KABUPATEN KARO “ENDEMIS” HIV

Kabanjahe, (Analisa). Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL), drg Irna Safrina Meliala MKes mengatakan, Kabupaten Karo sudah memasuki peringkat III di Sumut dan berstatus “endemis”, karena HIV-AIDS sudah ada di 17 kecamatan se Kabupaten Karo.
Posisi Kabupaten Karo sudah melewati “sporadis” seperti yang sudah dilewati Indonesia, dan “epidemi” juga sudah terlewati. Kini di Tanah Karo 17 kecamatan sudah terserang virus ini, dan di Kota Kabanjahe ada 98 kasus serta Kota Berastagi 56 kasus, papar drg Irna Safrina Meliala MKes, pada acara seminar HIV-AIDS dan Narkotika diikuti pelajar SMA se Tanah Karo, di Polres Karo, Senin (1/11).

Dikatakannya, dari 295 kasus, usia dibawah 5 tahun ada 8 orang, usia 15-24 33 orang, usia 25-49 tahun 242 orang, dan diatas usia 50 tahun 12 orang, serta terdiri dari 215 laki-laki dan 80 perempuan.

“Jumlah ini meningkat ketika Pemkab Karo melalui Dinas Kesehatan melaksakan survey mulai tahun 2005. Karena, pertama kali ditemukan di Karo pada 2004 sebanyak 2 kasus dan sudah meninggal dunia. Hingga 2006-2011 meningkat jumlahnya,” ujar Safrina.

Ciri-ciri

Sementara Wakapolres Karo Kompol J Situmorang SIK melalui Kasat NarkobaAKP Azhar D, mengatakan, ciri-ciri orang yang terserang HIV-AIDS, mirip dengan orang yang menggunakan narkoba.

Jadi jangan sampai menyalah gunakan dan menyentuh narkoba kalau tidak mau mati sia-sia. “Mari kita katakan say no to drug,” jelasnya.

Ketua Panitia Hari HIV AIDS dan Narkotika Kabupaten Karo, Wakapolres Kompol J Situmorang SIK kepada wartawan mengatakan, utusan pelajar, selain mewakili sekolah sekaligus lingkungan, karena mereka berasal dari desa dan kecamatan yang berbeda-beda.

“Langkah ini mungkin masih belum sempurna, namun dengan cara yang sederhana ini, mudah-mudahan apa yang menjadi sasaran kita dalam meghapus penyakit HIV AIDS dan Narkotika di Tanah Karo Simalem dapat di sukseskan,”katanya.

Direktur Rumah Sakit Umum Kabanjahe dr Suara Ginting SpPD mengatakan, langkah sosialisasi dirasa masih kurang tepat sasaran. Karena menurutnya, setiap diadakan penyuluhan dan sosialisasi, yang hadir bukan orang-orang yang beresiko tinggi, melainkan orang yang baik.

“Saya lebih mengharapkan, bila diadakan sosialisasi, sebaiknya kita harus melaksanakan ke tempat dan orang-orang yang rentan dengan penyakit itu. Karena, bila mereka sudah menyadari akan bahaya dari penyakit ini, me reka juga akan sadar dan tidak mengulangi perbuatannya,” sebutnya. (ps)
sumber: http://analisadaily.com

This entry was posted in Berita, Berita Pilihan, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *