diskusi yang bertajuk ‘Culture Matters. Do I?’ yang diselenggarakan oleh ListenToTheWorld.

Acara dikemas dengan santai  dan sebagai pembicara tunggal penyampai materi yang tak kalah santainya adalah Serrano Gara Sianturi, seorang yang perduli masa depan budaya Indonesia. Sebelum acara dibuka kami disuguhkan dengan cuplikan-cuplikan film mengenai tradisi atau budaya  yang cukup unik, semisal Indian, Tibet, India, China, dll yang menampilkan tata cara hidup dan kebiasaan beribadah.   Film terakhir menampilkan cuplikan Aceh pasca tsunami,  bagaimana budaya dapat menghibur bahkan menguatkan masyarakat khususnya anak-anak dalam keadaan trauma.   Lalu acara dibuka dengan sebuah musik instumen dream on (musical dance) yang manis, renyah dan  nikmat.

Apakah Budaya?  Banyak sekali definisi dari budaya (Culture).  Bahkan suatu kebiasaan yang terus menerus dilakukan akan menjadi ‘budaya’ pada diri seseorang.    Budaya, sebanyak yang dapat kita tangkap dan sarikan definisinya adalah suatu sikap dan pola pikir dari masyarakat yang disepakati bersama yang mencakup didalamnya adalah bahasa, dialek, peralatan/pernak-pernik, tarian,  musik, agama, bahkan pola bangunan dimana kesemuanya diambil dari falsafah yang berlaku pada masyarakat tersebut.

Ada dua sumbangsih pemikiran terhadap awal peradaban manusia.  Yang pertama berasal dari Adam dan Hawa (homo sapiens) yaitu manusia yang hidup di bumi sekarang ini atau manusia yang berpikir, yang kedua berasal dari suatu spesies manusia (homo erectus).  Tergantung dari pilihan Anda dari mana  Anda berasal, manusia ini (homo) membawa suatu peradaban dan kebudayaan yang kemudian diturunkan kepada kita setelah mendapat jarak yang sangat panjang.  Kehidupan awal peradaban manusia berangkat dari perilaku ‘takut akan Tuhan’  di mana dalam segala penelitian budaya segala perilaku mereka kembali kepada Tuhan serta sangat memujaNya.  Terlepas daripada religi awal tersebut sesuai dan berlaku pada kita sekarang atau tidak namun dapat dikatakan bahwa budaya adalah jalan bagi manusia mencari tuhannya.  Misalnya manusia jaman dulu berburu untuk mencari makan cukup untuk sehari baginya (dan keluarganya) karena apabila berburu dengan tamak akan mendapat murka dan bala dari alam/tuhan.  Segala perilaku sebab akibat dihubungkan dengan kebaikan dan kemurahan tuhan.   Kepercayaan memberi  dan menerima bahkan tanda-tanda alam dihubungkan dengan tuhannya.  Budaya menjadi jatidiri yang tidak dapat dilepaskan.

Apakah saya berbudaya?  Bagaimana kalau saya lahir di negara lain, apakah saya tetap sebagai ‘orang Karo’ (misalnya) ataukah saya telah menjadi orang luar negeri karena telah lahir dan melekatnya budaya luar negeri itu dalam diri saya?   Beberapa pakar budaya mengatakan bahwa budaya diturunkan sebagai generasi, pewaris ataupun genetik.  Sehingga dapat dikatakan menjadi budaya muasal dari seseorang.  Namun perkawinan campur, merantau, menikah dengan suku lain dan tidak lagi kembali kepada budaya muasal oleh sebab ketidakmengertian ataupun ketidakmautahuan akan memberangus budaya dalam diri seseorang untuk menjadi hilang dan tergerus jaman.

Lalu bagaimana dengan kebanyakan masyarakat yang tinggal di kota besar contohnya Jakarta sebagai masyarakat urban dan pola hidup yang lebih bermodel kebaratbaratan ketimbang mengikuti sikap atau perilaku atau budaya muasalnya?  Misalnya masyarakat  kota besar lebih bangga berbahasa asing daripada bahasa daerahnya, lebih suka makan KFC daripada ayam semur, memilih blacberry sebagai gadget, menenteng laptop kemana-mana, headset yang terus tertempel di telinga dll.  Apakah itu sudah menjadi budaya dalam dirinya dan menjadi budaya pilihannya atau bahkan malu mengakui  mempunyai suatu suku dalam dirinya dan menjadikan budaya suku muasalnya menjadi sikap hidup dan berbudaya dalam dirinya?

Masihkah  saya memerlukan budaya?  Kebingungan akan jati diri membuat pertanyaan tersebut tidak mendapat jawaban yang pasti.  Ketika salah seorang peserta spontan menjawab ditengah keheningan berkata,”perlu!”  maka sontak audience lain memberikan applaus, dan pak Sianturi langsung menjawab, “nah…, gitu dong!”    Ya, perlu!  Apakah kita mau menjadi seorang yang abu-abu?  Beberapa gambaran ditunjukkan sebagai lingkaran-lingkaran kehidupan.  Dimulai dari lingkaran diri (self), keluarga (family), tetangga (neighbour), sosial (society), negara (country).

Pola hidup masyarakat yang telah berpendidikan seharusnya menjadi jalan memperkokoh kehidupan berbudayanya dan mempertahankan pola pikir serta sikap yang telah diwariskan agar semakin dikembangkan bukan menghilangkannya lalu menggantinya dengan budaya luar yang bukan budaya asalnya.  Dengan kembali kepada diri sendiri (self) dan mengerti jati diri sebagai pribadi, keturunan genetis dari suatu peradaban kebudayaan, seseorang akan dapat lebih fokus memahami, menerima, melakukan suatu kegiatan baik di dalam dirinya maupun di luar dirinya untuk menjadi contoh budaya dan sikap hidup berperilaku dengan tidak merugikan orang lain.  Bahkan dengan kembali kepada diri sendiri seseorang dapat menjadi pengaruh bagi kehidupan keluarga, sosial bahkan negaranya.  Sehingga dengan demikian seseorang yang berbudaya dapat membantu negaranya menjadi lebih baik dengan cara mempengaruhi dengan sikap budaya hidupnya yang baik.

Bagaimana dengan kita sekarang, apakah yang dapat kita perbuat sebagai pewaris kebudayaan dari suku kita di negara Indonesia ini? Apakah kita membawanya di dada kemanapun kita pergi ataukah kita meletakkannya di pintu dan memanggul merek lain di dada kita?  Salam budaya.
Oleh: Nancy Meinintha Brahmana (Serpong), sumber : http://www.sorasirulo.net

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *