PENGUSAHA SAWIT “MAKAN” UANG BNI RP129 MILIAR

Bank kembali dibobol miliaran rupiah. Kali ini, menimpa Bank Negara Indonesia (BNI) 46 wilayah Medan. Sebanyak Rp129 miliar dana milik lembaga keuangan plat merah ini mengalir kepada seorang pengusaha sawit dengan agunan tidak jelas.

Fakta ini muncul dari ge­dung Kejaksaan Tinggi Suma­tera Utara (Kejatisu) Jalan AH Nasution, Kamis (21/7). Aparat pengacara negara tersebut kini sedang menyidik dugaan ko­rupsi penyimpangan kredit di Bank BNI 46 tersebut.

“Hasil ekspos bersama de­ng­an tim, hari ini (Kamis,red) me­naikkan status penyelidikan dugaan penyaluran kredit ber­masalah ke tingkat penyidi­kan,” ucap Kepala Kejatisu AK Ba­suni Masyarif saat menggelar pertemuan kepada wartawan di kantornya.

Basuni mengatakan dugaan penyimpangan pengucuran kre­­dit itu muncul setelah pi­haknya memeriksa pejabat BNI yang berkompeten dalam pe­nyaluran Kredit Sentra Mene­ngah 2010. “Kita sudah angkat ke dik, dan segera ada penetapan tersangka,” kata Basuni namun enggan menyebut nama pejabat BNI yang akan dijadikan tersangka.  Dijelaskannya, du­ga­­an penyimpangan berupa pe­nyaluran kredit tanpa mela­kukan survei terhadap syarat pencairan kredit, agunan, laporan keuangan dan lainya.

Meski syarat, namun kredit sudah dicairkan. Oleh karena itu, Kejatisu akan menggandeng Badan Pemeriksa Ke­uang­an Pembangunan (BPKP). “Kita akan segera meminta per­hitungan ke BPKP untuk menghitung nilai kerugiannya,” ucapnya lagi.

Asisten Intelijen Kejati Su­mut, Andar Perdana Widiasto­no menambahkan, kasus ini ber­awal dari laporan masya­rakat. Di mana, ada penyimpangan dalam proses pembe­rian kredit di BNI 46 Cabang Medan.

Kronologisnya, pengajuan kredit investasi itu diajukan pengusaha BH sekaligus direktur PT BDL yang bergerak di perkebunan kelapa sawit swasta. BH mengajukan kredit pada 8 November 2010 sebesar Rp 133 miliar untuk pengembangan investasi sebuah lahan kelapa sawit seluas 3.400 hektare di daerah Aceh Timur.

Lahan itu dibeli BH dari PT AC. Setelah melewati proses administrasi, kantor BNI Pusat hanya menyetujui kredit Rp129 miliar dengan syarat prosedur harus dipenuhi keseluruhan.

Kebun sawit ribuan hektar itu juga harus menjadi agunan ke BNI 46 Cabang Medan. Na­mun dalam penyelidikannya ter­masuk kepada Direktur PT AC, ternyata BH belum membeli lahan seluas 3.400 hektar tersebut.

Meski begitu, BNI 46 cabang Medan tetap menyalurkan kre­dit kepada BH hingga Rp118 miliar. Sedang sisanya Rp11 mi­liar masih dalam penyaluran. “Dari Rp 129 miliar kredit yang disetujui, Rp 118 miliar sudah cair, sedang Rp11 miliar dalam tahap penyaluran.

Pengajuan kredit itu dianggap menyalahi prosedur. Kita juga mencurigai keterlibatan pihak bank, meloloskan kredit ini,” jelas Andar mengakhiri.
Medan | Jurnal Medan | Medan | Jurnal Medan
sumber: http://medan.jurnas.com

This entry was posted in Berita, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *