KEHIDUPAN 352 PROFESOR RISET DAN PENELITI MEMPRIHATINKAN

[JAKARTA] Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kini memiliki 90 profesor riset berbagai disiplin ilmu dari total 352 profesor riset tingkat nasional. Ironisnya, kehidupan 352 profesor riset dan peneliti  memprihatinkan seiring rendahnya gaji dan penghargaan terhadap mereka.

Kepala LIPI Lukman Hakim menyadari perlunya peningkatan kapasitas penelitian untuk memecahkan tantangan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang semakin kompleks. Namun hasil-hasil riset di Indonesia belum mampu berbicara di dunia internasional karena minimnya anggaran dan penghargaan terhadap peneliti.

“Anggaran penelitian sangat memprihatinkan. Dalam 40 tahun terakhir APBN kita naik 4.000 kali lipat sedangkan anggaran penelitian hanya 400 kali lipat kenaikannya. Dana riset kita hanya 0,08 persen atau sekitar Rp 670 miliar dari APBN,” katanya saat pengukuhan tiga profesor riset di LIPI, Jakarta, Jumat (11/11).

Indonesia menurutnya masih jauh tertinggal dari Tiongkok yang sudah menganggarkan dana riset 1,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) dan kembali menargetkan 2 persen dari PDB dalam tiga tahun ke depan. Posisi Tiongkok ini bahkan dinilai menggeser posisi Jepang dan kini berada di urutan nomor dua dunia setelah Amerika Serikat sebagai negara dengan dana riset terbesar.

Lukman bahkan menyebut Indonesia the sleeping giant atau raksasa tidur, meski masuk urutan 16 perolehan PDB di dunia, namun dana riset masih saja minim. “Sudah selayaknya peneliti mendapat penghargaan yang layak. Bayangkan jika dibandingkan negara tetangga jauh berbeda. Take home pay peneliti Malaysia Rp 25 juta per bulan dan Filipina Rp 20 juta per bulan,” jelasnya.

Upaya memperjuangkan kesejahteraan peneliti tambahnya terus disuarakan. Diharapkan, suara perjuangan tersebut didengar pemerintah.

Wakil Kepala LIPI Endang Sukara juga memiliki harapan serupa. Bagi pakar keanekaragaman hayati ini, negara lain justru menggunakan kendaraan riset untuk menciptakan kesejahteraan. Indonesia kini memiliki hampir 7.000 peneliti, jumlah itu bisa bertambah banyak jika penghargaan dan insentif penelitian diperhatikan sehingga akan banyak orang tertarik menjadi peneliti.

Dibanding, Malaysia, Filipina dan Jepang yang gaji peneliti pemulanya mencapai Rp 92 juta per bulan plus tunjangan laboratorium riset dan kesehatan, Indonesia tertinggal jauh. Gaji profesor riset LIPI ungkapnya hanya sekitar Rp 5,2 juta per bulan. Tunjangan kesehatan dan insentif penelitian pun belum dirasakan cukup.

“Jika ada keberanian memberikan jaminan kesejahteraan bagi peneliti, petani, nelayan kita bisa berbuat untuk bangsa ini. Sesungguhnya tidak ada pilihan lagi bahwa iptek harus menjadi soko guru kehidupan bangsa,” ucapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Majelis Pengukuhan Profesor Riset yang diketuai Lukman Hakim juga mengukuhkan tiga orang profesor riset LIPI yakni Edi Prasetyo Utomo (Bidang Geofisika Terapan), Robert M Delinom (Bidang Hidrologi) dan Dwi Eny Djoko Setyono (Bidang Oseanografi).

Endang berharap, hasil penelitian para profesor riset yang baru dikukuhkan ini bisa menjadi kebijakan nasional juga daerah.

Seperti misalnya, Delinom yang telah meneliti dan melakukan pemetaan struktur air di dalam tanah. Delinom pun tambah Endang sudah memiliki rencana tata ruang wilayah Nusa Tenggara Timur yang dikenal sebagai daerah langka air. “Delinom memiliki peta zona-zona mana saja yang cocok dijadikan lahan pertanian atau bagaimana masyarakat Gunung Kidul bisa mendapatkan air,” ujarnya. [R-15]
sumber: http://www.suarapembaruan.com

This entry was posted in Berita, Berita Pilihan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *