TEMUAN PATROLI SEKOLAH HARUS DITINDAKLANJUTI

TRIBUN-MEDAN.com, PEMATANGSIANTAR – Sekolah harus menindaklanjuti temuan Patroli Sekolah sehingga pembinaan yang dilakukan tidak sia-sia. Setidaknya ada empat sekolah yang masuk dalam daftar hitam penyumbang terbanyak murid yang tertangkap karena tindakan indisipliner di luar sekolah.

“Sekolah-sekolah ini sepertinya tidak peduli,” kata Ketua Tim Patroli Juniar Sinaga setelah memulangkan 21 siswa yang tertangkap bolos, Rabu (4/8). Menurut Juniar, setelah melakukan menangkap para siswa dan memulangkannya, Dinas Pendidikan dan Pengajaran (Dikjar) selalu memberi tahu sekolah terkait dengan harapan ada tindak lanjut.

“Mereka mengiayakan, tapi sepertinya tidak ada,” katanya. Karena tahu sikap apatis dari empat sekolah yang siswanya paling sering tertangkap, akhirnya tim langsung melakukan pendekatan personal kepada siswa. “Kita nasehati siswanya. Dilapor ke sekolah juga tidak ada guna. Untungnya tidak ada yang tertangkap lebih dari dua kali,” ujarnya.

Patroli Sekolah Dikjar Pematangsiantar bekerja hampir setiap hari sejak tahun 2000 dan tidak pernah kekurangan tangkapan yang kebanyakan berasal dari sekolah menengah kejuruan (SMK) swasta.

“Mungkin karena di sekolah itu banyak praktik-praktik di luar sekolah yang tidak jelas. Siswa disuruh praktik, tapi tidak diawasi oleh gurunya,” kata anggota patroli Oolin Siahaan. Selain itu, ada indikasi sekolah enggan memberi sanksi karena takut kehilangan murid yang notabene adalah sumber pemasukan.

Ketua Badan Musyawarah Perguruan Swasta Pematangsiantar R Suharto, sepakat dengan pendapat di atas. Menurutnya, peran guru memang sangat vital dalam penanggulangan murid bolos. “Mengapa siswa bolos? Karena guru tidak mau tahu,” ujarnya. Menurutnya, seringkali didapati jumlah siswa berkurang saat jam pelajaran ketiga. “Kalau jam pertama dan kedua ada 40 orang, dan jam ketiga jadi 38 orang, ya dicari tahu kemana,” katanya menambahkan.

Jika ada siswa yang tertangkap Patroli Sekolah, Suharto meminta sekolah tidak ragu memberi sanksi. Ia geram dengan sekolah yang takut kehilangan siswa akibat mengambil tindakan seperti itu. “Kalau ada sekolah seperti itu, bagus ditutup saja! Sekolah itu bukan hanya bisnis,” katanya menegaskan.

Menurut Suharto, Badan Musyawarah Perguruan Swasta Pematangsiantar yang merupakan wadah bagi seluruh seoklah swasta di kota ini, memang belum pernah membahas secara khusus permasalahan ini. (ton/tribun-medan.com)
sumber : http://medan.tribunnews.com

This entry was posted in Berita, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *