EKSPOR SAYURAN SUMUT ANJLOK

MEDAN – Nilai ekspor holtikultura terus mengalami penurunan. Selain akibat melimpahnya hasil panen komoditi serupa di negara China beberapa bulan terakhir yang berakibat terhadap ditinggalkannya holtikultura Sumut oleh Jepang dan Taiwan, adanya kartel perdagangan untuk komoditi kol membuat nilai ekspornya juga menurun.

Adanya kartel tersebut, membuat petani holtikultura asal Tanah Karo tak mampu menentukan harga produksi mereka. Ironisnya lagi, penetapan harga justru ditetapkan oleh importir asal Singapura yang diberikan setelah produknya terjual kembali di negara tersebut.

“Jadi mau tidak mau petani kita harus mengikuti harga yang ditetapkan mereka. Selain itu, pelaku kartel tersebut memang unggul segalanya, baik fasilitas, teknologi hingga pemasaran,” jelas Kepala seksi Hasil Pertanian dan Pertambangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumut, Fitra Kurnia kepada Tribun, Rabu (20/7) di Medan.

Ia mengaku, Pemprov Sumut sudah berusaha mengurangi pengaruh kartel komoditi sayur-sayuran dan bekerjasama dengan pemerintah Singapura. Kerjasama ini pun sempat berjalan sewaktu negara China mengalami gagal panen dan Singapura kekurangan pasokan sayur.

“Kita diuntungkan saat itu, soalnya kita butuh pemasaran ekspor dan mereka juga perlu sayur. Tapi cuma berjalan cuma 7 sampai 8 bulan,” tambah Fitra. Ia mengaku untuk mengikis praktik kartel, produsen holtikultura Sumut harus benar-benar mempersiapkan fasilitas. Jika ingin menyaingi, petani Sumut harus memilikiĀ  fasilitas juga, khususnya penanganan pascapanen.

“Kemarin kita studi banding ke sana, harga kol di pasar Singapura bisa mencapai dua kali lipat,” jelasnya. Namun ia mengatakan, belakangan ini beberapa petani di Tanah Karo sudah mendirikan kelompok usaha bersama. Mereka membuatĀ  fasilitas serupa di Batam, sehingga harga jualnya menjadi naik.

Sementara itu, meski sebelumnya penurunan nilai dan volume ekspor hortikultura asal Sumatera Utara ke luar negeri diklaim akibat terhambatnya perdagangan pasca terjadinya bencana gempa dan tsunami yang terjadi di Jepang pada, namun hingga akhir bulan lalu, penurunan nilai dan volume perdagangan salah satu komoditi unggulan asal Sumut ini terus anjlok.

Tercatat, dalam tiga bulan terakhir nilai ekspor holtikultura Sumut terus menurun. Pada bulan April komoditas hortikultura nilai ekspornya menurun sekitar 21 persen, sementara bulan Mei terjadi penurunan sekitar 29,50 persen bila dibanding secara total dari nilai ekspor dari awal tahun. Dan, pada bulan Juni, nilainya kembali anjlok sebesar 36,9 persen, atau penurunan tertinggi sepanjang tahun ini.

Secara year on year, penurunan ekspor komoditas yang sempat menjadi unggulan Sumut ini juga berkurang, di mana pada Juni 2010 volume ekspor mencapai 2,8 ribu ton dengan nilai transaksi sebesar 2,2 juta dolar AS, maka pada Juni 2011 volumenya hanya 705 ton dengan nilainya hanya mencapai 628 ribu dolar AS.

Dengan demikian, jenis komoditi yang terdiri dari cabai kering, kacang tanah, asam jawa, dan bibit tanaman serta sayur-sayuran sepanjang tahun ini baru meraih angka 14,2 ribu ton dengan nilai transaksi sebesar 7,8 juta dolar AS.

“Produksi holtikultura China melimpah ruah, meski beberapa waktu lalu sempat gagal panen. Jadi negara seperti Jepang dan Taiwan lebih memilih China daripada Sumut. Selain karena jarak yang dekat, harganya juga lebih murah,” jelas Fitra.(ers)
sumber: http://medan.tribunnews.com

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *