PRODUKSI NAIK, HARGA JAGUNG MESTI IKUTI HARGA INTERNASIONAL

MedanBisnis – Medan. Produksi jagung di Sumatera Utara (Sumut) cenderung mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Hal itu menjadikan Sumut termasuk dalam 5 besar sebagai produsen jagung di Indonesia.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Sumut Jhon Albertson Sinaga, kepada MedanBisnis, Senin (17/10) di ruangannya di Jalan AH Nasution Medan menjelaskan, angka tetap (ATAP) produksi jagung tahun 2006 sebanyak 682.264 ton.

Kemudian meningkat pada 2007 menjadi 805.323 ton, tahun 2008 sebanyak 804.850 ton, tahun 2009 sebanyak 1.167264 ton dan  tahun 2010 sebanyak 1.578.420 ton. “Sementara angka ramalam (ARAM) tahun 2011 produksi jagung Sumut sebesar 1.240.529 ton,” jelasnya.

Saat ini, kata Sinaga, sentra jagung Sumut terbesar di Karo seluas 47.686 hektare diikuti Simalungun dan Dairi masing-masing seluas 42.803 hektare dan 26.095 hektare.

Tingginya produksi jagung di Sumut menurutnya tidak lepas dari adanya program Sekolah Lapang Pengolahan Tanaman Terpadu (SL-PTT). Yaitu program untuk membina petani mulai dari pembenihan hingga pasca panen. SL-PTT tersebut dilaksanakan di 18 kabupaten /kota. “Kabupaten Karo menolak program tersebut karena mampu mandiri,” ujarnya.

Padahal menurutnya dari program tersebut, tiap kelopmpok petani mendapatkan bantuan sebesar Rp  2.950.000. Dana tersebut dikembalikan ke negara sementara benih jagung dialokasikan ke daerah lain.

Meskipun produksi jagung di Sumut terus meningkat, menurut Jemat Sebayang selaku ketua Himpunan Petani Jagung Indonesia (HIPA JAGIN) hal tersebut perlu diimbangi dengan penetapan harga jagung yang adil di tingkat petani. Saat ini, menurutnya petani hanya mendapatkan nilai harga yang rendah sementara harga pakan ternak yang menggunakan bahan jagung terus tinggi.
Saat ini, harga jagung kisaran Rp 2.000 – Rp 3.000 perkg. “Angka tersebut masih rendah.
Semestinya harga jagung bisa mengikuti harga internasional untuk meningkatkan pendapatan para petani” katanya.

Harga jagung di tingkat internasional, saat ini Rp 7.000 per kg. “Filipina bisa menetapkan harga jagung dengan harga internasional kenapa kita tidak bisa,” katanya.

Semestinya, kata Jemat pemerintah harus mendorong agar ada kesepahaman dan komitmen antra petani, pebisnis, dan pemerintah untuk duduk bersama menentukan harga yang saling menguntungkan. “Kita harus kompak agar harga bisa tinggi, apalagi di bulan Januari mendatang akan ada panen raya jagung di beberapa tempat,” katanya. (cw 02)
sumber: http://www.medanbisnisdaily.com

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *