KEMBALIKAN DANAU TOBA SEPERTI 20 TAHUN LALU

Pada dekade 80-an Daerah Tujuan Wisata (DTW) Danau To­ba adalah produk andalan pariwisata sebagai industri tanpa asap, dengan catatan para wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara setiap ta­hun datang berkunjung.

Namun belakangan ini, kunjungan wisatawan drastis turun akibat persoalan yang multi dimensi.
“Akankah kondisi Danau To­ba dapat dikembalikan se­per­ti 20 tahun  lalu? Kalau me­mang citra Danau Toba ingin ber­jaya seperti 20 tahun lalu, perlu dilakukan beberapa terobosan bahkan perlu dievaluasi persoalan mana yang paling utama dipecahkan,” kata ang­gota DPR RI Anthon Sihombing usai mengikuti pesta Jubelium 150 tahun HKBP Resort Parapat, kemarin.

Salah satu contoh. Kini  Da­nau Toba menampung puluhan bahkan ratusan ton pakan ikan untuk kebutuhan Keramba Ja­ring Apung (KJA) yang ditum­pahkan setiap harinya. “Belaka­ngan ini ikan nila lebih dikenal di luar negeri ketimbang keindahan Danau Toba,” kata Anton.

“Inilah limbah terbesar se­ba­gai pencemaran Danau Toba. Belum lagi limbah masyarakat yang bermukim di pesisir Danau Toba serta para pelaku pariwisata, seperti hotel yang berada di sekitar Danau Toba. Apa­kah sudah memenuhi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal)?” tandasnya.

Tidak hanya KJA dan pelaku pariwisata serta warga yang merusak Danau Toba. Kebera­daan pabrik kertas PT Toba Pulp Lestari (TPL) yang kini memperluas penebangan Hutan Alam dengan Izin Hak Penguasaan Hu­tan Tanaman Industri (HP­HTI) perlu ditinjau kembali, ka­rena sudah terlalu luas areal pe­nebangannya. Sehingga terkesan  kondisi Danau Toba semakin terusik. Ditambah lagi angkutan yang beroperasi dari lahan produksi mengangkut kayu gelondongan menuju pabrik di Porsea dengan over kapasitas. “Pada rapat komisi nantinya akan kita bawakan di Jakarta, karena per­lu diadakan jembatan timbang pada dua titik antara Kabupaten Toba Samosir dan Simalungun sebagai  pintu masuk di areal HPHTI pada TPL,” tambahnya.

Masih persoalan turunnya kunjungan wisatawan ke Danau Toba, menurut Anton Sihom­bing, sangat  sulit untuk dipe­cah­­kan.

Sebagai contoh. Anton Si­hombing yang notabene putra Sumatera Utara yang memiliki lahan di Tomok, Samosir tidak mau membangun hotel atau eng­gan berinvestasi di ka­wasan Danau Toba. Sebalik­nya, Anton membangun Resort di daerah Lombok.

“Jadi perlu ada strategi dan peran aktif  seluruh elemen un­tuk melakukan evaluasi. Seperti persoalan Keramba Jaring Apung (KJA), pendidikan ma­sya­rakat (SDM pariwisata), informasi pariwisata termasuk peran serta pemerintah daerah dan pu­sat, serta  perlu dibentuk oto­rita pariwisata yang meliputi se­luruh kawasan Danau Toba,” ka­ta anggota DPR RI yang mem­bidangi kehutanan, per­ikanan, pertanian serta ketaha­nan pangan.

“Untuk kepedulian Danau Toba, kita telah merencanakan pengadaan dan penanaman 1 mi­liar pohon melalui Dinas Ke­hutanan,” tambah Anton.
sumber: http://medan.jurnas.com

This entry was posted in Berita, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

1 Response to KEMBALIKAN DANAU TOBA SEPERTI 20 TAHUN LALU

  1. Pingback: Buy Adderall Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *