GANGGU PROGAM ASI EKSLUSIF PEMERINTAH DIMINTA AWASI SUSU FORMULA

MEDAN (Berita) : Pemerintah khususnya Dinas Kesehatan dan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) diminta untuk mengawasi peredaran susu formula untuk bayi. Sebab, promosi susu dibawah umur satu tahun sangat menggangu program Air Susu Ibu (ASI) ekslusif kepada anak.

“Susu formula yang dalam botol dipakai ibu baru melahirkan dalam keadaan darurat, jika si ibu bayi benar-benar tidak bisa menghasilkan ASI. Ada pengaturannya, dan ini tidak dijual sembarangan misalnya dipasarkan dan dipromosikan di plaza, tidak boleh disediakan di klinik dan Rumah Sakit (RS). Karena ini tidak mendukung program ASI ekslusif yang diperoleh bayi,” ungkap Direktur Jaringan Kesejahteraan/Kesehatan Masyarakat (JKM), dr Delyuzar SpPA, Selasa (2/8).

Menurut Ketua Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Medan itu, susu dibawah umur satu tahun hanya diperbolehkan dijual di apotik dengan aturan yang sangat ketat. Pembeliannya dibenarkan hanya dengan menggunakan resep dokter.

“Saat ini kita mengetahui susu formula untuk bayi disediakan di klinik dan rumah sakit. Ini jelas melanggar aturan, dan Pemerintah melalui Dinas Kesehatan harus memberikan advokasi klinik atau rumah sakit tersebut,” sebutnya.

Dijelaskannya, progam pemerintah sudah berjalan menggalakkan imunisasi menyusui sejak dini mulai dari klinik-klinik atau rumah sakit bersalin, mulai dari bidannya, dokter kebidanannya turut harus betul-betul memang membarikan pemahaman yang benar bahwa, bayi itu sebelum satu jam harus dapat ASI dari ibunya.

“Ada dua keuntungan yang diperoleh ibu baru melahirkan, pertama bisa menghentikan perdarahan pasca persalinan karena isapan bayi dapat merangsang hormon diotak ibu dengan menghasilkan ositoksin sehingga bisa membuat kontraksi pada rahim. Kedua, hormon prolaktin yang diotakuntuk menghasilkan ASI hanya dimulai dengan isapan oleh bayinya, maka terbentuklah ASI tersebut,” jelasnya seraya mengatakan bayi diupayakan sesegera mungkin diletakkan di dada ibunya agar bayi tersebut mencari ASI nya sendiri.

Disebutkannya, ASI sejak dini yang diperoleh bayi hingga enam bulan tersebut tanpa campuran. Jika dicampur dengan susu formula, bayi tersebut akan kenyang dan tidak lagi menyusui maka, ASI ibu bayi tersebut akan berhenti. “Untuk ASI ekslusif yang diperoleh bayi, mulai enam bulan hingga dua tahun dan makanan tambahan,” katanya.

Delyuzar mengharapkan agar petugas dapat latihan dan memahami berapa penting bagaimana ASI yang diperoleh bayi sejak dini. Kemudian, harus diadvokasi klinik bersalin dan dokter kebidanan agar benar-benar mengingatkan ASI sejak dini.

Selain dokter dan bidan, ibu dan ayah si bayi harus memahami ASI hingga enam bulan tersebut,” jelasnya. Secara terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Utara (Propsu) dr Candra Syafei SpOG menyebutkan untuk mendukung program ASI diSumut pihaknya sudah melakukan sosialisasi konseling menyusui di Kabupaten Kota.

“Dinas Kesehatan Propsu sudah mempunyai 12 pelatih nasional sebagai konselor menyusui dini bagi Kabupaten Kota yaitu dokter spesialis anak di rumah sakitdan perawat serta bidan,” ungkapnya.

Selain 12 pelatih nasional, lanjut Candra, telah ada 12 rumah sakit dilatih konseling menyusui yaitu dokter anak, bidan dan perawat. “Sekitar 37 % dilakukan rawat gabung, secara bertahap tiap tahun akansemua rumah sakit pemerintah akan dilatih. Kalau penjualan susu formula menurut aturan WHO, tidak boleh ada produksi susu formula untuk bayi dan semua klinik bersalin tidak memberikan susu formula pada bayi. Rumah sakit dan Puskesmas sudah mulai menganjurkan untuk tidak memakaiempeng atau dot,” tandasnya. (don)
sumber: http://beritasore.com

This entry was posted in Berita, Informasi Kesehatan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *