PENDERITA PENYAKIT GBS MENINGGAL DUNIA

Medan, (Analisa). Hermansyah Efendi (29) penduduk Jalan Letda Sujono Kecamatan Medan Tembung yang menderita penyakit GBS (guillain-barre syndrome) menghembuskan nafasnya terakhir, Kamis (11/8) pukul 04.00 WIB di Rumah Sakit Adam Malik Medan.
Ibu korban, Hj Zurnaini kepada Analisa menyebutkan, Hermansyah Efendi menderita penyakit langka itu sejak 3 Agustus lalu. Saat itu, ia dan ibunya hendak berangkat ke Arab Saudi, namun di Bandara Polonia tiba-tiba korban merasa kakinya lemas.

Dalam waktu yang singkat, pemuda yang berprofesi sebagai wartawan di surat kabar mingguan di Medan itu langsung lumpuh. Selanjutnya, ia langsung dibopong ke Rumah Sakit Haji Medan.

Setelah dirawat beberapa hari di rumah sakit tersebut, korban dirujuk ke Rumah Sakit Adam Malik Medan. Sejak saat itu, ia dirawat intensif di ruang ICU hingga ajal menjemputnya.

Menurut Zurnaini, selama seminggu lebih perawatan, keluarganya sudah menghabiskan biaya puluhan juta rupiah meskipun telah menggunakan jamkesda namun ada obat-obatan yang tidak ditanggung jamkesda. Guna menutupi biaya medis, ibunya terpaksa berutang bahkan berencana menjual rumahnya.

Untuk membayar perawatan anaknya selama di rumah sakit tersebut, ia mengaku meminta bantuan Walikota Medan Rahudman Harahap, sehingga mengurangi bebannya.

Momentum SJSN

Sebelumnya, anggota Komisi IX DPR RI, Rieke Diah Pitaloka kepada wartawan menyatakan, sakit yang diderita sejumlah orang di Indonesia itu menjadi momentum pemerintah untuk segera menjalankan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) secara sungguh-sungguh dengan membentuk Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), yang rancangan undang-undangnya dibahas di DPR pada September mendatang.

Pemerintah harus menanggung biaya medis dan obatnya sebab penyakit GBS, banyak orang yang menjadi miskin, tandasnya.

Bahkan Menteri Kesehatan, Endang Rahayu Sedyaningsih mengakui penyakit itu termasuk salah satu penyakit langka di Indonesia. Pada banyak kasus, pasien bisa sembuh dengan sendirinya namun kasus lainnya bisa berakibat fatal seperti yang dialami Azka (4) di RS Azra Bogor dan Shafa (4) di RS Carolus, Jakarta. Selain jarang terjadi, sulitnya lagi penyakit tersebut sampai saat ini belum memiliki obatnya. Jadi yang bisa dilakukan selama ini hanya merawat saja, menjaga tetap hidup dengan ventilator tapi tidak tahu ujungnya kapan sembuh, kata Endang kepada wartawan di Istana Negara pada Juli lalu.

Endang mengatakan, karena termasuk penyakit yang jarang ditemukan maka GBS memang tidak tersosialisasikan di Posyandu. Sosialisasi pentingnya imunisasi untuk mencegah penyakit yang menyerang kekebalan tubuh (imun) itu akan dimaksimalkan lagi, pungkasnya.

Selain langka, beberapa pakar kesehatan juga menyebut penyakit GBS sebagai penyakit yang cukup aneh. Karena hingga saat ini para ahli belum menemukan penyebab utama munculnya penyakit itu. GBS bukan penyakit turunan, tidak menular, bukan pula karena faktor lingkungan ataupun makanan yang kurang sehat.

Satu-satunya bukti ilmiah yang didapat oleh para ilmuwan adalah bukti bahwa pada penderita GBS sistem kekebalan tubuh secara mandiri menyerang tubuh, oleh sebab itu GBS dikenal juga dengan auto-immune disease. Yang membahayakan, GBS menyerang otot-otot bahkan otot paru-paru tidak bisa berfungsi. Meski jantung sehat namun pasien GBS tidak bisa bernafas normal tanpa bantuan alat bantu pernafasan. (iqb)
sumber: http://analisadaily.com

This entry was posted in Berita, Informasi Kesehatan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *