BUDAYA TERTIB LANTAS MASUK KURIKULUM SEKOLAH

Pematangsiantar, (Analisa). Guna lebih mendalami karakteristik dan pengetahuan tentang kedaerahan di Sumatera Utara, perlu memasukkan kurikulum yang mempelajari berbagai situasi, kondisi di daerah setempat, hingga anak didik di dapat mengenal lebih dekat keadaan daerahnya.
Hal itu terangkum dalam pelaksanaan Sosialisasi Buku Muatan Lokal (Mulok) ke 33 Kabupaten/Kota di Sumut di gedung SMKN-l Jalan Bali Pematangsiantar, Kamis(6/10) siang.

Dari 33 jenis buku muatan lokal yang akan diterbitkan sebagai kurikulum mata pelajaran di sekolah sekolah di Sumut, di antaranya tentang Budaya Tertib Lalulintas diterbitkan Dirlantas Poldasu dan ditulis AKBP Arie Wisnu Gautama SH MHum.

Menurut Kasi Dikmas Dirlantas Poldasu AKP M Risya selaku pembicara dalam sosialiasasi yang dibuka Kadis Pendidikan Pematangsiantar Drs Setia Siagian. Kehadiran buku budaya tertib berlalulintas sebagai mata pelajaran sekaligus memberikan pemahaman pendidikan berlalulintas kepada murid sejak usia dini. Diharapkan akan menjadi mutu penyelenggaraan pendidikan berlalulintas yang diintegrasikan dengan kurikulum Mulok.

Umumnya, kompleksitas permasalahan perlalulintasan dipengaruhi kurangnya pemahaman dan tingkat kepatuhan terhadap peraturan perundangan undangan dan etika berlalulintas bagi pemakai jalan. Karenanya, dengan ada buku pelajaran tentang perlalulintasan masuk kurikulum mata pelajaran di sekolah dimulai sejak tingkat Sekolah Dasar (SD) kelas IV sampai ke jenjang tingkat SLTA kelas XII.

Latarbelakang kehadiran muatan lokal tentang perlalulintasan pada kurikulum mata pelajaran di sekolah, menurut Risya, setelah melihat dari data data jumlah kecelakaan lalulintas di jalan raya sejak Januari sampai Agustus 2011, terjadi 3.111 kasus di Provinsi Sumatera Utara.

Dari jumlah itu, 1.464 orang di antaranya meninggal dunia, l.935 orang luka berat, 2.813 orang luka ringan dengan kerugian materil atau harta benda mencapai Rp 8,59 milyar lebih.

Ironisnya, sebut Risya, dari 6.022 korban kecelakan lantas itu, 1.363 orang di antaranya berstatus pelajar/mahasiswa. Secara hitungan kasar, per hari korban yang meninggal dunia di jalan raya akibat lakalantas itu diperhitungkan empat sampai lima orang.

Diharapkan, dengan dengan ada pemahaman pemahaman pendidikan berlalulintas bagi murid sejak dini, nantinya akan menjadi pionir pionir budaya tertib berlalulintas dalam mewujudkan keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran lalulintas (Kamtibcarlantas) di wilayah Sumatera Utara khususnya dan Indonesia umumnya.

Mengenai ruang lingkup buku budaya tertib berlalulintas berpijak pada pemahaman terhadap keamanan dan keselamatan lalulintas berpedoman UU No 2 tahun 2002 tentang Lalulintas dan Angkutan Jalan, etika berlalulintas dan peraturan peraturan lainnya sebut AKP Risya di hadapan para peserta terdiri dari kepala sekolah SD, SLTP dan SLTA Negeri dan swasta di daerah itu serta staf Dinas Pendidikan Pemrovsu Karlos Simanungkalit, Anto, Sekretaris Dinas Pendidikan Pematangsiantar Drs Mansur Sinaga. Kasatlantas Polres Pematangsiantar AKP Hendrik Situmorang MM.(er)
sumber: http://analisadaily.com

This entry was posted in Berita, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *