PENEBANGAN POHON PINUS DI PARAPAT PERLU PERHATIAN SERIUS

Warga Kecamatan Gir­sang Sipangan Bolon resah. Pa­salnya, pohon pinus yang banyak tumbuh di sekitar dae­rah itu  ditebang dengan se­mena-mena orang tak ber­tanggung jawab.

Anehnya, penebangan itu tanpa melihat kondisi  kem­i­ri­ngan maupun daerah umbul air serta Daerah Aliran Sungai (DAS) yang perlu mendapatkan perawatan dan peles­tarian lingkungan agar tetap terpelihara.

“Pemegang izin penebangan kayu di Kecamatan  Gir­sang Sipangan Bolon perlu ditinjau kembali. Penebangan dilakukan tanpa pandang bu­lu, baik itu pada kemiringan maupun daerah umbul air bagi kebutuhan warga setempat untuk air minum maupun kebutuhan irigasi areal persawahan padi,” kata Charles Sirait (56), warga Nagori Si­pangan Bolon kepada Jurnal Medan, kemarin.

Dikatakan Sirait, sejak dilakukan penebangan  hutan rakyat di daerah Nagori Si­pangan Bolon, umbul air Si­dari yang dibangun tahun 1957 untuk mengairi areal persawahan Gonting, Sigala-gala, Lajangan, Sitalolo, serta Sosor Galung dengan hamparan sawah puluhan hektar sudah mulai mengalami pe­nurunan debit air.

Bahkan pada bulan lalu, akibat ulah para penebang pohon pinus yang berada di atas umbul air Sidari, pohon yang ditebang menghantam saluran irigasi hingga jebol. Akibatnya, para petani terancam gagal panen.

“Dalam waktu dekat kami  akan menyampaikan keberatan secara tertulis kepada Muspika Girsang Sipangan Bo­lon,“ ungkap Sirait sembari  me­minta kepada  Dinas Ke­hu­tanan  Simalungun turun ta­ngan meninjau kembali atas izin yang diberikan kepada pihak pemegang Izin Peman­faatan Kayu Tanaman Ma­syarakat (IPKTM). Agar ke­les­tarian lingkungan tetap ter­jaga.
sumber: http://medan.jurnas.com

This entry was posted in Berita, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *