JAHE IMPOR ASAL CINA TERUS KUASAI PASAR

MedanBisnis – Medan. Jahe impor asal Cina terus menguasai pasaran di Kota Medan. Produksi jahe lokal yang kurang dan murahnya harga jahe impor tersebut ditengarai sebagian besar pedagang di Kota Medan sebagai penyebab terus berkuasanya jahe asal Cina tersebut.
“Sebenarnya kualitas jahe lokal lebih unggul, tapi karena harga jahe impor lebih murah sehingga sebagian besar pelanggan lebih memilih jahe impor,” kata Jumiati, salah satu pedagang di Pusat Pasar Medan, Selasa (8/11).

Dengan harga yang demikian, kata dia, otomatis konsumen lebih memilih jahe impor. Hal tersebut diperparah dengan pasokan jahe lokal yang jumlahnya masih sangat minim sehingga pedagang menjual jahe impor lebih banyak agar tidak kewalahan melayani permintaan kosnsumen.

Pantauan MedanBisnis di pasar tersebut, sebagian besar pedagang di sana yang menjual cabai, perbandingan jumlah antara jahe impor asal Cina dabn jahe lokal mencapai lebih dari 70%. Salah satunya yang dijual Jumiati. Dia biasa memasok 50 kg jahe dalam tiga hari, dari jumlah itu hanya sekitar 215 kg diantaranya adalah jahe lokal yang dipasok dari daerah Simalungun.

Keadaan yang sama juga terjadi di Pasar Petisah dan Sukaramai. Selain harga murah dan pasokan jahe impor yang melimpah, tampilan jahe tersebut juga lebih bagus daripada jahe lokal meski kualitasnya lebih rendah. “Tapi konsumen cenderung memilih jahe yang tampilan luarnya lebih menarik,” kata Herman, salah satu pedagang di Pasar Sukaramai.

Saat ini, jahe impor dijual pada kisaran harga Rp 12.000 hingga Rp 14.000 per kg, sedangkan jahe lokal masih dijual dengan harga Rp 18.000 per kg.

Secara terpisah, Staff Bidang Informasi Pasar Dinas Pertanian (Distan) Sumatera utara (Sumut), Zainal Abdi mengatakan, saat ini memang patani jahe lokal masih kekuarangan bibit sehingga harga bibit di pasaran masih mahal dan menyebabkan kenaikan biaya produksi sehingga memicu kenaikan harga jahe lokal itu sendiri.

“Selain itu, sentra produksi jahe di Sumut masih sangat sedikit, salah satunya di Simalungun sehingga produksi jahe masih sangat minim,” kata Zainal.

Meskipun begitu, kata dia, kualitas jahe lokal lebih unggul dari jahe impor tersebut mulai dari kadar air yang sedikit hingga rasa jahe lokal yang lebih baik. Dia juga mengakui, memang tampilan jahe lokal kurang menarik jika dibanding jahe impor tersebut karena lebih kecil.

Dia mengatakan, tampilan jahe lokal tersebut bukan karena jahenya yang tidak bagus, namun karena kadar airnya yang sedikit sehingga tampilannya sedikit lebih kecil dan kurus. “Justru jahe yang bagus seperti itu (kadar air rendah-red),” ungkapnya. (daniel pekuwali)
sumber: http://www.medanbisnisdaily.com

This entry was posted in Berita, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *