KERAJAAN HARU YANG DI LUPAKAN

Ada Kerajaan Haru, ada pula Kesultanan Deli. Nama ‘Haru’ dalam kajian sejarah Sumatera Timur ternyata sering menyimpan misteri.
Nama ‘haru’ tersebut untuk pertama kalinya muncul dalam catatan Daratan Tiongkok ketika Haru mengirimkan misi ke negara tirai bambu tersebut dalam tahun 1282 M di era kekuasaan pemerintahan Kubhilai Khan.

Kemudian Haru diketahui sering konfrontasi atau berperang berkali-kali melawan Malaka. Dan di pertengahan abad ke-16 bermitra dengan Riau-Johor untuk menghadapi penetrasi Aceh yang muncul sebagai kekuatan baru di perairan selatan Malaka. Konon pada tahun 1539 Aceh mampu menaklukkan Haru, namun sang penakluk tetap saja mengalami pemberontakan disana.

Terhitung mulai akhir abad ke-16 nama Haru mengalami perubahan. Haru kemudian lebih dikenal dengan ‘Ghuri’. Lalu pada awal abad ke-17 menjadi ‘Deli’. Meskipun Haru telah berubah nama dengan Deli, Aceh masih sering mengirimkan pasukan militer yang kuat untuk menaklukkan Deli (bekas wilayah kekuasaan di bilangan Sumatera Timur.)Di era pemerintahan Sultan Iskandar Muda yakni pada tahun 1619 dan 1642 telah terjadi konfrontasi dengan Aceh dan Kesultanan Deli berontak terhadap dominasisang penakluk.

Menurut cerita rakyat setempat, Aceh kemudian menempatkan seorang figur atau sosok Penglima yang ‘sakti’ sebagai wakil Aceh di daerah taklukkan mereka. Panglima perang tersebut bernama atau lazim dipanggil Seri Paduka Gocah Pahlawan, yang kemudian dikenal sebagai cikal bakal Sultan Sultan Deli dan Serdang.
Pertempuran bersenjata yang terjadi diwilayah Haru, membuat rakyat merana. Umumnya mereka sering ‘diamankan’ untuk diboyong ke Aceh dijadikan ‘kuli’ kasar secara paksa. Situasi itu Haru menjadi minus dalam hal kependudukan, dan sering dijadikan sarang bajak laut atau perompak lanun.

Pada awal abad ke-17 ini telah terjadi gelombang imigrasi (perpindahan) suku-suku dari Tanah Karo menuju wilayah pesisir Langkat, Deli Serdang. Bersamaan dengan perpindahan suku dari Simalungun ke pesisir Batubara, Asahan. Disusul dengan perpindahan orang-orang Tapanuli Selatan ke pesisir Kualuh, Kota Pinang, Panai dan Bilah. Pada kala itu, urung diwilayah Deli (Medan) dibangun menjadi salah satu Kuta dari Urung XII-Kuta.

Diantara sejarawan ada yang berpendapat bahwa Tuanku Seri Paduka Gocah Panglawan yang bergelar Laksamana Kudan intan itu tidak lain adalah Laksamana Malem Dagang yang memimpin armada kapal laut Aceh menghadapi Portugis tahun 1629 dan yang menaklukkan Pahanag tahun 1617, Kedah tahun 1620 dan Nias tahun 1624 dan wilayah lainnya yang oleh Laksamana Beaulieu dikompensasi dengan bermacam hadiah.

Dalam catatan sejarah Melayu konvensional dan Hikayat Raja-Raja Pasai dapat dibaca tentang kisah perjalanan rombongan Nahkoda Ismail dan Fakir Muhammad yang datang dan singgah di Fansuri (Wilayah Barus sekarang) sambil memperkenalkan Islam disana. Lalu berlanjut ke Lamuri (Lamuri, Ramni), ke Haru kemudian dari sana meng Islam kan Raja Samudera Pasai bernama Merah Silu, menjadi Sultan Malikus Saleh.
Farizal Nst.(Penulis Guru BP SMA Neg-I Tamora, Pekan Mulok Sumut).
sumber: http://waspadamedan.com

This entry was posted in Berita, Cerita (Turi - Turin). Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *