MENGUBAH SAMPAH JADI RUPIAH

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Universitas Negeri Medan (Unimed) mengadakan Talkshow Lingkungan dengan tema Sampah Plastik. Terungkap sampah pelastik bisa disulap kmenjadi rupiah, dan bukan lagi hanya sebagai limbah.

Banyaknya konsumsi bahan plastic dalam kehidupan amsyarakat Dunia mengakibatkan produksi limbah sampah pelastik dalam jumlah besar. Sekitar satu juta kantong sampah plastic setiap menitnya yang ditimbulkan oleh kegemaran masyarakat dunia menggunakan plastic dalam menjalankan aktivitasnya.

“Jenis sampah plastic ini sangat susah terdegradasi, butuh waktu yang cukup lama agar terdekomposisi secara sempurna,” kata Robert Valentino Tarigan saat menjadi narasumber dalam talkshow dalam hari Ulang tahun ke 20 Mapala Unimed, Jumat (4/11/2011) di pelataran parker gedung Auditorium Unimed.

Banyak usaha yang dilakukan pemerintah maupun masyarakat dalam mengantisipasi melonjaknya sampah plastic ini. Namun salah satu langkah yang familiar dilakukan adalah, dengan membakar sampah plastik.

“Sebenarnya sampah plastic itu bisa diubah menjadi rupiah,” katanya. Sebab, sampah non organic ini ke depannya akan sangat dibutuhkan oleh masyarakat dunia.  Hal senada juga disampaikan oleh Bahtiar dari Sekolan pendidikan pengolahan Sampah (SP2S).
Bahwa, sesungguhnya plastic yang selama ini digunakan, terutama dalam kehidupan rumah tangga bukan saja akan menajadi sampah. “Seusai belanja, dan menggunakan bahan platik sebagai wadah belanja, sering kali langsung dibuang,” katanya.

Padahal menurut Bahtiar, jika saja plastic yang digunakan misalnya kantong plastic bisa digunakan berulang kali. Sehingga tidak langsung menciptakan sampah. Lingkungan dunia semakin terdesak dengan tingginya produksi sampah plastic yang sangat susah terurai.

“Saat ini SP2S berusaha memanfaatkan limbah plastic untuk menciptakan produk baru, yang tidak asing bagi kebutuhan sehari-hari rumah tangga,” katanya. Seperti pas bunga, kotak pensil, dan masih banyak bentuk produksi yang dibentuk oleh SP2S.
Namun saat ini pengolahan sampah plastic yang dilakukan oleh SP2S masih menggunakan system manual. Sebab, teknologi untuk pembakaran atau peleburan kembali bahan plastic masih mengghasilkan panas dari hasil pembakaran bahan bakar arang. Sehingga panas yang diperoleh masih sebatas 200 derajat Celsius.

“Ada beberapa bahan plastic yang tidak bisa dilebur dengan panas 200 derajat, seperti PVC,” katanya. Untuk itu, peran mahasiswa khususnya organisasi bisa memberikan sumbangsih agar sampah di muka bumi bukan lagi masalah. Terkusus masalah sampah plastic.

Melalui talkshow ini, Rajagukguk yang mewakili pembantu Rektor bidang pendidikan Unimed mengharapkan agar menghasilkan suatu bahan pemikiran yang bisa menjadi bahan tulisan atau karya ilmiah. Sebab, beberapa tahun terakhir, Unimed selalu mendapat kejuaraan dalam karya ilmiah yang dilaksanakan oleh Dirjen Dikti.

“Untuk periode saat ini, akan dibuka pendaftaran hingga Maret 2012 yang akan datang. Kami harap ada mahasiswa dari Mapala mengajukan karya ilmiah yang bertemakan lingkungan,” katanya sembari menyampaikan abhwa Mapala merupakan organisasi di Unimed yang banyak memberikan kontribusi bagi kampus.

Selain kontribusi intern kampus, Mapala juga telah banyak mengharumkan nama Unimed di tengah masyarakat. Termasuk dalam perlombaan pecinta alam seperti arumjeram, mendaki gunung dan lain lain.

Ikhyar dari pihak senioritas MApala menyampaikan, bahwa  usia Mapala yang sudah 20 tahun hendaknya semakin dewasa. Dan bisa memberikan suatu bentuk-bentuk pemikiran bagi kampus maupun lingkungan masyarakat.

“Jika kamu masuk Mapala tanpa memikirkan bagaimana melestarikan leingkungan dengan prestasi-prestasi, maka akan sia-sia,” katanya. Sebab, Mapala harus lebih cinta akan lingkungan. Sehingga, terutama dalam lingkungan kampus akan diperleh sebuah lingkungan yang bersih dan sehat.

Sebelum masuk acara talkshow, panitia Mapala juga mengadakan konvoi teatrikal yang menggambarkan lemahnya kondisi lingkungan saat ini akibat ulah kontraktor yang mementingkan kantongnya saja. Yang pada akhirnya hanya akan mengorbankan masyarakat sekitar juga.

“Teatrikal ini untuk menggambarkan kondisi lingkungan kita saat ini, dimana banyak illegal loging. Pengusaha semakin jaya, namun rakyat jadi korban,” kata ketua Mapala Unimed Jendri Nico.

Teatrikal mengelilingi kampus Unimed, diberi symbol dua orang kontraktor dengan memakai jas, namun kepala dikenakan topeng monyet dan topi yang melambangkan kekuasaan kontraktor saat ini. Seorang miskin dengan beban kehidupan yang sangat berat dililit oleh tali hutang yang berkepanjangan, namun tetap harus hidup dalam tekanan kemajuan teknologi.

Diharapkan dengan teatrikal tersebut, diperoleh sebuah gambaran agar mahasiswa yang ada saat ini bisa sadar akan fungsi alam. Dan menjadikan pelestarian alam sebagai fungsi utama pendidikan yang diperolehnya. (afr/tribun-medan.com)
sumber: http://medan.tribunnews.com

This entry was posted in Berita, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *