2011, PEMKAB BIREUEN CETAK 700 HA SAWAH BARU

Bireuen, (Analisa). Pemkab Bireuen melalui Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan dan Kehutanan tahun 2011 mendapat kucuran dana pola padat karya dari pemerintah pusat untuk melakukan cetak sawah baru seluas 700 hektare.
“Insya Allah melalui sumber APBN 2011, pemerintah akan menyalurkan dana sekitar Rp5 miliar untuk mendanai program cetak sawah baru. Untuk setiap hektare kegiatan tersebut, diflotkan dana Rp7 juta,” kata Kadis Pertanian Bireuen, Ir H.Azmi Abdullah, Jumat (12/8).

Seluruh tahapan kegiatan dikelola melalui pola padat karya oleh para kelompok petani dan pemilik lahan di bawah pengawasan Sub Bidang Pengembangan Lahan dan Air Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan dan Kehutanan Bireuen.

Azmi mengatakan, tahun 2011 program cetak sawah baru di Bireuen mengalami peningkatan volume yang relatif tinggi. Sebelumnya (2010), Dinas Pertanian Bireuen berhasil merealisasi program cetak sawah baru di atas lahan non-produktif seluas 200 hektare.

Tahun ini, dari 700 hektare lahan yang akan dikembangkan, 100 hektare di antaranya berada di kawasan Paya Nie Kecamatan Kutablang, sisanya tersebar di berbagai lokasi dalam 11 kecamatan.

Sesuai Program

Jika cetak sawah baru 2011 terwujud sesuai dengan program, maka diharapkan akan terjadi peningkatan hasil produksi padi di daerah itu. Untuk 700 hektare lahan sawah produktif, minimal ditargetkan penambahan hasil produksi gabah lokal mencapai 2.800 ton pada setiap musim panen.

“Jumlah itu diperkirakan dengan ratio perolehan gabah minimal 4 ton per hektare untuk satu kali panen. Alhamdulillah, hasil cetak sawah baru 2010 dapat menghasilkan gabah di atas 4 ton, bahkan mencapai 7 ton per hektare,” ujar Azmi.

Menyinggung potensi sisa lahan terbuka di Bireuen yang berpeluang dijadikan lahan sawah baru, Azmi mengatakan, secara geografis masih tersedia dalam jumlah yang sangat luas seperti di kawasan Pantee Karya Kecamatan Peusangan Siblah Krueng.

Kabupaten Bireuen masih membutuhkan pengembangan cetak sawah baru secara berkala untuk beberapa tahun ke depan. Hal ini seiring masih tersedianya serangkaian potensi alam dan lahan yang mendukung.

Untuk potensi lahan yang tersedia di kawasan Pantee Karya seluas 2.000 hektare lebih, dibutuhkan dana yang relatif besar guna disulap menjadi areal persawahan karena kondisi struktur tanah yang masih padat serta pengaruh rambatan akar pohon.

“Jika cetak sawah baru di lokasi basah membutuhkan biaya Rp7 juta setiap hektare, di areal padat Pantee Karya relatif lebih besar. Saya memperkirakan untuk pengembangan lahan di kawasan itu butuh biaya sekurangnya Rp10 juta per haktare,” tandas Azmi. (hel)
sumber: http://analisadaily.com

This entry was posted in Berita, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *