DITUNTUT 3,5 TAHUN PENJARA

Ketua Gabungan Kelom­pok Tani (Gapoktan) Sri Rejeki, Parmo (52) dituntut 3 tahun 6 bulan penjara dalam perkara ko­rupsi dana Bantuan Lang­sung Masyarakat-Pengemba­ngan Usaha Agribisnis Pede­saan (BLM-PUAP) Kabupaten Langkat yang dikucurkan tahun 2009.  Selain penjara, warga De­sa Pasir Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat itu juga dituntut membayar denda sebesar Rp 50 juta subsider 3 bulan penjara dan mengganti kerugian negara sebesar Rp 69 juta subsider 3 bulan penjara.

“Apabila denda dan pengganti kerugian negara tidak dibayar selama sebulan, maka dilakukan sita terhadap harta benda terdakwa,” kata Jaksa Pe­nuntut Umum (JPU) Bintang Simatupang dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Rabu (20/7).

Di hadapan majelis hakim diketuai Jonny Sitohang SH, penuntut umum mengatakan, berdasarkan keterangan saksi di persidangan, terdakwa ber­salah karena melakukan tindakan dengan tujuan menguntungkan sendiri dalam pengelolaan dana BLM-PUAP Ka­bupaten Langkat yang dikucurkan tahun 2009 sebesar Rp 100 juta.

Terdakwa mengakui dana yang tidak disalurkan sebesar Rp 69 juta digunakan untuk kepentingan pribadi. Perbuatan terdakwa melanggar pasal 3 jo 18 ayat 1,2,3 Undang undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Undang-undang No­mor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Tuntutan itu disampaikan setelah pemeriksaan terhadap saksi-saksi dan terdakwa, bah­wa benar dana Rp 100 juta yang disalurkan tidak diba­gi­kan kepada 10 kelompok tani di bawah Gapoktan Sri Rejeki, Kelompok tani (Poktan) Tunas Mekar, Tunas Muda, Tunas Ba­ru, Sepakat, Bung Harapan, Se­kata, Kuntum Mekar, Sadar dan Poktan Maju Bersama. Akan tetepi, dana yang disalurkan me­lalui rekening Gapoktan Sri Rejek pada 2 Desember 2009 itu, dibagi-bagi kepada anggota Gapoktan Sri Rejeki sebesar Rp 25.835.000.

Sisanya sebesar Rp 69. 165.000 diakui terdakwa digunakan untuk modal usaha dan Rp 5 juta masih tersimpan di rekening.

Majelis hakim menunda sidang selama dua minggu untuk pembelaan dari penasihat hukum terdakwa.

Dituntut 3 tahun 6 bulan penjara, Parmo hanya pasrah pada hukum yang menjeratnya. “Saya pasrah, saya tak mengerti hukum,” katanya.
Edward | Medan | Jurnal Medan
sumber: http://medan.jurnas.com

This entry was posted in Berita, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *