POPULASI SAPI DAN KERBAU 617.671 EKOR

MedanBisnis – Medan. Populasi sapi dan kerbau di Propinsi Sumatera Utara (Sumut) mencapai 617.671 ekor atau masuk dalam rangking kesembilan secara nasional dengan kontribusi 3,79%. Meski angka tersebut sudah surplus dilihat dari tingkat konsumsi, namun pemerintah secara tegas melarang pemotongan sapi betina guna mempertahankan ternak mencapai swasembada 2014.
Kabid Sarana dan Prasarana Dinas Peternakan Sumut, Parmohonan Lubis, mengatakan, dari populasi yang telah disensus baru-baru ini menunjukkan, Sumut masih surplus hewan ternak. Angka populasi hewan ternak itu terbagi dari populasi sapi potong sebanyak 504.624 ekor, sapi perah sebanyak 793 ekor dan populasi kerbau sebanyak 112.254 ekor.

“Populasi sapi, kita masuk rangking 8 secara nasional dan untuk populasi sapi dan kerbau kita posisi ke 9. Populasi sapi secara nasional yang mencapai 14,4 juta ekor ini sudah lebih tinggi dari target swasembada 2014 yang mencapai 14,2 juta ekor,” ujarnya kepada MedanBisnis, Rabu (3/8).

Dikatakannya, untuk populasi sapi sebanyak 504.624 ekor, yang dapat dipotong sekitar 15,95%. Jika dikalikan dengan rata-rata berat karkas sekitar 160kg/ekor, berarti produksi daging di Sumut mencapai 12.878 ton. Sementara untuk konsumsi seluruh masyarakat Sumut pertahunnya sebanyak 4.420 ton.

“Ini menunjukkan kemampuan produksi mencapai 3 kali lipat untuk memenuhi kebutuhan. Apalagi tingkat konsumsi daging di masyarakat masih minim atau sekitar 0,34 kg perkapita pertahun,” ungkapnya.

Dengan kondisi populasi hewan ternak sapi dan kerbau ini, lanjutnya, Sumut tidak perlu khawatir akan adanya penghentian impor sapi seperti yang terjadi beberapa waktu lalu dari Australia. Meski memang, pedagang ternak atau daging, sedikit mengelami kesulitan dalam mengumpulkan sapi yang memang keberadaannya tersebar di seluruh daerah.

“Beda dengan impor, pedagang bisa berapapun memesan sapi dan langsung ada. Kalau sapi lokal, lebih sulit dan memakan waktu dalam mengumpulkannya,” kata Parmohonan.

Sementara untuk pencapaian swasembada daging 2014, dijelaskannya, optimis dapat teralisasi dengan posisi populasi ternak yang ada saat ini. Namun untuk swasembada berkelanjutan, pemerintah terus melakukan banyak program pengembangan sapi dan kerbau seperti menjalankan kegiatan penambahan populasi ternak seperti intensifikasi kawin alam dan inseminasi buatan, peningkatakan pelayanan kesehatan hewan, kualitas RPH dan kualitas pakan.

Sapi Betina Produktif
Selain banyak program pengembangan dilakukan, pemerintah dengan tegas tetap melarang adanya pemotongan sapi betina produktif yang diatur dalam Undang-undang (UU) No 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Di mana diatur pemotong sapi betina produktif dapat dihukum pidana kurungan paling singkat tiga bulan dan paling lama sembilan bulan dan atau denda paling sedikit Rp5 juta dan paling banyak Rp25 juta.

Namun, diakuinya masih terus ada pemotongan sapi betina produktif yang banyak dilakukan di rumah potong hewan (RPH) maupun pasar-pasar hewan yang ada di kabupaten/kota di Sumut.

Sapi betina produktif yang sering dipotong yakni dengan kriteria dari usia hewan di bawah 10 tahun serta sapi yang baru melahirkan 5 kali. “Pemotongan ini memang tidak dapat dihindari karena merupakan hak dari peternak masing-masing,” ucapnya.

Dalam menyelamatkan sapi betina produktif tersebut, pemerintah telah menyiapkan dana talangan bagi kelompok tani di daerah-daerah sentra ternak di Sumut seperti di Kabupaten Deliserdang, Asahan dan Simalungun.

Anggaran yang diberikan yakni berkisar Rp475 juta perkelompok dengan target penyelamatan sapi betina produktif sebanyak 40 ekor per kelompok. Dari seluruh anggaran ditargetkan sapi betina yang diselamatkan mencapai 1.200 hingga 1.500 ekor.

“Dengan begitu diharapkan kelompok tani dapat membeli sapi betina produktif yang akan dijual petani dengan memelihara sapi untuk dibesarkan,” imbuhnya.

Sebelumnya, Ketua II Bidang Sapi Potong Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Sumut, Elianor Sembiring menyatakan, pemerintah memang harus terus melakukan penyelamatan terhadap pemotongan sapi betina produktif guna menambah populasi ternak lokal.

“Ada dua hal yang perlu disikapi yakni mempertahankan induk produktif agar tidak dipotong dengan memberikan insentif kepada peternaknya. Serta juga meningkatkan kualitas perkawinan silang antara lokal dan impor untuk memperbanyak sapi betina,” pungkasnya. (yuni naibaho)
sumber: http://www.medanbisnisdaily.com

This entry was posted in Berita, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *