RP 850 JUTA DARI TEMULAWAK JEPANG

Mengembangkan temulawak/temugiring dari Okinawa Jepang, bisa membawa keuntungan yang besar bagi si pengelolanya. Laba yang diperoleh bisa mencapai Rp 850 juta per tahun. Inilah yang terjadi pada Felix Yuda, yang telah mengembangkan tanaman komoditas tersebut selama 15 tahun pada lahan seluas dua hektare miliknya.
Temulawak atau sering disebut Ukon ini biasanya dijual dengan harga Rp 85.000 per kg dan diekspor tidak hanya ke Jepang namun juga ke Korea sebanyak 10 ton setiap tahunnya.


Menurut Felix kepada MedanBisnis akhir pekan lalu, tanaman ukon yang memiliki masa panen antara 8 hingga 9 bulan ini, memiliki prospek bisnis yang sangat menggiurkan. Untuk memasuki pasar ekspor, komoditas harus jaminan produk full organik atau tanpa bahan pestisida.

“Untuk pemasaran lokal, ukon ini kita jual dalam bentuk tablet yang dikemas dalam botol yang terjamin sanitasi dan higienitasnya. Sedangkan ukon yang diekspor ke Jepang dan Korea dalam bentuk bahan mentah yakni simplisia kering atau rajangan kering,” ujarnya.

Felix Yuda yang membudidayakan ukon di Desa Serba Jadi, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deliserdang, bercerita, ukon tersebut diberikan seorang profesor yang datang dari Jepang bernama Profesor Yonoshi kepada orang tuanya untuk dibudidayakan di Indonesia.
Profesor tersebut, lanjutnya, meminta agar hasil dari hasil budidaya ukon kelak dijual kembali kepadanya untuk memenuhi kebutuhan obat-obatan herbal di Jepang. “Itu kesepakatan antara orang tua saya dengan Profesor Yonoshi. Dinamai ukon Okinawa karena berasal dari Okinawa, Jepang,” ucapnya.

Pada masa-masa awal, menurutnya, ekspor ukon ke Jepang dan Korea tidak begitu besar, yakni hanya mencapai satu ton pertahun. Seiring dengab berjalannya waktu, tepatnya dua hingga tiga tahun yang lalu, permintaan ukon dari kedua negara tersebut meningkat tajam dengan presentasi¬† ekspor ke Jepang 80% dan Korea hingga 20%. “Untuk itu, dari pola penanaman yang biasa saja, mulai ditingkatkan dengan lebih gencar,” akunya.

Ia menjelaskan, sebagai pengekspor ukon tunggal di Sumatera Utara (Sumut), tingginya permintaan belum bisa dipenuhi seluruhnya. Salah satu upaya untuk meningkatkan produksinya, menurutnya dalam waktu dekat akan menambah lahan di daerah Langkat.

Untuk bisa memasuki pasaran Jepang dan Korea, Felix mengatakan, tidak bisa ditempuh dengan cara yang sederhana. Beberapa syarat wajib harus dipenuhi karena kedua negara tersebut termasuk sangat selektif dan ketat dalam menerima produk-produk pertanian dari luar negeri.
Antara lain dengan uji dan tes residu dan pengawasan toksikologi, serta tes-tes lainnya.

Intinya, menurutnya, produk yang masuk ke negara mereka harus bebas dari zat yang dapat membahayakan kesehatan. “Sekali terdeteksi zat berbahaya, kita tidak bisa lagi memasuki pasaran mereka lagi, pasti ditolak,” katanya.

Untuk itu, dalam seluruh tahapan pembudidayaan dilakukan dengan serius untuk menjaga kualitas dan steril dari pestisida, antara lain dengan hanya menggunakan pupuk organik. Selain itu, pemilihan lokasi lahan juga menjadi pertimbangan mengingat sudah terlalu banyak daerah yang lahan pertaniannya sudah terkontaminasi dengan pestisida.

“Di daerah ini masih aman dari penggunaan pestisida. Tidak hanya lahannya yang harus steril dari penggunaan pestisida, melainkan lahan sekitarnya juga mesti steril juga,” imbuh Felix.

Selain menjaga kualitas produk¬† jauh dari pestisida, menurutnya hal yang sudah dilakukannya yakni dengan membangun sebuah perusahaan yang terdaftar dan teruji kualitasnya serta terjamin secara klinis. Pihaknya sudah masuk sebagai peserta Instalasi Karantina Tumbuhan (IKT) di bawah bimbingan dari instansi karantina Polonia, Dinas Pertanian Sumut dan sudah mengurus perizinan yang diperlukan agar bisa dipercaya dan diterima pasaran yang lebih¬† luas. “Saat ini prioritas pemasaran hanya ke Jepang dan Korea dan untuk pasaran local lainnya sedang dirintis,” tuturnya. (cw 02/yuni naibaho)
sumber: http://www.medanbisnisdaily.com

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *