PTPN4 TINGKATKAN PRODUKTIVITAS TANAMAN TEH

MedanBisnis – Medan. Nilai ekspor komoditas teh hitam di Sumatera Utara (Sumut) periode Oktober 2011 mengalami penurunan sebesar 31,7% dengan nilai US$ 4,467 juta dan volume 2.707 ton dibandingkan periode yang sama di tahun lalu.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumut, Darwinsyah melalui Kasie Hasil Pertanian dan Pertambangan Disperindag Sumut, Fitra Kurnia, mengatakan, penurunan nilai ekspor ini karena produksinya juga sedikit. Selain disebabkan konversi ke tanaman kelapa sawit juga dipengaruhi curah hujan yang tidak stabil. “Tapi kalau permintaan masih terus ada dan produksi ini banyak memenuhi permintaan dari Malaysia, Jerman dan Taiwan,” ujarnya kepada MedanBisnis, Senin (21/11).

Dikatakannya, komoditas teh hitam asal Sumut memang selalu punya peminat sendiri dari negara luar, meski perusahaan yang mengembangkan tanaman tersebut telah mengkonversi sebagian tanamannya ke kelapa sawit.

Kepala Humas PTPN4 Lidang Panggabean menyatakan, saat ini produksi teh hitam mengalami peningkatan yakni untuk periode Januari-September 2011 mencapai 8.171 ton dari target tahun 2011 sebanyak 11.380 ton. Sedangkan realisasi produksi tersebut mengalami kenaikan, jika dibandingkan pada periode yang sama di tahun 2010 sebanyak 8.292 ton.

“Harga jual teh hitam saat ini sudah menembus US$ cent 172,09 per kilogram. Harga ini naik dibandingkan harga sebelumnya US$ cent 152,47 per kilogram,” ungkapnya.

Menurutnya, peningkatan produksi teh itu terus dilakukan manajemen dengan upaya meningkatkan produktivitas tanaman tersebut. Meski konversi lahan telah dilakukan sejak tahun 2004 seluas 3.313,57 hektar atau kini bersisa lahan tanaman teh hanya mencapai 4.802 hektar.

Konversi seluas 3.313 hektar itu masing-masing dilakukan di Kebun Bah Birong Ulu seluas  1.383 hektar, Bah Butong 344,57 hektar dan  Marjandi sebanyak 1.586 hektar. “Sisa lahan pertanaman teh ini akan tetap dipertahankan karena permintaan pasar di dalam dan luar negeri masih banyak,” ucapnya.

Apalagi dilihat dari kebutuhan teh dunia pada 2010-2011 menurut data International Tea Committee mengalami kenaikan atau mencapai sebanyak 3,98 juta ton. Sementara suplai di Indonesia termasuk dari Sumut berjumlah 4,16 juta ton.

Untuk mempertahankan produksi teh, tambah Lidang, pihaknya telah menggunakan tanaman klon unggul, karena memang mayoritas tanaman masih warisan dari masa jajahan Belanda.

Produktivitas yang dimiliki tanaman teh selama ini hanya mencapai 10.973 kg per hektar dalam keadaan teh basah dan telah naik sejak tahun 2009 menjadi 11.034 kg per hektar. “Tanaman akan terus di-replanting untuk meningkatkan produktivitas dan kualitasnya,” imbuhnya.(n yuni naibaho)
sumber: http://www.medanbisnisdaily.com

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *