PARMALIM DAN PERJUANGANNYA

APA SEBENARNYA Parmalim itu? Kenapa Parmalim untuk sebagian masyarakat Batak masih dianggap “momok’? Seperti, Parmalim itu adalah agama Parbegu (orang yang percaya kepada hantu dan sebagainya) walau mereka tidak pernah mengetahui apa sebenarnya Parmalim.

Parmalim sudah menjadi sebuah identitas bagian sebagian masyarakat Batak, sedangkan kelembagaannya yang disebut Ugamo (agama) Malim. Parmalim percaya kepada Tuhan yang dalam sebutannya mereka mengatakan Ompu Mulajadi na Bolon. Batak pada zamannya tidak mengenal Dewata (Debata). Batak amenyebut Debata, karena Batak lidah etnik Batak ketika itu, tidak bisa menyebut huruf “W”. Huruf “W” disebut dan berganti dengan huruf “B”. Contohnya Dewata menjadi Debata, Wilson menjadi Bilson, Watas menjadi Batas, Waldemar menjadi Baldemar. Itu memang khas Batak. Seperti tulisan ingkon harus dibaca Ingkon. Binsar dibaca Bitcar. Sebelum agama baru masuk ke tanah Batak, etnis Batak amenyebut Tuhan itu adalah Ompu MUlajadi na Bolon, bukan Debata. Sama seperti orang Ambon menyebut Tuhan adalah Tete Manis.

Pedngikut Parmalim itu adalah kaum pejuang dan tak pernah berhenti berjuang. Leluhur pendahulunya, sejak Sisingamaraja-I selalu berjuang untuk kebenaran dan berjuang untuk kemakmuran rakyat. Dia membuat ruhut-ruhut (aturan) bagaimana menebang kayu, pemukiman tak tak boleh di tepi sungai, minimal 20 meter dari Daerah Aliran Sungai dan seterusnya. Juga membuat aturan-aturan adat istiadat yang sampai sekarfang masih diikuti oleh etnis Batak, walau agama baru (Kristen, Katolik dan Islam) sudah memasuki kawasan Batak.

Perjuangan terakhir dari Sisingamangaraja menyatakan menolak kolonialisme Belanda yang dinilai merusak tatanan kehidupan masyarakat adat dan budaya. Masuknya tatanan baru, seiring dengan menyuspnya ‘kepercayaan baru” yang bukan hanya meninggalkan tai juga tidak mengakui lagi Mulajadi na Bolon. Bahkan kata Ompu sudah beralih kepada manusia sebagai seoang pemimpin, bukan kepada Tuhan.

Begitu Indonesia merdeka, Parmalim langsung mendukung kemerdekaan itu. Mendukung bukan hanya dengan cakap atau dengan perjuangan peperangan melawan Belanda dalam agresi pertama dan kedua saja. Parmalim langsung menyerahkan Parmalim Schoole kepada pemerintah menjadi Sekolah Rakyat (SR). Parmalim Schoole adalah sekolah pemerintah yang pertama di tanah Batak. Bagaimana denghan sekolah-sekolah yang dibangun oleh berbagai Zending (dua agama baru)? Mereka memertahankan sekolah itu dan tidak menyerahkan kepada pemerintah untuk dikelola oleh pemerintah.

Rasa nasionalisme mereka sebagai bagian dari bangsa, terlihat pada saat Pemilu pertama tahun 1955. Mereka tidak ikut pada Partai Lokal yang ada di tanah Batak, seperti Partai Sibual-buali, PRN, Lubuk Raya, Silindung Jaya, Samosir Bersatu dan sebagainya. Para pengikut Parmalim, memilih bersatu dengan Partai Nasional Indonesia (PNI) dengan Marhaenisme-nya. Marhaenisme menurut mereka lebih tepat untuk mereka. Kegotongroyongan, adalah hidup dan kehidupan orang Parmalim. Hal ini rasanya perlu menjadi catatan penting bagi kaum Marhaenis yang sekarang berkoak-koak tentang Marhaenisme di tanah Batak, tapi tidak mengetahui bagaimana sejarah Marhaenisme berkembang di tanah Batak. Sejak itulah Marhaenisme berkembang di Batak.

Memasuki era Orde Baru, hujatan terhadap Parmalim semakin dahsyat. Hujatan itu datangnya justru dari para pemuka-pemuka agama, untuk mengembangkan ajarannya. Mereka mengatakan kepada para umatnya, bahwa Parmalim itu ajaran sesat, tidakberagama, tidak berbudaya, tidak memiliki peradaban dan banyak hujatan lainnya. Bahkan ada sumber yang mengatakan, banyak orang-orang Parmalim ditangkap dengan tuduhan PKI, karena tidak menganut agama seperti Kristen, Katolik dan Islam. Sejak peristiwa G.30.S/PKI, Parmalim yang diperkirakan mempunyai pengikut lebih 30% di tanah Batak, “harus menyeberang” ke agama lain.

Warga Negara

Mereka terus mendapat tekanan, namun dengan hati, mereka terus berjuang. Penguasa negeri tetap tidak mengakui Ajaran Hamalimon/ Parmalim. Pemerintahpun melebur ajaran Sisingamangaraja itu pada Aliran Kepercayaan di bawah naungan Departemen Oendidikan dan Kebudayaan, bukan di Departemen Agama.

Baru tahun 2006 lahirnya UU No. 23 tahun 2006 mereka mendapat kesempatan untuk dicatatkan sebagai warga negara, melalui catatan sipil dan berhak mendapat Kartu Tanda Penduduk. Penulis menyatakan kehidupan mereka sangat sedih, karena ada diskriminasi. Sejak 17 Agustus 1945, baru tahun 2006 mereka “diakui” sebagai warga negara, padahal mereka berjuang untuk mengusir penjajah dari bumi Indonesia.

Beberapa kali masyarakat Batak dengan bangga ikut melakukan napak tilas perjalanan perjuangan Sisingamangaraja XII dalam melawan Belanda. Napak tilas itu, hanya sebuah seremonial perjalanan perjuangan saja. Pernahkah panitia peringtan terhadap Sisingamangara XII memaparkan bagaimana Sisingamangara melakukan ritual agamanya? Bagaimana Sisingamangaraja melakukan ritual budayanya yakni budaya Batak? Kalau tidak kenapa? Kenapa pula mereka yang dari Parmalim tak pernah diikutkan jadi panitia peringatan Sisingamangara? Kalau pun ada, hanya ibarat timun bungkuk, mereka didudukkan, tapi tidak diberikan posisi.

Perlahan Bangkit

Pendiskreditan terhadap Parmalim, seperti tiada berujung. Baik dari kalangan pemuka agama, maupun dari kalangan masyarakat yang bukan Parmalim. Bertahun-tahun mereka menunggu dan menunggu agar rumah ibadah mereka di Jalan Air Bersih Ujung di Medan, tak bisa dibangun. Hanya karena ulah beberapa rumah tangga yang nota bene adalah etnis Batak juga.

Beberapa etnis Batak yang berdekatan dengan rumah ibadah Parmalim mengatakan, mereka takuty anak-anak mereka bisa terikut menjadi Parmalim. Sebuah alsan yang sagat menggelikan. Buykankah setiap kepala rumah tangga wajib mendidik anak-anak mereka agar kokoh pada imannya masing-masing?

Setelah perjuangan dan doa yang tak pernah henti-hentinya, akhirnya rumah ibadah mereka di Jalan Air Bersih Medan pun bisa diresmikan. Nyatanya tidak ada warga setempat yang terindikasi beralih ke agama Parmalim. Kenapa?

Mereka beribadah, penuh dengan keheningan. Tidak memakai mic atau mengeras suara dengan loudspeaker mengeluarkan suara yang membahana. Mereka juga tidak ada pendakwahan atau semacam penginzilan kepada orang yang bukan Parmalkim. Jelasnya, tidak ada syiar-syiar agama dari mereka.

Lalu bagaimana mereka menyampaikan kepada masyarakat tentang keparmaliman itu? Ternyata tidak dengan kata-kata, melainkan dengan tingkah laku saja. Dengan tingkah laku/perbuatan, mereka menyampaikan syiar agama mereka kepada siapa saja. Berbicara dengan lemah lembut dan tidak pernah menyakiti hati orang lain. Mereka adalah orang yang sangat mudah memaafkan orang lain atas kesalahan yang mereka perbuat.

Saat pergi ke Huta Tinggi Lagu Boti dalam upacara ritual Sipaha Lima, ada seorang teman yang ketinggalan camera yang harganya berkisar Rp. 60 juta karena kelupaan. Dua jam kemudian sang rekan menjadi pucat pasi karean camera milik kantor itu tinggal di sebuah kedai minum. Apa yang terjadi? Camera yang tertingal tetap berada di tempatnya semula di atas meja, bahkan ada beberapa banyak y ang minum di sana, malah tidak berani mendekati meja yang di atasnya ada camera mahal. Camera tidak hilang, bahkan bergeser sedikit saja pun tidak. Para pengikut Parmalim justru menjaga camera itu dari kejauhan, karena mereka takut ada orang yang bukan pengikut Parmalim mencuri camera yang tertingal itu.

Semua upacara ritual yang dilaksanakan oleh Parmalim, tidak seperti upacara-upacara yang dilaksanakan aoleh etnis Batak lainnya yanag penuh dengan hiruk-pikuk bahkan teriakan-teriakan keras. Mereka penuh dengan senyum dan tegur sapa yang sopan dan lemah lembut. Mengerjakan pekerjaan dengan tertib dan teratur tanpa disuruh. Mereka sudah tau fungsi masing-masing apa yang harus dilakukan. Tidak ada perintah, apa lagi bentakan. Yang ada hanya sebuah permohonan. Jika seseorang meminta agar si X melakukan sesuatu, dengan lembut dan sopan mereka memohon seperti mengatakan dalam bahasa Batak:” Mohonlah jika tidak keberatan, ambilkanlah saya teh segelas. Saya sudah sangat haus.” Apa jawab orang muda yang dimintai tolong?

“Dengan senang hati, aku akan mengambilnya.”

Dalam acara ritual itu, sepertinya, teknologi tidak demikian pentingnya. Tidak ada loudspeaker yang keras apalagi TOA atau sejenisnya, karena tak perlu bersuara keras.

Tidak seperti dalam abayangan banyak orang yang tak pernah menyaksikan upacara ritual Parmalim, tapi mampu memberikan opini. Mengatakan Parmalim iktu menyembah begu-begu/hantu, menyembah berhala dan tidak bertuhan serta ucapan yang menyakitkan lainnya. Nyatanya tidak demikian. Mereka mengenal Tuhan dengan sebutan Ompu Mulajadi na Bolon. Mereka memiliki nabi. Memiliki Kitab Suci, memiliki rumah ibadah, memiliki tata ibadah, memiliki imam dan memiliki pengikut. Tujuh persayaratan yang ditetapkan oleh convensi Jeneva bila terpenuhi, maka dapat dinyatakan sebuah agama. Convensi Jeneva itu berlaku untuk semua negara yang daa di dunia dan Indonesia adalah salah satu negara yang menyetujui isi dari Convensi Jeneva itu. Sebuah convensi yang kita setujui dan sudah dipenuhi oleh Parmalim, namun kita belum juga mengakui mereka sebagai sebuah agama resmi di Indonesia.

Parmalim pun akhrinya mengambil kesimpulan. Mereka tidak butuh pengakuan dari siapapun juga. Mereka hanya butuh, Ompu Mulajadi na Bolon mengakui mereka dan menerima amal ibadah mereka dan mereka tidak diganggu saat melaksanakan ibadah mereka. Untuk apa pengakuan dari manusia? Bukankah beragama bukan untuk gagah-gahan, tapi hanya untuk beribadah? Ibadat yang mereka persembahkan kepada Ompu Mulajadi na Bolon, haruskah diakui oleh manusia? Nyata tidak perlu. Secara perlahan Parmalim terus bergerak dengan perlahan, namun pasti. Oleh: Idris Pasaribu
sumber: http://analisadaily.com

This entry was posted in Berita, Cerita (Turi - Turin). Bookmark the permalink.

2 Responses to PARMALIM DAN PERJUANGANNYA

  1. marihot says:

    SURGA RUMAH TUHAN.
    TIDAK ADA SURGA BAGI MANUSIA.

    (10) Tetapi bila manusia mati, maka tidak berdayalah ia, bila orang binasa, dimanakah ia? (11) Seperti air menguap dari dalam tasik, dan sungai surut dan menjadi kering, (12) demikian juga manusia berbaring dan tidak bangkit lagi, sampai langit hilang lenyap, mereka tidak terjaga, dan tidak bangun dari tidurnya.
    Ayub 14:10-12

    Penjelasan Alkitab oleh Maestro Evangelista,
    http://www.thename.ph/thename/revelations/noheaven-en.html

  2. harpin says:

    Kadang2 kita bisa melihat jahatnya pemuka agama, untuk menyebarkan agama barunya, ia perlu mematikan agama yang sudah ada dengan segala cara, mungkin orde baru adalah kaki tangan agama baru dengan back up kolonial modern amerika, dicap komunis habislah sudah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *