GENDANG GURO-GURO ARON GBKP DEPOK-LENTENG AGUNG

Gendang Guro-guro Aron merupakan sebuah tradisi masyarakat Karo yang ada sebagai bentuk ucapan syukur terhadap Sang Pencipta atas anugerahNya melalui alam semesta yang menjadi tempat hidup manusia khususnya dilakukan seusai musim panen hasil bumi. Pengertian Guro-guro Aron sendiri bisa diartikan dari 2 asal kata yaitu “guro-guro” dan “aron”. Guro-guro yang berarti main-main, jagar-jagar, bersenda gurau; dan “aron” yang artinya muda-mudi, anak perana dan singuda-nguda yang dalam tradisi mengerjakan ladang bersama-sama. Kemudian Kata “gendang” didepannya yang diartikan sebagai sebuah kerja, pesta, upacara dengan tari-tarian memberikan pengertian Gendang Guro-guro Aron merupakan kerja, pesta, upacara yang diperuntukkan sebagai ajang muda-mudierguro-guro.

Dalam tradisi ini ada beberapa fungsi dan tujuan diadakannya Gendang Guro-guro Aron ini, antara lain:

– Agar bisa sebagai bentuk ucapan syukur atas musim panen yang telah dilalui dan doa dan harapan agar musim selanjutnya seperti ungkapan “Mbuah page nisuan, merih manuk niasuh” (Padi berbuah banyak, ayam berkembang biak dengan banyak) sebagai salah satu simbol kemakmuran pada masyarakat Karo.- Agar anak perana & singuda-nguda belajar ertutur dan mengetahui adat.

– Agar beberapa anak perana yang diangkat sebagai pengulu aron, dan singuda-nguda yang jadi nande aron, bisa berlatih kepemimpinan.

– Agar aron ini semua tetap semangat dan rajin mengerjakan ladang.

– Sebagai wadah bertemunya pemuda dan pemudi, tempat pencarian jodoh.

– Sebagai tempat belajar mempercantik diri, bersolek, memakaikan kain-kain tradisional (metik)

– Sebagai hiburan di desa

Gendang Guro-guro Aron ini memiliki hal spesial bila dibandingkan dengan pesta lainnya. Biasanya, Gendang Guro-guro Aron ini diiringi dengan Gendang Lima Sendalanen, sebuah perangkat musik tradisional Karo yang terdiri dari lima alat musik; Sarune (alat musik tiup), Gendang Singindungi, Gendang Singanaki, Gong dan Penganak (gong kecil) sebagai pengatur ritme. Namun, beberapa tahun terakhir banyak yang menggunakan hanya kibot Karo (Organ tunggal), atau kolaborasi Kibot dengan Gendang Lima Sendalanen. Juga ditambah dengan kehadiran Perkolong-kolong (biduan yang bisa menari dan menari) yang biasanya dalam acara ini ada sepasang, dan pada kesempatan khusus mereka “diadu” dengan lagu-lagu Karo yang seringnya menyampaikan lawakan.

Tarian Aron dalam pesta ini memiliki hal spesial dengan tari yang biasanya, Aron landek (menari) dengan cara yang berbeda, sering orang menyebutnya tari Tonggal Tan (Tonggal: satu; Tan: tangan). Acara yang lebih memfokuskan pada Aron, biasanya menjadi hajatan yang ditunggu-tunggu dan dihadiri oleh semua orang di kampung tersebut, bahkan didatangi oleh warga-warga dari desa tetangga.

Giliran yang menari dalam pesta ini juga menunjukkan tujuan pengkhususan pada muda-mudi dengan jatah menari Aron dan orang tua menjadi sama, yang pada acara biasa, giliran menari untuk anak muda hanya diberikan hanya sekali, atau sisa waktu ketika semua tegun (kelompok) sudah menari.Gendang Guro-guro Aron GBKP Depok-Lenteng Agung

Pesta ini akan dilaksanakan pada:

Hari/Tanggal: Sabtu, 5 November 2011

Tempat: Museum Perangko, Taman Mini Indonesia Indah

Waktu: pukul 9.00 wib. – 21.00 wib

Acara yang diketuai oleh Atmaja Sembiring, sekretaris Sejahtera Putra Barus dan bendahara Becky Depari ini merupakan program kerja dari TIM Budaya dan LITBANG Runggun Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) De-LA melalui Sanggar Tuah Ginemgem (Lahir pada awal tahun 2011) yang diketuai oleh Indra Sembiring. Muda-mudi yang berasal dari Permata GBKP Depok-Lenteng Agung ini akan menjadi Aron dalam acara ini dengan jumlah lebih dari 60 orang. Aron dalam Gendang ini akan dibagi menjadi lima kelompok yaitu berdasarkan beru si lima. Masing-masing Aron mempunyai Pulu Aron dan Nande Aron. Nande Aron Beru Karo merupakan singuda-ngudayang beru Karo (Beru: Klan untuk wanita), dan Pulu Aronnya merupakan anak perana yang ber-bebere Karo, dst (bebere: clan dari Ibu). Kelima Tegun ini akan landek bergiliran, kemudian bergantian dengan orang tua Si Lima Merga beserta kemberahennya. (Kemberahennya: Nyonyanya)

Adaptasi dan Modifikasi

Sebagai bentuk kecintaan dan upaya pelestarian budaya, masyarakat Karo yang ada dalam ruang lingkup runggun (kelompok, jemaat) ini sebagai masyarakat Karo yang tinggal jauh dari kampung halaman menyelenggarakan Gendang ini dengan beberapa modifikasi, disesuaikan dengan situasi yang tidak/belum memungkinkan melaksanakan seperti adanya di Tanah Karo, sebagai asalnya. Namun, dengan usaha yang maksimal, semoga Tuhan mengijinkan langkah ini bisa berarti untuk pengenalan budaya Karo pada generasi muda. Sebagai tandanya, pengenalan budaya Karo terhadap masyarakat luas, acara ini diadakan di ruang yang lebih memungkinkan dilihat oleh orang banyak, yaitu di TMII, Museum Perangko.

Penyesuaian Makna Kalau dalam tradisi di Kampung halaman, upacara ini dibuat sebagai bukti ucapan syukur atas hasil alam, di kota ini acara ini tetap dimaknai sebagai hajatan ucapan syukur, namun dalam bentuk yang berbeda. Ketika ladangnya orang-orang kota bukan sawah padi, atau juma (ladang) acara ini ditujukan atas anugerah Sang Pencipta melalui pekerjaan-pekerjaan “season” yang sudah berlalu. Lebihnya lagi dalam konteks Gerejani, jemaat GBKP Runggun Depok yang diketuai oleh Pt. Alex Ginting sangat bersyukur, karena begitu dirasakannya anugerahNya dalam perjalanan tahun-tahun yang sudah berlalu. Telah berlangsungya beberapa acara di runggun ini mulai dari tahun 2010, Kebaktian Padang di Ragunan, Agustus; KKI, November; Perayaan Natal, Desember 2010; Pra Paskah yang meriah dan perayaan Paskah 2011. Permata GBKP De-La dalam hal ini sangat lebih bersyukurnya karena sebagian besar dari acara runggun tersebut, Permata dipercayakan sebagai panita pelaksananya. Permata telah menjadi Aron di ladang pelayanan runggun. Yang tak dapat ditinggalkan, kebahagiaan yang baru saja dirasakan atas prestasi Permata Depok-Lenteng Agung dalam acara Permata Klasis Jakarta-Bandung yang paling bergengsi, dengan runggung peraih piala terbanyak: 5 juara pertama, dan 1 juara kedua.

Semua yang telah dilalui dan yang akan dihadapi dirasakan sebagai anugerah dan bukti penyertaan Tuhan saja, dan melalui GENDANG GURO-GURO ARON ini, kita semua mengucap syukur.
sumber : http://sosbud.kompasiana.com

This entry was posted in Berita, Informasi Untuk Kab. Karo, Momo Man Banta. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *