MUTU JALAN BANDA ACEH-CALANG LEBIHI STANDAR NASIONAL

Banda Aceh, (Analisa) : Menteri Pekerjaan Umum (PU), Djoko Kirmanto, kagum setelah melihat langsung kualitas ruas jalan nasional Banda Aceh-Calang yang dibangun kembali oleh USAID pasca kerusakan akibat gempa dan tsunami 2004.

Jalan tersebut dibangun sepanjang 150 kilometer. Untuk setiap satu kilometer, USAID mengalokasikan dana Rp23 miliar lebih, sementara standar nasional dalam satu kilometer pembangunan jalan hanya sekitar Rp5-10 miliar.

“Kualitas jalan ini bagus sekali, (biaya) mereka per kilometer mencapai Rp23 miliar lebih, standar nasional kita paling Rp5 sampai 10 miliar. Sehingga ini melebihi standar nasional,” ujar Djoko Kirmanto kepada wartawan saat meninjau jembatan Lambeusoe, di Lamno, Aceh Jaya, Senin (25/7).

Dalam kesempatan itu, Menteri PU didampingi Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar; Kepala Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (BMCK) Aceh, Ir Muhyan Yunan; dan Ketua Tim Leader USAID untuk pembangunan Jalan Banda Aceh-Calang, Roy Ventura.

Menurut Menteri, bagusnya mutu jalan yang dibangun dengan bantuan USAID itu karena mereka hanya terkonsentrasi sepanjang 150 kilometer saja, sementara Kementerian PU meski memiliki dana ratusan triliun tapi jalan yang ditangani sepanjang 38 ribu kilometer.

Ditambahkan, beberapa tahun lalu pasca tsunami, Kementerian PU punya impian mengganti jalan rusak tersebut dengan jalan baru dari Banda Aceh sampai Meulaboh, Aceh Barat.

Tapi karena biayanya besar lalu ada tawaran bantuan dari USAID, dan itu dikerjakan langsung oleh mereka, termasuk jembatan Lambeusoe yang sempat terlantar selama beberapa tahun akibat masalah sosial dengan masyarakat setempat.

“Jembatan yang sudah selesai dibangun ini, ini termasuk yang saya terkenang terus, setelah diberitahu jembatan ini selesai saya berkeinginan meninjaunya,” terangnya.

Ditanya tentang ada beberapa kilometer lagi ruas jalan tersebut yang belum tuntas karena belum teraspal, Menteri PU menyatakan, menurut kontrak, sampai akhir tahun ini selesai baik jalan maupun jembatannya.

Wagub Aceh, Muhammad Nazar dalam kesempatan itu menyatakan bahagianya atas selesainya pembangunan jembatan Lambeusoe.

“Selama ini saya dengan Roy Ventura dari USAID sering menyelesaikan persoalan-persoalan berbau sosial di sini. Masalah tanah, jembatan Kartika, kemudian berhubungan dengan Zidam IM, mobil tertahan berkilo-kilo meter karena macet di jalan berlumpur. Ada yang mengamuk. Ini satu tantangan besar, jadi saya sangat respek pada USAID yang menempatkan Roy Ventura yang begitu sabar,” terangnya.

Nazar juga berharap bupati di daerah setempat harus mempersiapkan masyarakatnya untuk dapat menggunakan jalan ini bermanfaat sebagai strategi ekonomi, jangan sampai jadi jalan mewah sekadar untuk nyaman naik mobil dan sepeda motor tapi tidak ada efek ekonominya.

“Jadi sektor industri, perkebunan, dan pariwisata di sini harus dikonsep oleh bupati yang akan memanfaatkan jalan ini,” sebutnya. (mhd)
sumber: http://analisadaily.com

This entry was posted in Berita, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *