SOSIAL BUDAYA & KERAGAMAN BERAGAMA

Secara umum Provinsi Sumatera Utara memiliki 8 etnis asli serta beberapa etnis pendatang yang berasal dari kabupaten/kota di Sumatera Utara. Delapan etnis asli tersebut yakni etnis Karo, Toba, Simalungun, Pakpak, Melayu, Nias, Mandailing dan Angkola. Setiap etnis memiliki bahasa daerahnya masing-masing kecuali Mandailing dan Angkola yang memiliki bahasa daerah yang sama, yakni Bahasa Mandailing.

Selanjutnya ada etnis pendatang seperti Jawa, Minang, Aceh, Tionghoa dan lainnya. Etnis-etnis ini juga membawa bahasa daerahnya sendiri. Setiap etnis memiliki aneka budaya sendiri, hingga membentuk Sumut menjadi daerah yang memiliki kekayaan budaya yang beraneka ragam dalam bentuk adat istiadat, seni tradisional, dan bahasa daerah. Namun semuanya menyatu menjadi penduduk Sumatera Utara dan identik dengan warga Sumatera Utara.

Dari segi agama, Sumut juga sangat beragam. Semua agama formal  yang diakui secara nasional ada di daerah ini. Di luar itu ada juga agama non formal yang juga berkembang seperti Parmalin.

Gambaran ini cukup menunjukkan betapa beragamnya kehidupan budaya dan kehidupan keberagamaan di daerah ini. Dan Medan sebagai ibukota provinsi adalah tempat berkumpulnya semua keragaman ini, baik dari sisi budaya dan keberagamaan.  Sebagai kota besar di provinsi ini, Medan menjadi tujuan warga dari daerah, baik untuk bekerja mencari nafkah, menetap ataupun sekedar singgah. Keragaman yang terjadi di Provinsi Sumatera Utara kemudian terefleksi dalam wujud wajah kota Medan.

Oleh karenanya bisa kita bayangkan, kompleksnya kehidupan sosial dalam masyarakat yang sangat heterogen seperti ini. Tidak saja dibutuhkan saling pengertian dan saling tolerasi dalam kehidupan beragama dan berbudaya, tetapi juga dibutuhkan pemimpin yang kuat yang didukung oleh masyarakatnya. Jika tanpa itu semua, akan mustahil bisa melestarikan kestabilan kehidupan sosial kemasyarakatan dan membawa kota Medan ini maju dan berkembang menjadi kota yang moderen.

Keniscayaan keragaman
Keragaman sering juga disebut pluralitas. Kata ini biasa merujuk pada keragaman agama dan budaya. Pluralitas berasal dari bahasa Inggris, plural, antonym dari kata singular, secara genetika ia berarti kejamakan atau kemajemukan. Dengan kata lain, ia adalah kondisi objektif dalam suatu masyarakat yang terdapat di dalamnya sejumlah kelompok saling berbeda, baik strata ekonomi, ideologi, keimanan, maupun latar belakang etnis.

Pluralitas tidak sama dengan pluralisme. Kalau pluralitas adalah suatu keragaman yang merupakan sebuah keniscayaan, sedangkan pluralisme adalah idiologi tentang kebenaran agama-agama. Kalau pluralitas adalah keragaman itu sendiri, sedangkan pluralisme adalah sikap, pemahaman akan kebenaran dari tiap-tiap keragaman tersebut. Kalau keragaman memiliki konsekuensi adanya perbedaan dalam melihat suatu objek tertentu, maka faham pluralisme menyatakan bahwa semua perbedaan pendapat itu adalah benar. Ini adalah sebuah idiologi yang ambigu. Seolah-olah menjadi jalan tengah atau seolah sedang berusaha menerima perbedaan, tapi sejatinya dengan terang-terangan sedang membenturkan perbedaan-perbedaan itu.

Maka sebaiknya faham pluralisme ini sudah selayaknya dibuang jauh-jauh dari benak warga kota Medan. Karena kita telah memiliki kearifan lokal yang telah terbukti ampuh dalam menjaga dan memelihara kerukunan dan saling pengertian, termasuk dalam menangkal ideologi asing seperti halnya pluralisme. Itulah toleransi dalam kehidupan beragama dan berbudaya. Dengan toleransi warga diajarkan untuk memberi ruang kepada perbedaan tanpa harus menyama-nyamakan perbedaan itu.

Pluralitas adalah keragaman dalam sebuah wujud persatuan. Keragaman, keunikan, dan parsial itu merupakan realitas yang tak terbantahkan, secara sosiologis, manusia terdiri dari berbagai etnis dan budaya yang saling berbeda dan mengikat dirinya antara satu dengan lainnya. Oleh karenanya kondisi ini harus dimenej dengan baik dan tidak gegabah.

Salah satu yang paling penting dalam ranah pluralitas adalah  sesuatu yang terkait dengan kepercayaan atau agama yang dianut oleh masyarakat. Pluralitas agama sangat mewarnai sejarah kehidupan, sosial, tidak terkecuali masyarakat kontemporer, baik dalam skala kecil maupun skala besar, terutama pada negara-negara yang sangat mengedepankan relegiusitas. Keragaman agama, sebagaimana keragaman etnisitas suku dan bangsa, juga dipahami dalam satu perspektif kemanusiaan yang hidup berdampingan dengan kekhasannya membangun kehidupan bersama, keunikan-unikan ini bukanlah ancaman terhadap pemeluk agama yang satu terhadap eksistensi agama yang lainnya, tetapi akan lebih memperjelas keunikan sendiri. Agama yang dianut oleh seorang pemeluknya menjadi identitas pribadinya sekaligus cerminan kesucian agamanya.

Oleh karenanya salah satu agenda besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah menjaga persatuan dan kesatuan dan membangun kesejahteraan hidup bersama seluruh warga negara dan umat beragama. Hambatan yang cukup berat untuk mewujudkan kearah keutuhan dan kesejahteraan adalah masalah kerukunan sosial, termasuk di dalamnya hubungan antara agama dan kerukunan hidup umat beragama. Persoalan ini semakin krusial karena terdapat serangkaian kondisi sosial yang menyuburkan konflik, sehingga terganggu kebersamaan dalam membangun keadaan yang lebih dinamis dan kondusif. Dalam pandangan saya, akselerasi faham pluralisme yang notabene adalah faham impor ini adalah salah satu wujud gangguan yang sangat halus.

Peran agama dan kebudayaan
Sultan Takdir Alisjahbana mengatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks, yang terjadi dari unsur-unsur yang berbeda seperti pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat istiadat dan segala kecapakan lain, yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.

Manusia misalnya memjumpai kebudayaan berpakaian, bergaul, bermasyarakat, dan sebagainya. Budaya itu adalah bagian dari kebiasaan manusia yang dibawa secara turun menurun. Atas segala bentuk kebudayaan yang mengarah pada maslahat bagi manusia dan alam sekitar, adalah bagian dari ajaran agama. Karena agama adalah suatu kebenaran yang diturunkan oleh Tuhan yang menciptakan kebudayaan itu sendiri.

Sedangkan hidup beragama tampak pada sikap dan cara perwujudan sikap hidup beragama. Seorang yang menerima sesama yang beragama apapun sebagai sesama mahluk Tuhan. Karena keyakinan bahwa Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang mengasihi setiap manusia dan seluruh umat manusia tanpa diskriminasi berdasarkan kemahaadilan Tuhan, maka dia pun wajib dan tak punya pilihan lain, selain mengasihi sesamanya tanpa diskriminasi berdasarkan agama, budaya, etnik, profesi, atau kepentingan tertentu yang berbeda.

Perbedaan ciptaan Tuhan di tengah alam semesta adalah suatu keniscayaan yang patut diterima sebagai pelajaran bagi akal manusia. Hal demikian harus menjadi lebih nyata pada hidup beragama di tengah pluralitas agama sebagai keniscayaan yang diterima dan disyukuri sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa.

Seorang yang tulus dalam beragama akan menghormati, menghargai dan bahkan mengasihi atau merahmati sesamanya karena sesamanya adalah manusia yang dikasihi Tuhannya. Seorang yang tulus beragama mengasihi sesamanya hanya dengan berpamrih pada Tuhan sebagai sumber segalanya. Kasih atau cinta kepada sesama manusia harus dapat menembus atribut-atribut yang mengemasnya. Atribut-atribut perbedaan yang melekat pada diri seorang  tak harus menjadi perisai yang menangkis atau menangkal kasih atau rahmat yang diberikan oleh orang lain kepadanya. Secara hakiki, manusia adalah manusia ciptaan Tuhan sehingga saling berbeda tidak mengharuskan seorang untuk berlaku tak adil.

Penutup
Kata kunci dari kebersamaan hidup dalam keragaman budaya dan agama adalah toleransi. Toleransi sejatinya adalah sesuati yang telah menjaga negeri ini dari berbagai gesekan kepentingan yang berbeda. Maka sudah sepantasnya seluruh warga Negara untuk mengedepankan sikap toleransi dalam setiap perbedaan yang timbul.
Oleh : RAHUDMAN HARAHAP; Penulis adalah Walikota Medan.
sumber: http://waspada.co.id

This entry was posted in Berita, Cerita (Turi - Turin), Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *