JAHE IMPOR BANJIRI SUMUT

MedanBisnis – Belawan. Komoditas jahe impor asal China terus membanjiri Sumatera Utara (Sumut) melalui terminal peti kemas Belawan International Container Terminal (BICT). Bahkan tahun ini aktivitas impornya dipastikan mengalami peningkatan hingga 100%.
Asisten Manajer Hukum dan Humas Pelindo I BICT H Suratman kepada MedanBisnis, Kamis (10/11), mengatakan, tahun ini importasi jahe Sumut dapat dipastikan meningkat fantastis.
Pasalnya, kata Suratman, hingga Oktober 2011 aktivitas impornya mencapai 985 ton. Sementara periode serupa 2010 jumlahnya nihil atau naik 100%.

Aktivitas impor jahe Sumut yang paling mencolok terjadi pada bulan Oktober 2011. Selama kurun waktu itu, kata juru bicara pengelola terminal peti kemas terkemuka di luar Pulau Jawa itu, aktivitas impor jahe Sumut melalui terminal peti kemas BICT mencapai 641 ton. Sementara sejak Januari-September jumlahnya hanya 344 ton.

Di tengah melonjaknya importasi jahe melalui terminal peti kemas BICT, aktivitas ekspor komoditas serupa dari Sumut ke mancanegara juga berlangsung. Bahkan jumlah ekspor lebih besar dibanding impor.

Menurut H Suratman, selama Januari – Oktober 2010 aktivitas ekspor jahe Sumut hanya sebanyak 5 ton. Sementara periode serupa 2011 jumlahnya melonjak menjadi sebesar 1.028 ton.
Derasnya pasokan jahe asal China ke Sumut melalui terminal peti kemas BICT dikeluhkan sebagian pedagang jahe di Kota Medan.

“Sebenarnya kualitas jahe lokal lebih unggul tapi karena harga jahe impor lebih murah sehingga sebagian besar pelanggan lebih memilih jahe impor” kata Jumiati, salah satu pedagang di Pusat Pasar Medan kepada MedanBisnis, Selasa (8/11) lalu.

Dengan harga demikian, kata Jumiati, otomatis konsumen lebih memilih jahe impor. Hal tersebut diperparah dengan pasokan jahe lokal yang jumlahnya masih sangat minim sehingga pedagang menjual jahe impor lebih banyak agar tidak kewalahan melayani permintaan konsumen.

Secara terpisah Staf bidang Informasi Pasar Dinas Pertanian Sumatera Utara, Zainal Abdi mengatakan, saat ini memang petani jahe lokal masih kekurangan bibit sehingga harga bibit di pasaran masih mahal dan menyebabkan kenaikan biaya produksi sehingga memicu kenaikan harga jahe lokal itu sendiri.

“Selain itu, sentra produksi jahe Sumut masih sangat sedikit, salah satunya di Simalungun sehingga produksi jahe masih sangat minim” kata Zainal.

Kendati demikian, kata Zainal, kualitas jahe lokal lebih unggul dari jahe impor. Ini bisa dibuktikan mulai dari kadar air yang sedikit hingga rasa jahe lokal yang lebih baik. Dia juga mengakui, memang tampilan jahe lokal kurang menarik jika dibanding jahe impor karena jahe lokal lebih kecil.

Dia mengatakan, tampilan jahe lokal tersebut bukan karena jahenya yang tidak bagus, namun karena kadar airnya yang sedikit sehingga tampilannya sedikit lebih kecil dan kurus.”Tapi justru jahe yang bagus seperti itu (kadar air rendah-red)” katanya.  (wismar simanjuntak)
sumber: http://www.medanbisnisdaily.com

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *