PERUBAHAN IKLIM GESER POLA TERTIB TANAM DI SIMALUNGUN

MedanBisnis – Simalungun. Perubahan iklim yang ekstrim belakangan ini ternyata berpengaruh pada pergeseran pola tertib tanam di Kabupaten Simalungun.
Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Hortikultura Pemkab Simalungun,  Amran Sinaga, saat dihubungi MedanBisnis, Rabu (23/11) mengatakan, pergeseran iklim tadi pengaruhnya tidak saja pada pola tertib tanam saja tapi juga pada peningkatan serangan hama penyakit tanaman.

Dijelaskannya, selama ini pola tertib tanam di Simalungun adalah masa tanam April, Mei, Oktober, November. Masa tanam ini sudah dibakukan melalui Perda Kabupaten Simalungun No 13 Tahun 2001 tentang Pola Tertib Tanam di Kabupaten Simalungun.

Menurut Amran, penetapan pembakuan masa tanam ini sudah berdasarkan analisis selama 30 tahun. Sebagai contoh kata dia, berdasarkan pengalaman musim hujan baru merata di atas bulan Agusus. Namun, belakangan, di luar perkiraan hujan malah sudah merata semenjak awal Agustus.

Akibat pergeseran ini, katanya, berpengaruh pada hasil panen musim tanam April atau Mei. “Sering terjadi percepatan panen di mana terjadi pembungaan padi lebih awal. Tentu saja ini sangat berpengaruh pada produktivitas,” ujarnya.

Selanjutnya, kata Amran, berikut dengan besarnya intensitas hujan dimungkinkan akan menimbulkan serangan hama tikus. Saat musim hujan, tikus akan mencari tempat aman seperti areal pertanaman padi sawah petani. Selanjutnya, musim hujan yang diluar perkiraan membuat  kelembaban tinggi dan ini membuat cendawan/fungi menyerang tanaman padi.

Mengantisipasi pengaruh buruk pergeseran iklim ekstrim ini, pihak Dinas Pertanian dan Hortikultura telah mensosialisasikannya kepada petani. Misalnya, petani diarahkan agar jeli melihat waktu musim penghujan yang merata. “Kita tetap mengarahkan akan pertanaman padi serentak,” katanya.

Sementara  menyangkut dampak buruk terhadap serangan hama dan penyakit, pihak Dinas Pertanian turun mengajak petani membasmi tikus di areal pertanaman serta mengenalkan penggunaan fungisida.

Meski ada gangguan iklim terhadap pola pertanian tanaman sawah, pihaknya kata Amran, tetap yakin produktivitas pertanian di Simalungun meningkat. Tahun 2010, produktivitas padi sawah mencapai 5,1 ton per hektare. Tahun ini, angka ini diperkirakan naik minimal satu ton per hektare. Seorang petani padi sawah di Pematang Bandar, Jumiran, mengakui akibat pergeseran iklim, ketergantungannya atas pertanian padi sawah  sudah dikurangi. Indeks pertanaman hanya dilakukan sekali setahun dari yang sebelumnya dua kali setahun. “Sekali musim tanam kami alihkan ke peternakan ikan air tawar,” katanya.

Diakuinya, sebelum adanya perubahan iklim ekstrim, rata-rata petani di Simalungun menanam padi dan beternak ikan tawar secara teratur masing-masing dua kali padi sawah dan sekali beternak ikan. Saat ini, tak jarang petani hanya menanam padi sawah sekali dan beternak ikan di areal yang sama selama dua musim tanam. ( jannes silaban)
sumber: http://www.medanbisnisdaily.com

This entry was posted in Berita, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *