YANG UNGGUL UNTUK PETANI UNGGUL

Menggunakan bibit unggul untuk semua komoditas pertanian, memang sudah menjadi keharusan. Tidak hanya bisa meningkatkan produktivitas dan produksi, namun juga akan membawa keuntungan bagi petani. Sayang, hingga saat ini masih banyak petani yang menggunakan bibit lokal atau mendatangkan bibit dari Pulau Jawa.
Menghadapi tantangan mengembangkan bibit unggul khususnya komoditas kentang, Balai Benih Induk (BBI) Kutagadung Berastagi Kabupaten Karo siap melakukan kerja sama dalam bentuk kemitraan kepada siapa saja, baik kelompok tani, penangkar dan pengusaha dalam memenuhi kebutuhan bibit kentang unggul.


Pelaksana tugas (Plt) Kepala UPT BBI Kutagadung Berastagi, Jonni Akim Purba, mengatakan, pihaknya akan membantu petani di Sumatera Utara (Sumut) menuju mandiri benih kentang dengan menyediakan benih dan bibit unggul menuju pertanian maju, produktif, inovatif berwawasan agribisnis, berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Meski saat ini masih banyak kendala yang harus dihadapi seperti banyaknya petani yang enggan menggunakan bibit unggul, persediaan bibit unggul di penangkar-penangkar minim serta belum adanya perencanaan tanam secara sistematis sehingga tidak mengetahui kapan dan berapa banyak bibit unggul yang dibutuhkan dan harus dipersiapkan.

“Kita bisa siapkan berapapun jumlah bibit kentang yang dibutuhkan. Namun harus ada perencanaan tanaman karena mendapatkan bibit kentang unggul ini memerlukan waktu minimal 6 bulan,” ujarnya kepada MedanBisnis, Jumat pekan lalu.

BBI Kutagadung Berastagi, kata dia, telah menghasilkan bibit kentang generasi ke-3 yang akan dilepas kepada penangkar kemudian ke petani. Tapi posisi saat ini penangkar-penangkar bibit di Sumut belum tumbuh dengan baik, sehingga banyak bibit yang digunakan petani didatangkan dari Pulau Jawa.

Dalam mengantisipasi kondisi ini, lanjut Akim, pihaknya telah melakukan pembinaan dan pelatihan kepada penangkar sehingga benih dari BBI dapat ditanam penangkar dan menjadi sumber bibit oleh petani. “Ke depan kita berharap luas pertanaman di BBI ini akan diperluas yang saat ini masih sekitar 2 hektaree agar dapat memenuhi kebutuhan bibit bagi penangkar di Sumut,” ucapnya.

Saat ini, bibit kentang yang dipersiapkan BBI Kutagalung masih sekitar 40 ton setahun. Seharusnya minimal BBI harus bisa menyediakan 15 ton perbulan meski masih terkendala dengan anggaran dan luas lahan.  Dengan luas lahan 8.159  hektaree tanaman kentang di Sumut akan memerlukan bibit sebanyak 9.790 ton. Jadi dengan produksi bibit yang dihasilkan BBI 40 ton dan produksi bibit oleh penangkar sebanyak 200 ton, maka kekurangan bibit di Sumut mencapai 9.550 ton atau 97,55%.

Bisa digambarkan kebutuhan bibit kentang pertahun di Sumut dari jenis G4 atau bibit untuk petani dengan luas lahan 8.159 hektare, maka kebutuhan bibit sebanyak  9.790 ton. Untuk jenis bibit G3 atau bibit pada penangkar dengan luas lahan 816 hektare akan membutuhkan bibit kentang sekitar 979 ton.

Selanjutnya untuk bibit jenis G2 yang ada pada BBI dengan luas lahan 82 hektare, maka membutuhkan bibit sebanyak 98,4 ton. Begitu juga dengan jenis bibit G1 seluas 8 hektare bisa menghasilkan 9,6 ton. Misalkan saja, hanya sekitar 40% petani di Sumut menggunakan bibit kentang dari BBI, maka untuk masing-masing jenis bibit yakni G4 dengan luas lahan 3.263 hektare, maka membutuhkan bibit sebanyak 3.965,6 ton.

Untuk bibit jenis G3 berarti dengan luas 326 hektare, akan membutuhkan bibit sebanyak 391 ton, bibit G2 atau sekitar luas 33 hektare, memerlukan bibit mencapai 39,6 ton dan jenis G1 seluas 3 hektare dengan kebutuhan bibit sebanyak 3,6 ton.

“Dengan data ini, berarti memang persediaan bibit kentang dari kita belum dapat mencukupi kebutuhan. Untuk permintaan selalu ada, berapa pun yang kita produksi pasti habis terjual. Namun yang masih jadi kendala tidak adanya perencanaan tanam dan kebutuhan dari penangkar atau petani sehingga kebutuhan bibit dapat terus disediakan,” ungkap Akim.

Perencanaan tanam dari petani, memang menjadi kendala berat bagi BBI dalam menyediakan bibit. Karena untuk memperoleh bibit unggul memerlukan waktu 6 bulan yakni 3 bulan di lapangan dan 3 bulan ke depan berada di gudang. Tidak hanya bibit kentang, BBI Kutagalung juga telah menyiapkan bibit wortel dan jeruk serta hortikultura lainnya. Permasalahan pemasaran bibit ini juga hampir sama dengan bibit kentang perlunya perencanaan tanam dari petani, sehingga dapat dipersiapakan.

“Berapa pun bisa kita siapkan bibit unggul kentang asal perencanaan tanam ada. Yang kita khawatirkan, nanti kalau dipersiapkan banyak-banyak tapi tidak ada yang mengambil dan begitu juga sebaliknya,” ucap Akim.

Belum lagi, tambahnya, petani di Sumut masih menghandalkan bibit dari Pulau Jawa yang mempunyai harga jual lebih tinggi dibandingkan bibit unggul dari BBI Kutagalung. Tapi ada juga petani yang hanya menggunakan bibit lokal atau dihasilkan atau diproses dari pertanaman sebelumnya. Kondisi ini pasti berdampak pada produktivitas tanaman yakni hanya sekitar 18 ton perhektare, sedangkan dengan bibit unggul dapat mencapai 20 hingga 25 ton perhektare.

“Terkadang banyak petani menyadari kalau keutamaan bibit unggul, tapi karena terkendala modal sehingga masih menggunakan bibit lokal. Ini juga membuat perencanaan tanam tidak ada. Petani masih saja menanam komoditi yang saat itu harganya tinggi secara ramai-ramai dan mengubah jenis tanaman yang dikembangkannya,” imbuh Akim.

Meski, masih banyak kendala yang dihadapi seperti sarana dan prasana belum sepenuhnya mendukung termasuk kebutuhan perbenihan dan pembibitan, produksi benih/bibit belum mememnuhi kebutuhan petani dan keterampilan petugas dan penangkar masih kurang.

Bibit kentang unggul dari BBI ini, Akim optimis dalam 2 tahun ke depan dapat tersosialisasi kepada petani mencapai Mandiri Benih Kentang Sumut. Jika sudah berhasil, BBI akan menghasilkan bibit 10 ton perbulan dan bersamaan dengan itu produksi dan pendapatan petani pun akan ikut meningkat. “Kita akan terus lakukan pembinaan,” tegasnya.

Menuju mandiri benih kentang Sumut ini, BBI Kutagalung akan terus menjaga kualitas tinggi dengan bibit unggul bebas dari hama dan penyakit, menjamin ketersedian benih kentang G3 bagi penangkar, membina kemitraan dengan penangkar, meningkatkan sosialisasi penggunaan benih kentang bersertifikat bagi petani, pembangunan sarana dan prasarana mendukung perbanyakan benih kentang di BBI.

Untuk tambahan kerja ditahun 2011 ini, pihaknya akan mengadakan planlet kentang, perbanyakan bibit kentang dan hortikultura lainnya guna mendukung ekspor Sumut ke Singapura. “Sama halnya dengan tahun depan, kita akan konsentrasi pada peningkatan sarana pembibitan, peningkatan kerjasama dengan stakeholder dan peningkatan keterampilan petugas serta petani penangkar,” pungkas Akim. (n yuni naibaho)
sumber: http://www.medanbisnisdaily.com

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Takasima, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kabupaten Karo. Bookmark the permalink.

One Response to YANG UNGGUL UNTUK PETANI UNGGUL

  1. ASPRI says:

    SOLUSI SISTEM PERBENIHAN KENTANG DAN TEKLONOGI BENIH KENTANG ORGANIK BERKELANJUTAN.

    OPEN : http://www.indopotato.webs.com

    smoga bermanfaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>