PERNIKAHAN MASSAL LINTAS AGAMA, INDONESIA KECIL DI ISTORA

SENAYANKisah cinta berliku dialami Sukma Setyawati dan Simanjuntak. Pasalnya, hubungan asmara yang bersemi di hati mereka sejak sebelas tahun lalu sempat ditolak keluarga mereka lantaran perbedaan agama.

Simanjuntak berasal dari Medan dan memeluk agama Kristen, sementara Sukma dari Ciamis penganut Islam. Setelah menikah secara Kristen, mereka diusir dari rumah orang tua dan kini tinggal di sebuah kamar kos ukuran 3×4 meter bertarif Rp 150.000 per bulan di daerah Gondangdia, Jakarta.

Sukma saat itu bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik tekstil di Bogor, tapi kini ia jadi joki “Three in One” di seputaran Thamrin, Jakarta. “Kalau sudah cinta aku rela pergi ke mana saja,” ujar Sukma tersenyum malu mengenang kembali kisahnya. Baginya, menganut agama apapun tak masalah, yang penting cintanya bisa tetap dipertahankan.

“Jadi sebenarnya kami sudah nikah gereja, cuma surat dari catatan sipil belum punya,” ujar Simanjuntak. Ketika itu ia kesulitan membuat akta nikah di catatan Sipil karena terbentur biaya dan persyaratan adiministrasi. “Waktu itu saya belum punya KTP karena jadi anak jalanan. Pada waktu itu saya diminta nunjukkin surat keterangan pindah dari Medan dan harus membayar Rp 15.000,” lanjutnya. Sekarang Simanjuntak jadi pengamen, dan biasa bermain gitar di Gereja Oikumene di Jakarta Pusat, dengan penghasilan Rp 30.000-Rp 50.000.

Selasa (19/7), di Istora Senayan Bung Karno, Jakarta, Sukma dan Simanjuntak terlihat serasi dengan kostum pengantin warna oranye. Dengan riasan sederhana, garis keriput di kening Simanjuntak maupun di tulang pipi Sukma menampakkan bahwa mereka mulai menjalani masa tua bersama. “Saya berterima kasih bisa ikut dalam nikah massal ini. Asal ada surat dari catatan sipil sudah senang banget,” ungkap Simanjuntak.

Sepasang pengantin dari Tanjung Priok, Rahman dan Sumirah, juga mengucapkan rasa syukurnya kepada Tuhan. “Kami bersyukur kepada Tuhan yang telah menjawab doa kami. Dengan pernikahan ini, kami dapatkan buku nikah,” kata Rahman yang berusia 86 tahun.

Kebahagiaan Simanjuntak-Sukma dan Rahman-Sumirah melengkapi kebahagiaan 4.541 pasang pengantin masyarakat prasejahtera dari agama Islam, Kristen, Katolik, Buddha, dan Hindu yang dinikahkan secara massal hari itu.

Peserta berasal dari kelompok masyarakat miskin yang tidak punya akses dan kemampuan memenuhi administrasi kependudukan termasuk buku/akta nikah (marriage certificate). Bahkan, ada yang sudah punya cucu tapi belum mampu memiliki buku/akta nikah. Dalam acara ini, pasangan pengantin termuda berusia 16 tahun dan tertua berusia 86 tahun.

Kaya Hati Kaya Materi

Suasana kehidupan seperti “Indonesia Kecil” inilah yang ingin dikembangkan menjadi suasana Indonesia sepenuhnya oleh Yayasan Pondok Kasih sebagai penyelenggara, dan Stasiun B Channel sebagai media anchor, dan mitra kerja seperti Keluarga Indonesia Sejahtera, Tim Partisipasi Penanggulangan Kemiskinan, serta Pemerintah DKI Jakarta.

“Yang lebih penting, acara ini untuk memberikan identitas dan harga diri kepada peserta nikah massal tersebut,” kata Sofia Koswara, Direktur Utama stasiun televisi B Channel. “Dalam masyarakat kita dan masyarakat dunia, banyak sekali orang yang kaya materi, tapi sedikit yang juga kaya hati untuk peduli pada orang miskin. Kaya materi dan kaya hati adalah kombinasi yang dahsyat untuk mengentaskan kemiskinan di muka bumi ini,” lanjut Sofia.

Semangat yang sama juga disampaikan Hana Ananda atau yang juga dikenal sebagai Bunda Theresa dari Indonesia. “Kami sudah puluhan tahun menangani orang-orang miskin di kolong-kolong jembatan, di tempat-tempat pembuangan sampah, atau di kantong-kantong kemiskinan lainnya,” ungkapnya. Hana menambahkan, sekalipun di mata manusia orang dari kalangan bawah itu dianggap sampah, tapi di mata Tuhan mereka adalah permata yang berharga. Kata kuncinya adalah kepedulian, lanjutnya.

Pernikahan massal lintas agama ini adalah yang pertama kali dilakukan dan yang terbanyak jumlahnya. Acara ini memecahkan rekor dunia dan dicatat oleh Royal World Records yang berkedudukan di Inggris. Selain dapat memenuhi hak-hak administrasi kependudukan mereka, kegiatan ini juga jadi sarana mengingatkan masyarakat akan Pancasila yang tercermin dari peserta yang berasal dari lima agama di Indonesia.

Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Irman Gusman menegaskan, nilai-nilai Pancasila tidak akan kukuh jika tidak ada saling peduli dan bekerja sama. Sebab, keutamaan nilai Pancasila adalah ideologi pemersatu bangsa. “Dari perjalanan panjang sejarah bangsa ini, telah terbukti Pancasila mampu mempersatukan perbedaan yang fundamental dalam masyarakat, yakni perbedaan agama, suku, etnis, dan budaya,” lanjutnya. (CR-19)
sumber: http://www.sinarharapan.co.id

This entry was posted in Berita, Cerita (Turi - Turin). Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *