MUDARATNYA SUHU DINGIN RUANGAN AC

TEMPO Interaktif, Jakarta -Kurniawan, 30 tahun, produser di sebuah stasiun televisi swasta, tiba-tiba muntah, nyembur seperti air dari slang hidran pemadam kebakaran. Kesimpulan sementara, lelaki itu terserang vertigo.

Gejalanya biasanya pusing, berkeringat dingin, dunia terasa berputar, dan disertai rasa mual, bahkan muntah. Keluhan vertigo menduduki peringkat ketiga dalam praktek dokter umum. Pada orang berusia sekitar 75 tahun, keluhan vertigo bisa mencapai 50 persen.

Kurniawan dirawat di rumah sakit selama seminggu. Seusai pemeriksaan menyeluruh, dokter menyimpulkan terjadinya kekentalan darah lelaki tersebut. Bukan cuma itu, salah satu saraf di bagian tengkuknya juga terjepit. “Kata dokter, penyebabnya karena saya terpapar mesin dingin terlalu lama,” ujarnya.

Usut punya usut, memang ternyata Kurniawan terbiasa bekerja di bawah terpaan air conditioner (AC) alias penyejuk udara. Dia sering menghabiskan malam-malamnya di ruangan bertemperatur di bawah 15 derajat Celsius, mulai pukul 11 malam hingga 8 pagi.

Selama satu setengah tahun, terpaan suhu dingin AC biasa menemani suasana kerja Kurniawan. “Meja kerja saya tepat berada di bawah AC dengan suhu yang memang di-setting bukan buat orang, tapi buat ruang server,” katanya. Padahal, tiap berada di ruangan tersebut, pria itu sudah membalut tubuhnya dengan dua lapis jaket.

Bekerja di ruang sejuk dan dingin memang terkadang mengasyikkan, adem. Apalagi kalau suasana di luar ruangan sedang terik. Namun ternyata, di balik kenyamanan itu, ada harga yang harus dibayar. Paparan penyejuk udara dalam waktu lama dan dengan suhu terlalu rendah atau terpaan suhu dingin yang langsung mengenai wajah, kepala, dan leher dalam waktu lama bisa menyebabkan sejumlah masalah kesehatan. Bahkan suhu yang terlalu dingin bisa menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Penyempitan ini akan meningkatkan tensi darah yang amat berbahaya bagi penderita tekanan darah tinggi.

Menurut dokter spesialis saraf, Maria Inggrid, terpaan suhu dingin bisa menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Apalagi dalam kondisi seseorang dengan faktor risiko tekanan darah tinggi atau hipertensi, stroke, serta jantung koroner. “Hipertensinya bisa semakin tinggi,” ucapnya.

Terpaan suhu dingin dari AC juga mesti diwaspadai bagi orang yang mempunyai penyakit rematik maupun asma. “Bisa membuat penyakitnya kambuh,” kata dokter Maria. Karena itu, aturlah AC dalam ruang kita pada suhu 24-25 derajat Celsius.
Maria menyarankan, bagi orang yang mempunyai risiko penyakit di atas, sebaiknya menghindari berada di dalam ruang yang terlalu dingin dalam waktu lama.

Adapun pengentalan darah terjadi bukan semata akibat mesin penyejuk udara, tapi juga lantaran ada faktor bawaan atau makanan yang dikonsumsi. “Paparan AC ekstrem mempercepat menurunnya kondisi kesehatan seseorang,” dokter Maria menambahkan.

Jadi para pekerja yang biasa berada dalam ruang dengan AC yang sangat dingin kudu hati-hati. Seperti semua asal penyakit, jagalah kesehatan, asupan makanan harus bergizi dan seimbang, serta sebaiknya jalani gaya hidup sehat. Seperti yang dialami Kurniawan, jaket kulit dua lapis tak mampu melindungi tubuhnya dari penyakit.
sumber : http://www.tempointeraktif.com

This entry was posted in Berita, Informasi Kesehatan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *