KENTANG IMPOR “SERBU” SUMUT

MedanBisnis – Belawan. Kentang impor yang kini tengah diributkan dan mendapat protes dari petani kentang di sejumlah daerah, ternyata juga banyak masuk ke pasaran di Sumatera Utara. Komoditas yang banyak diproduksi di daerah ini juga dimasukkan dari luar negeri melalui terminal peti kemas Belawan International Container Terminal (BICT).
Asisten Manajer Hukum dan Humas Pelindo I BICT, H Suratman, kepada MedanBisnis, Jumat (14/10), mengatakan, tahun ini kentang impor asal China mulai menyerbu Sumut yang dipasok melalui BICT. Padahal sebelumnya komoditas hasil pertanian itu tidak pernah masuk ke Sumut. Kendati aktivitas impornya tidak rutin, namun masuknya kentang impor asal negeri tirai bambu itu dikhawatirkan bisa merusak produk lokal yang terus membanjir.

Hingga September 2011, kata juru bicara pengelola terminal terkemuka di luar pulau Jawa itu, aktivitas impor kentang Sumut yang dipasok pada Januari, February, Maret dan Agustus itu mencapai 222 ton.

Importasi kentang yang dilakukan Sumut ternyata bukan karena Sumut kekurangan komoditas kentang. Buktinya, selain mampu memenuhi pasar local, selama ini Sumatera Utara juga secara rutin melakukan ekspor kentang melalui BICT.

Selama Januari-September 2011, papar Suratman, Sumut mengekspor sebanyak 723 ton kentang ke manca negara melalui BICT. Jumlah ini turun sekitar 44,97% dibanding periode serupa 2010 yang berjumlah 1.314 ton.

Dibukanya kran impor kentang oleh pemerintah mendapat protes dari petani, salah satunya adalah Serikat Petani Indonesia (SPI). Ketua Departemen Kajian Strategis Nasional SPI, Achmad Yakub, bahkan minta pemerintah untuk menghentikan impor kentang, menyusul maraknya kentang asal China dan Bangladesh yang beredar di pasaran yang membuat harga kentang lokal terus merosot.

Dia mengatakan, langkah salah kaprah Pemerintah Indonesia yang menandatangani berbagai perjanjian perdagangan bebas, baik dalam kerangka ASEAN maupun secara bilateral telah menuai hasil yang sangat merugikan khususnya pada sektor pertanian Indonesia. Salah satunya yang terjadi saat ini adalah anjloknya harga kentang dalam negeri hingga menjadi Rp 4.000 per kg. Anjloknya harga kentang ini telah terjadi sejak awal September 2011 di Pulau Jawa dan sebagian Pulau Sumatera.

Pasca diberlakukannya perjanjian perdagangan bebas ASEAN China Free Trade Agreement (AC-FTA) terhitung 1 Januari 2010, lebih dari 6.600 jenis komoditas asal China akan masuk ke Indonesia tanpa dikenai bea masuk sama sekali atau nol persen.

Menurut Yakub, petani Indonesia di sentra-sentra produksi kentang dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur , Sumatera Utara dan Sulawesi Utara mampu untuk memenuhi kebutuhan kentang nasional saat ini yang sekitar 2,028 kg per kapita atau sekitar 479 ribu ton per tahun.

Dia menegaskan, pemerintah harus menghentikan impor kentang karena mengancam kehidupan puluhan ribu petani. “Untuk dataran tinggi Dieng saja ada 72.000 KK dan 150.000 buruh tani dengan luas pertahun 15.000 hektar yang menggantungkan hidupnya dari menanam kentang. Belum lagi petani-petani kentang di seluruh Indonesia” tegas Yakub. (wismar simanjuntak)
sumber: http://www.medanbisnisdaily.com

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *