PEMBUDIDAYAAN PISANG BARANGAN BUTUH PERHATIAN KHUSUS

MedanBisnis – Medan. Keberadaan komoditas pisang barangan dikhawatirkan akan punah dalam lima tahun mendatang. Kondisi ini dipicu tidak adanya pembudidayaan yang baik terhadap komoditas unggulan Sumatera Utara (Sumut) tersebut.
Hal ini dikatakan pembudidaya pisang barangan di Kabupetan Deliserdang, M Suyu Purba saat memberi materi pembelajaran kepada siswa-siswa Praktik Kerja Lapangan (PKL) SPP Negeri Seree-Aceh dan SMK Negeri 1 Peurelak Aceh Timur di pembibitan UD Tani Mas Tanjung Merawa, akhir pekan lalu.

Menurutnya, perawatan terhadap tanaman pisang barangan perlu diperhatikan sebab sudah banyak yang terserang penyakit jenis virus fusarium dan darah.

“Virus yang menjadi momok menakutkan buat petani ini bisa menghancurkan keberadaan tanaman pisang barangan. Jadi diperlukan perawatan sejak dini,” ujarnya kepada MedanBisnis.

Pembudidayaan sejak dini dalam hal perawatannya, lanjut Suyu, menjadi hal yang sangat penting diberikan kepada anak-anak yang bidang pendidikannya di sektor pertanian. “Dari mereka ini lah nantinya bisa diinformasikan kepada masyarakat khususnya petani pisang barangan bagaimana pembudidayaan yang benar,” katanya.

Penyakit yang banyak menyerang tanaman pisang barangan hingga saat ini yakni fusarium, tigatoga dan penyakit darah. Dimana penyakit-penyakit tersebut tidak hanya menyerang pada bibit pisang tapi juga telah menyebar ke tanah sehingga dapat mematikan tanaman.

“Bibit pisang yang berasal dari anakan, bonggokan dan kultur jaringan pun bisa saja diserang penyakit kalau saja asal tanam atau tidak dilakukan perawatan secara benar. Masih banyak petani yang melakukan pembudidayaan kurang baik sehingga penyakit fusarium masih sulit dikendalikan,” jelasnya.

Namun, katanya, dengan penggunaan bibit kultur jaringan dapat meminimalisir serangan penyakit fusarium, karena biasanya bibit lebih berkualitas dibandingkan dengan anakan atau bonggokan. Selain itu, produksi buah dapat lebih banyak dan panjang.

Narasumber pertanian lainnya, Naomi Distrina Ginting, mengatakan, budidaya tanaman pisang barangan harus dapat dikembangkan karena komoditas tersebut masih berpeluang besar dalam mendapatkan keuntungan. Namun petani banyak yang terlena sehingga perawatannya tidak diperhatikan baik dalam pemilihan bibit, pupuk dan lainnya.

“Selain bibit yang berkualitas, petani juga harus dapat memilih pupuk yang baik seperti berasal dari bahan organik. Pupuk non kimia ini akan menyuburkan tanah dan tanaman bisa berproduksi lebih lama,” jelasnya.

Berbeda dengan pemberian pupuk kimia, meski memberi reaksi cepat, tapi kesuburannya hanya dapat bertahan sekitar 30 tahun pada lahan baru. Setelah itu kesuburan akan jenuh dan merusak tanaman sehingga mendatangkan berbagai macam hama dan penyakit pada tanaman.

“Kalau tanahnya sudah subur, pasti tanaman akan lebih imun terhadap serangan hama. Untuk itu petani harus benar-benar memperhatikan ini kalau memang mau pisang barangan tetap berjaya di Sumut,” pungkasnya.

Pembina Asosiasi Penangkar Bibit Tanaman (Aspenta) Sumut, N Akelaras menambahkan, dalam pembinaan pertanian kepada masyarakat pihaknya memang telah banyak menerima anak-anak PKL dan masyarakat lainnya dalam pengembangan sektor pertanian di Sumut. “Melalui anak-anak PKL ini kita harap sektor pertanian di Indonesia khususnya Sumut dapat berkembang,” jelasnya.

Untuk siswa yang PKL, tambahnya, ada sekitar 24 orang dari SMKN 1 Peureulak yang berada di 5 penangkar Aspenta dan SPP Negeri Saree terdapat 10 orang siswa. (yuni naibaho)
sumber: http://www.medanbisnisdaily.com

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *