PETERNAK KTM KETAPANG SANGAT BUTUH AIR

Takengon, (Analisa) : Ribuan ternak yang dipelihara warga di peternakan Kota Terpadu Mandiri (KTM) Ketapang Kecamatan Linge, Aceh Tengah sangat membutuhkan air.

Menurut warga Ketapang, mereka kesulitan memberikan minum, membersihkan sapi dan kandang karena sudah 3 bulan lebih tidak turun hujan. Sementara sumber air yang ada cukup jauh dan debit airnya mulai mengecil.

Sebagian kecil rumah warga peternak masih teraliri air. Sekitar duaratusan warga peternakan Ketapang mengharapkan kolam penampungan air hujan yang tersendat pembangunannya segera dikerjakan kembali.

Selama ini untuk memberi minum atau memandikan ternak, warga terbantu dengan adanya kolam penampungan air tersebut, namun kini kering sama sekali. Beberapa peternak terpaksa melepas ternaknya masuk ke hutan sekitar untuk mendapatkan air.

Peternakan Ketapang berjarak 95 Km dari Takengon itu sudah mulai berkembang. Sebagian ternak bahkan sudah dikembalikan peternak kepada Pemkab Aceh Tengah. Ternak-ternak yang dikembalikan itu selanjutnya diserahkan kepada peternak baru atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ketapang II.

Menurut salah seorang peternak M. Noval, Jumat (21/7), kekeringan air cukup menyulitkan warga Ketapang. Apalagi masing-masing peternak harus mengurusi ternak-ternak yang dibantu ternak Pemda sebanyak 15 ekor sapi. Ketidaktersedianya air juga menyulitkan petani untuk menyirami tanaman palawija. Warga Ketapang masih dibantu jatah hidup (jadup) baik baru maupun yang telah lama menempati lokasi peternakan itu.

Pemborosan

Sementara Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Jaringan Anti Korupsi Gayo (Jang-Ko) berpendapat lain, Ketapang yang oleh sejumlah kalangan dinilai sebagai program yang cukup visioner justru dinilai pemborosan uang negara. Bahkan, proyek yang sudah berjalan 5 tahun lebih itu belum memberikan kontribusi untuk menyumbangkan pendapatan asli daerah (PAD) bagi Aceh Tengah.

Jang-Ko meminta Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Tengah maupun DPR Aceh segera melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan proyek Peternakan Ketapang. Jang-Ko melihat banyak “permainan” dalam proyek tersebut.

Koordinator Jang-Ko, Hamdani baru-baru ini mengatakan, setelah lima tahun proyek itu digulirkan, belum memberikan dampak positif seperti menyumbangkan PAD serta peningkatan kesejahteraan terhadap masyarakat yang ada di sekitarnya.

“Ini kan pemborosan karena anggaran yang dikucurkan ke proyek tersebut, tidak tanggung-tangung, tetapi belum ada kontribusinya,” kata Hamdani.

Disebutkan, Pemkab Aceh Tengah, pada tahun 2008 lalu, kembali meluncurkan proyek Ketapang II, sementara proyek peternakan Ketapang I tidak jelas hasilnya. Idealnya, tambah Hamdani, Pemkab yang mencanangkan proyek Ketapang II itu, seharusnya menuntaskan proyek peternakan Kepatang I hingga berhasil baru meluncurkan peternakan Ketapang II.

Ditambahkan, menyangkut dengan perkembangan sapi bali di peternakan Ketapang juga tidak ada kejelasan. Belum lagi sarana air bersih, pakan ternak, serta petugas terkait baik tenaga medis kesehatan ternak maupun petugas di Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Ketapang yang saban tahun berganta-ganti.

“Untuk itu, pihak DPRK Aceh Tengah, maupun DPRA, turun ke lokasi peternakan Ketapang untuk mengevaluasi mega proyek milik Pemkab Aceh Tengah itu, tegas Hamdani. (jd)
sumber: http://analisadaily.com

This entry was posted in Berita, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *