BISNIS TERNAK AYAM ORGANIK DAN EKSPOR LOBAK

Bagi Gosner Sitanggang, penyuluh pertanian swadaya ini, mengembangkan sektor pertanian itu tidak rumit asal ada semangat dan kemauan untuk maju. Saat ini dengan beternak ayam kampung sebanyak 700 ekor dengan keuntungan sekitar Rp 10 jutaan.
Kalau dihitung pemeliharaan 1.000 ekor ayam, dikatakan Gosner, bisa mendapatkan keuntungan sekitar 14 juta dengan hanya menunggu 90 hari pemeliharaan ayam setelah dipotong dengan biaya pengeluaran untuk fermentasi, biaya tetap dan tak tetap.

“Pendapatan dari 1.000 ekor ayam dengan harga rata-rata Rp 35.000/ekor bisa mencapai Rp 35 juta dan ini ditambahlagi dengan penjualan kompos ayam atau pupuk kandang sebanyak 5.000kg dengan harga Rp 500/kg,” rincinya.

Untuk anak ayam kampung ini, katanya, diperoleh dengan membeli dari pengusaha pembibitan dan pembesarannya dilakukan dengan pemeliharaan secara intensif dengan kandang fermentasi.

Ayam yang dipasarkan dengan bobot 1 kilogram karena ini yang snagat diminati oleh masyarakat untuk konsumsi seperti pasar, rumah makan dan restoran. “Harga ayam kampung selalu stabil pada bobot ini dan harga jualnya yang tinggi sehingga menguntungkan,” ucapnya.

Dijelaskan Gosner, tertariknya ia mengembangkan peternakan ayam kampung organik ini karena setelah belajar dari Pendeta yang telah belajar tentang pertanian di Jepang. Selanjutnya melihat keuntungan dan peluang pasar yang masih besar, membuatnya bersemangat mengembangkan usaha tersebut. Apalagi ayam kampung atau buras ini banyak dikenal masyarakat Indonesia dan pemeliharaannya sudah sampai ke kota-kota.

Ayam kampung ini juga mempunyai sumber gizi yang bermanfaat bagi kesehatan, pertumbuhan dan kecerdasan. Keunggulan ini didukung pula dari fermentasi kandang ayam buras yang ramah lingkungan, tidak mengandung bau, menjauhi bakteri yang menganggu kesehatan pada yam, menghasilkan makanan pada yam hasil uraian mikroorganisme aktif pada kandang ayam dan lebih cepat pertumbuhannya.

“Tujuan memberlakukan sistem kandang ayam fermentasi ini kita dapat menghasilkan mikroorganisme yang bauk berasal dari nasi, buah, jerami dan serbuk gergaji. Dengan pemberlakuan ini, dapat bekerja dengan baik sehingga berbagai penyakit, virus, bakteri dan jenis penyakit lain bisa dihalau dengan baik,” jelas Gosner.

Untuk itu, lanjutnya setiap masyarakat bisa mengembangkan peternakan ayam kampung ini dengan cara yang benar dan sehat sehingga dapat bermanfaat bagi manusia yang mengkonsumsinya. Peluang ayam kampung yang sehat untuk dikonsumsi ini masih terbuka lebar dengan semakin maraknya rumah makan yang khusus menyediakan daging ayam.

“Ini pertanda sudah saatnya memberi perhatian khusus untuk pemeliharaan ayam kampung yang bobot seragam dan juga beternak dengan mengarah spesialisasi yakni secara organik. Tidak hanya menunjang kesehatan tapi juga menambah penghasilan keluarga,” tutur Gosner.

Ekspor Lobak
Lain halnya dengan Opat Parulian Purba, penyuluh pertanian PNS yang juga berhasil mengembangkan sektor pertania di Tapanuli Utara. Dengan keyakinan dan semangatnya, kini sudah banyak petani yang mengembangkan beberapa komoditi untuk dipasarkan hingga ke luar negeri.

“Kalau dulu masyarakat ini penghasilannya dari menjual kayu-kayu yang ditebang di hutan. Tapi kini sudah berbeda, mereka bertani dan bahkan mengembangkannya hingga menembus pasar ekspor melalui kerja sama dengan perusahaan eksportir lain,” jelasnya.

Bapak dari empat orang anak ini sendirinya sudah mengembangkan tanaman komoditas lobak seluas 20 rante dengan hasil sebnayak 75 ton dan telah diekspor ke Jepang melalui kerjasama dengan PT TAM. Dari MoU tersebut, Opat dapat memperoleh keuntungan sekitar Rp 22 juta  dalam waktu dua bulan memasuki masa panen tanaman.

“Untuk modal yang dikeluarkan dengan lahan seluas tersebut sekitar Rp 8 juta termasuk pembelian bibit Rp 100 ribu/ bungkus untuk luas satu hektar,” katanya yang juga Koordinator BPP Siborong-borong ini.

Kerja sama ini memang sangat membantu petani dalam mendapatkan tambahan penghasilan. Namun begitupun tetap diharapkan harga jual kepada petani dapat ditingkatkan dan pemerintah dapat membantu petani dalam pemasaran dan sarana serta prasarana pertanian lainnya sehingga produktivitasnya tetap tinggi.

“Tanaman lobak ini juga ada serangan hama dan penyakitnya, tapi karena kita menggunakan agen hayati maka itu semua dapat teratasi. Apalagi Jepang sangat mensyaratkan komoditas itu organik atau bebas dari bahan pestisida yang tinggi,” pungkas Gosner. (yuni naibaho)
sumber: http://www.medanbisnisdaily.com

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

1 Response to BISNIS TERNAK AYAM ORGANIK DAN EKSPOR LOBAK

  1. Super-Duper blog! I am loving it!! Will be back later to read some more. I am taking your feeds also

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *