JIKA PEREMPUAN BATAK TAK LAHIRKAN LAKI-LAKI

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Peluncuran novel “Damang Parsinuan” yang ditulis Lucya Chriztiana Pardede dilakukan secara sederhana di Galery Payung Teduh jl Sei Bingei Medan. Buku yang bercerita tentang budaya batak yang kerap menimbulkan pertentangan dengan nilai agama kristen yang dianut suku Batak.

Bercerita tentang budaya lokal batak tidak cukup hanya melihat dari sisi luarnya saja. Namun harus juga masuk dan terjun ke dalamnya. Supaya nilai-nilai yang terkandung didalamnya juga bisa diperoleh.

Karya Chriz ini menceritakan saat seorang wanita batak menikah dan hanya melahirkan anak perempuan. Apa yang terjadi jika kondisi itu terjadi? Buku yang diterbitkan oleh CV Komunitas Sastra Indonesia (KSI) publishing ini akan memberikan jawabannya.

Memang menjadi dilema, saat dikaitkan agama dengan kekristenan suku Batak. Namun kebali kepada suatu isi dari kekristenan seseorang itu sendiri. “Apakah jadi kristen batak, atau batak kristen,” kata Chriz.

Chriz mangambil sampel-sampel penulisan buku kehidupan suku batak di Balige Tobasa. Namun kembali kepada Banyak nilai-nilai budaya batak yang hampir terlupakan oleh generasi Batak. Untuk itu, Buttu R Hutapea seorang nasionalis mengingatkan agar nilai budaya jangan lebih tinggi dari agama yang dianut. “Harus mementingkan agama namun adat atau potensi budaya jangan ditinggalkan,” katanya saat memberikan komentar saat mengulas kilas buku karya Chriz.

Persoalan-persolan lain dalam budaya batak juga akan diulas lebih dalam dalam edisi berikutnya. Seperti disampaikan Ketua KSI Publishing Medan, Idris Pasaribu “Damang Parsinuan” ini menjadi buku hasil terbitan ke 14 setelah dibukanya percetakan ini.

Selanjutnya akan di coba menerbitkan buku berjudul “Padan” dan “Dua Kutub”. Dan akan diadakan road ke 10 kota di Sumut. Harga buku ini diberikan Rp 25 ribu. Dengan tujuan agar seluruh kalangan bisa menjangkaunya, dan bisa memahami nilai-nilai budaya Batak.

Secara simbolis, dalam pertemuan ini diberikan buku kepada enam orang tokoh yang hadir dalam lounching. Yaitu, Tuani Lumbantobing, Butu R Hutapea, Robert Valentino Tarigan,Jonni Siahaan, Panangian Siregar, dan Irwansyah Hasibuan.

Buku yang dirilis Chriz ini ditulis berdasarkan literatur-literatur yang nyata. Bukan merupakan hanya sekedar karangan fiksi semata. Sehingga, nilai-nilai dalam buku ini seharusnya dipelajari oleh pemuda dan generasi Batak yang saat ini mulai lupa akan jati dirinya.

Peluncuran buku ini juga diawali dengan alunan musik karya Hendri Perangin-angin. Alunan musik yang bernuansa karo itu dimainkan menggunakan alat musik tradisional namun menghasilkan nada ataupun musik modern.(afr/tribun-medan.com)
sumber : http://medan.tribunnews.com

This entry was posted in Berita, Cerita (Turi - Turin), Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *