PEMKAB DIIMBAU TUTUP KEGIATAN EKSPLOITASI GALIAN C PAYA DAPUR

Tapaktuan, (Analisa). Pemerinah Kabupaten (Pemkab) Aceh Selatan diimbau untuk segera mangambil langkah tegas menutup kegiatan eksploitasi bahan galian C di sungai Paya Dapur, Kecamatan Kluet Timur karena diketahui beroperasi tanpa izin.
Anggota DPRK Aceh Selatan, Deni Irmansyah,ST dan Teuku Mudasir kepada Analisa mengungkapkan, eksploitasi ilegal yang dilakukan PT Flamboyant Banda Aceh, itu jelas sangat merugikan daerah yang diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.

Deni Irmansyah dan T.Mudasir yang dihubungi terpisah, Sabtu (19/11) sama mengakui, PT Flamboyant ternyata tidak hanya mengambil material bebatuan (golongan C), tapi juga sekaligus mengolah untuk keperluan lapisan dasar jalan pada proyek pelebaran badan jalan di Rantau Sialang dari Kluet Selatan hingga Bakongan. Kegiatan ilegal tersebut terungkap setelah keduanya melakukan investigasi ke lokasi pengambilan bahan galian golongan C di Krueng Kluet kawasan Gampong Paya Dapur.

Dijelaskan, pengerukan bahan galian golongan C dari Krueng Kluet dilakukan secara besar-besaran dan kegiatan pengolah dilakukan dengan menempatkan unit mesin pemecah batu (stone cruiser) di pinggiran sungai. “Ini mereka lakukan secara besar-besaran tanpa mengantongi izin sehingga daerah dirugikan ratusan juga rupiah,” kata Deni Irmansyah.

Mengancam Bangunan Irigasi

Bukan itu saja, fatalnya, kata Deni dan Mudasir, pengerukan bahan galian golongan C dilakukan tidak berapa jauh arah hilir dari lokasi irigasi Paya Dapur yang saat ini sedang dilakukan peningkatan dengan membangun bendungan. “Secara teknis ini mengancam bangunan irigasi. Akibat dasar sungai dikeruk bangunan irigasi bisa terancam turun,” kata Deni Irmansyah.

Mudasir yang juga Ketua Partai Golkar Aceh Selatan dan Deni dari Partai Rakyat Aceh (PRA) mengatakan, dari kegiatan ilegal yang dilakukan PT Flamboyant, daerah sangat dirugikan setidaknya dari tiga aspek dengan nilai yang diperkirarkan mencapai ratusan juta rupiah.

Yaitu, aspek retribusi bahan galian C, retribusi penumpukan bahan galian sekaligus operasional pengolahan bahan galian dengan menggunakan stone cruiser. Dan yang tak kalah penting adalah, ancaman serius terhadap keselamatan irigasi yang dibangun dengan dana sekitar Rp6,4 miliar. “Karenanya kita meminta Pemkab segera mengambil langkah tegas menutup kegiatan yang jelas sangat merugikan daerah itu,” kata T. Mudasir.

Pantauan Analisa ke lokasi Minggu (20/11), di lokasi pengolahan terlihat berlangsung kegiatan pengolahan bahan galian yang ditandai hingar bingarnya deru stone cruiser. Bahan galian yang selesai dioleh terlihat ditumpuk menggunung dan dipunggah dengan menggunakan alat berat skopel ke dalam bak sejumlah dump truk berukuran besar untuk diangkut ke lokasi pembangunan pelebaran badan jalan Rantau Sialang. Sejumlah warga yang ditanyai membenarkan sejak kegiatan adanya kegiatan pengambilan bahan galian di dasar Krueng Kluet tak seberapa jauh dari lokasi irigiasi arah ke hilir.(ma)
sumber: http://analisadaily.com

This entry was posted in Berita, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *