BATAK KARO DIIMBAU TURUT WUJUDKAN KEMANDIRIAN DAN KEDAULATAN PANGAN

(Minggu,18 September 2011). SAMARINDA  Berbagai tantangan dan isu strategis yang dihadapi Kaltim saat ini terutama ketegantungan pangan dengan daerah lain. Karenanya, Pemerintah Provinsi Kaltim didukung kabupaten dan kota berupaya untuk mewujudkan kemandirian dan kedaulatan pangan. Saat ini Kaltim telah menyiapkan lahan 200 ribu hektare untuk program kemandirian dan kedaulatan pangan. Kondisi lahan-lahan pertanian di luar sudah terbatas bahkan banyak beralih fungsi, padahal kebutuhan pangan semakin meningkat, kata Wakil Gubernur Kaltim, H Farid Wadjdy pada Pesta Seni Budaya Batak-Karo se-Kaltim di Samarinda, Sabtu pekan lalu. Menurut dia, kondisi ini tentunya peluang Kaltim untuk mengembangkan pertanian. Kawasan 200 ribu hektare lahan pertanian program nasional percetakan sawah baru dapat terwujud di Kaltim. Sebelumnya program nasional percetakan sawah baru di Papua, namaun karena ada hambatan. Peluang ini tentunya sangat terbuka bagi Kaltim karena daerah ini memiliki lahan untuk mendukung program pertanian dan transmigrasi. Melalui program tersebut, Pemprov yakin semua kabupaten dan kota serta didukung lembaga legislatif, maka program nasional penguatan pangan dapat dilakukan di Kaltim. Sebab tanah di Kaltim cukup subur dan semua varitas dapat tumbuh dengan baik. Provinsi yang luasnya mencapai 20,86 kilometer persegi memiliki sumber daya alam yang besar dan sebagai penopang utama dalam penerimaan devisa negara. Dari luasan tersebut 19 juta hektare merupakan kawasan daratan. Program ini sangat berpeluang untuk dapat dilaksanakan guna program kemandirian ketahanan pangan. Kerukunan Batak Karo dapat ikut berperan dalam pengembangan program ini. Sebab, tidak satupun warga Kaltim ini yang terlepas dari pemerataan pembanguan baik untuk merasakanan maupun keterlibatan dalam pembangunan, jelasnya. Ditambahkan, pengembangan program nasional ini sangat sejalan dengan program pemerintah daerah khususnya untuk pengentasan kemiskinan dan pengurangan pengangguran di daerah, sehingga melalui program itu mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kaltim. Kaltim ini ibarat gula, banyak semut-semut yang berdatangan untuk mengerumuni. Namun dari sekian pendatang yang ada di Kaltim kebanyakan tidak memiliki pendidikan dan keterampilan memadai, sehingga menambah angka kemiskianan dan pengangguran, ujarnya. Diharapkan melalui program-program pembangunan pro rakyat yang ditetapkan Gubernur Kaltim, Dr H Awang Faroek Ishak, mampu mengangkat dan meningkatkan taraf hidup serta memiliki daya saing dengan daerah lain. Sementara itu, Ketua Kerukunan Batak Karo se-Kaltim Jhony Sinaga Ginting mengatakan Etnis Batak Karo tersebar di sejumlah kabupaten maupun kota di Kaltim. Bahkan terkenal sebagai perantau dari Sumatera Utara yang bekerja dalam bermacam profesi, baik di pemerintahan maupun sektor swasta dan selama ini telah cukup memberikan andil dalam proses pembangunan. Etnis Batak Karo selalu proaktif dan terlibat mendukung suksesnya pembangunan di provinsi ini. Karenanya, keterlibatan warga masyarakat Batak Karo di Kaltim untuk bersama-sama membangun daerah ke arah lebih baik, maju dan sejahtera. Selain itu, warga Batak Karo memegang prinsip selalu mengutamakan kehidupan kekeluargaan dan kekerabatan di manapun berada, termasuk di Benua Etam ini, ujar Jhony Sinaga Ginting. Pesta Seni dan Budaya Karo se-Kaltim diikuti kerukunan Batak Karo dari 14 kabupaten dan kota se-Kaltim serta masing-masing etnis (marga) yakni Karo-Karo, Ginting, Sembiring, Perangin-Angin, Tarigan.(yans/hmsprov). Foto: Wakil Gubernur Kaltim H Farid Wadjdy mendapat Ulos, kain khas Batak pada Pesta Seni Budaya Batak-Karo se-Kaltim. (masdiansyah/humasprov kaltim).
sumber : komunitaskaro@yahoogroups.com

This entry was posted in Berita, Momo Man Banta. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *