KOMUNITAS MOTOR ANTIK DIY TUNTUT STNK

TEMPO Interaktif, Yogyakarta – Sekitar 50 anggota komunitas motor antik yang mengatasnamakan Motor Antik Club (MAC) mendatangi Gedung DPRD Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Selasa 11 Oktober 2011. Mereka meminta Dewan memfasilitasi tuntutan segera diterbitkannya legalitas motor antik.

“Enggak usah pakai BPKB (Buku Pemilik Kendaraan Bermotor) tidak masalah. Yang penting ada secuil kertas berupa STNK (Surat Tanda Nomor Kendaraan),” kata Ketua MAC DIY Bambang Cahyono dalam audiensi dengan anggota Dewan di ruang lobi Gedung DPRD DIY, Selasa 11 Oktober 2011.

Bambang menceritakan bahwa pengendara motor antik selama ini terkendala legalitas. Banyak motor antik yang dibuat sebelum 1965 itu tanpa kelengkapan surat legalitas. Pasalnya, banyak motor antik yang didapat dalam bentuk potongan-potongan onderdil yang dirakit kembali. Ada pula yang sudah pindah dari sekian banyak tangan, sehingga tidak diketahui lagi surat-suratnya.

Sialnya, para pengendara motor antik sering terganjal aturan Undang-Undang Lalu Lintas saat melakukan tur antardaerah dan antarpulau di Indonesia. Banyak pengendara motor antik yang terkena tilang gara-gara tak punya kelengkapan surat. “Kalau bermuhibah ke luar pulau jadi tak tenang,” kata Bambang.

Padahal kegiatan touring antarpulau adalah aktivitas rutin MAC lantaran klub ini telah mempunyai cabang hampir di semua ibu kota provinsi, kecuali Maluku dan Papua. MAC yang berdiri sejak 1991 itu hingga kini mempunyai sekitar 500 anggota.

Sejauh ini MAC telah mengupayakan tuntutan legalitas motor “klangenan”-nya. Menurut juru bicara MAC DIY Teddy Sanjaya, pada 8 Mei 2001 telah keluar surat pendaftaran bermotor kuno atau antik dari Departemen Dalam Negeri Direktorat Jenderal Otonomi Daerah yang ditandatangani Direktur Bina Perencanaan Anggaran Daerah selaku Ketua Pelaksana Harian Pembina Samsat Pusat, Sugiarti. Pada poin ketiga disebutkan bahwa pengajuan pemutihan oleh MAC DIY yang belum pernah mendapatkan STNK dan BPKB untuk sementara ditangguhkan. Permasalahannya dibahas oleh Tim Pembina Samsat Pusat.

Pada 11 Januari 2011 diadakan audiensi antara MAC DIY dan beberapa pihak terkait seperti dari Jasa Raharja, Samsat, juga Kepolisian Daerah DIY. Pihak Polda DIY menyerahkan persoalan itu kepada Direktur Resor Kriminal, bukan Direktur Lalu Lintas. Alasannya, persoalan tersebut terkait legalitas.

“Kesimpulannya, akan dilakukan lelang tertutup agar kami dapat STNK. Mereka juga membentuk tim kecil. Tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut,” kata Teddy.

Bekas Ketua MAC DIY Eko Sugeng Rohedy menegaskan bahwa pemerintah harus memperhatikan tuntutan tersebut. Keberadaan komunitas-komunitas motor antik tersebut, menurut Sugeng, bertujuan melestarikan motor-motor kuno peninggalan nenek moyang. Apalagi semakin banyak anak muda yang menyukai motor antik. “Dengan legalitas membuktikan kami taat pajak. Mau bayar pajak saja kok susah. Tolong Dewan menjembatani,” kata Sugeng.

Menanggapi tuntutan tersebut, Ketua DPRD DIY Yoeke Indra Agung Laksana yang memimpin audiensi berjanji akan berkoordinasi dengan Polda DIY. Sedangkan Kepala Dinas Pariwisata M. Tazbir menyatakan dukungannya terhadap tuntutan MAC tersebut.
“Mungkin bukan STNK murni. Minimal tanda boleh jalan. Ini tergantung lobi di atas,” kata Tazbir.

Bahkan dalam audiensi tersebut juga diwacanakan keberadaan MAC DIY sebagai duta wisata DIY. Usai audiensi, rombongan motor antik tersebut berjalan mengitari Malioboro. Tazbir pun tanpa mengenakan helm ikut serta dalam rombongan dengan diboncengkan salah seorang pengendara motor antik. Dalam pantauan Tempo, rombongan tersebut tetap berhenti saat lampu merah menyala.
sumber : http://www.tempointeraktif.com

This entry was posted in Berita, Berita Pilihan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *